
Bibir Acasha tersungging manis, dia memalingkan wajahnya dengan mata terpejam. Terlihat pipinya memerah dan aku merasa bahagia.
"Aku percaya padamu, Tuan," ujar Acasha dengan seulas senyum dan suara yang begitu lembut.
"Tuan?" kataku mengernyit.
"Aku akan tetap memanggilmu Tuan sebagai penghormatanku padamu."
Ah, aku semakin tidak mengerti dengan Acasha. Kenapa dia memanggilku dengan sebutan Tuan?
Tidak ingin hanyut dalam keheranan, aku memandang wajah Acasha yang sempurna. Menghabiskan waktu dalam kamar hanya berdua walau mata Acasha terpejam.
"Tuan, aku ingin sekali melihatmu. Namun dengan meraba bagian wajah Tuan, aku yakin kalau Tuan merupakan Pangeran yang ada dalam mimpi. Kau nyata, Tuan. Aku bahagia. Aku tidak menyesal selama ini banyak menolak pinangan raja muda dari kerajaan tetangga."
"Kau senang dengan keadaan seperti ini?" Aku menyelipkan rambut panjangnya ke telinga.
Acasha mengangguk, lagi-lagi senyum itu melebar, seolah menjadi candu bagiku. Debarku semakin membuncah ketika melihat seraut wajah cantik di hadapan. Aku terlena.
"Really?" Aku mempertegas pertanyaan.
"Iya. Aku begitu bahagia walau tidak melihatmu, Tuan. Jemariku telah meraba bagian wajah Tuan dan aku yakin wajah Tuan Cleon sama dengan Pangeran yang ada dalam mimpiku."
"Walaupun kau harus menutup mata ketika bertemu denganku?"
"Iya. Asal Tuan bisa menemuiku, aku bersedia menutup mata."
"Boleh aku menggenggam tanganmu?"
"Silahkan," jawabnya seolah grogi ketika menjawab pertanyaan dariku.
Entah kenapa aku begitu sopan padanya. Padahal, dari atas sana, tidak pernah diri ini untuk minta izin pada wanita-wanita. Mereka malah dengan tulus menawarkan tubuh indahnya untukku.
Hal ini juga yang membuat Damien seolah membenciku. Aku merupakan aib para dewa katanya. Kelakuanku sama sekali tidak mencerminkan kehormatan seorang dewa.
Akan tetapi, sikapku masa bodoh. Apa yang dapat membuatku senang, aku akan melakukannya. Yang penting, aku tidak pernah mengganggu dewa lain dan tentunya aku tidak ingin mengetahui aktivitas mereka.
"Tuan," panggil Acasha yang cukup membuatku terperanjat.
"Iya."
"Aku lupa. Hari ini aku berjanji pada Hazzel untuk mengajaknya jalan-jalan di hutan belakang istana," katanya yang membuat hati merasakan perasaan yang berbeda.
Degupku kencang, tetapi tidak bahagia. Hatiku terasa panas dan darah seolah mendidih ketika Acasha hendak pergi bersama kudanya. Bagaimana tidak? Hazzel itu ternyata jelmaan lelaki yang cukup tampan.
"Tuan? Kamu masih di sini?" tanya Acasha karena jemarinya kulepaskan ketika dia mengungkapkan janjinya pada Hazzel.
"Iya."
__ADS_1
Acasha tersenyum, jemarinya seolah mencari dan aku meraihnya kembali agar dia tenang.
"Pergilah, jangan biarkan kudamu menunggu lama," kataku walau hati merasa berat.
"Dari mana Tuan tau kalau Hazzel itu seekor kuda?" Mata Acasha mengernyit, sepertinya dia heran karena aku mengetahui tentang Hazzel.
Mati!
Hening.
Aku masih bingung untuk menjawab, sedangkan Acasha terlihat sabar menungguku untuk menerangkan sesuatu.
"Tuan?" Lagi, Acasha memanggilku.
"Aku harus pergi, ada hal yang harus kuurus di luar sana."
"Sayang sekali. Tadinya aku ingin mengenalkan Tuan pada Hazzel." Raut kecewa sungguh terlihat. Bibirnya ditekuk dengan wajah tertunduk.
Aku meraih wajahnya, kemudian mengangkatnya. Kini wajah Acasha sangat terlihat jelas. Aku mendekatinya kemudian bibir ini meluncur di pucuk kepalanya yang membuat bibir Acasha sedikit menganga ketika aku melepaskan kecupan hangat yang terjadi dalam waktu beberapa detik saja.
"Mungkin lain kali kita bertemu. Aku pergi," pamitku lalu kuusap pipi lembut Acasha.
Aku bangkit dari ranjang. Sesungguhnya merasa berat untuk meninggalkannya. Aku masih ingin bersamanya.
Aku melangkah mendekati jendela. Ya, aku mendekati jendela karena di sinilah, tempat paling aman untuk keluar ketika menjelma menjadi seekor elang atau kupu-kupu kecil.
"Kapan kita kembali bertemu?" kata Acasha lagi.
"Lusa."
"Aku ingin kepastian!" tegasnya.
Aku menyunggingkan senyum. Rupanya Acasha begitu mencintaiku. Tidak sia-sia panah emas ini menembus dadaku.
Aku kembali berjalan kemudian duduk di tepi ranjang. Kuraih jemari lentik itu dan kembali kukecup hangat.
"Terserahmu," ucapku ketika bibir telah terlepas dari jemari Acasha.
"Benar? Terserah aku, Tuan?" Acasha seolah ragu, dia terlihat meminta kepastian.
"Iya."
"Nanti malam akan ada bulan purnama. Aku ingin Tuan datang ke kamar ini dan kita menghabiskan waktu di balkon kamar," pintanya dengan ekspresi penuh harap.
Secepat itu kah Acasha jatuh cinta padaku?
"Baiklah, nanti malam aku akan datang. Tepat ketika sang rembulan membulat sempurna."
__ADS_1
"Aku pegang janjimu. Aku akan menutup mata ketika melihat bulan telah bulat sempurna," katanya dengan seulas senyuman.
"Ya sudah, aku pamit, ya?"
Acasha mengangguk dengan bibir kembali merekah.
"Hati-hati, Tuan!" ujar Acasha dengan senyum penuh di bibir merahnya.
Aku berjalan keluar dan membuka kaca jendela yang langsung memberikan panorama indah dari atas istana ini. Melihat ke sekeliling istana yang dikelilingi pohon pinus dan seolah dipagari oleh sungai-sungai dengan aliran air jernih.
Aku mengubah kembali tubuh menjadi seekor kupu-kupu biru. Jujur saja, aku tidak rela Acasha berdua-duaan dengan si kuda putih Hazzel.
Acasha terlihat membuka mata dan berjalan menghampiri jendela, dia mendekat dengan lenguhan lemas.
"Tuan, aku tidak mengenalmu. Tetapi, kenapa ketika tadi kau mengecup pucuk kepala ini, aku begitu bahagia," kata Acasha dengan mata terpejam, seolah kembali membayangkan. Sedangkan tangannya masih memegang jendela kamar yang masih terbuka.
*
Suasana hari ini cukup terasa dingin. Acasha meraih mantel bulu warna putih yang cukup tebal. Dia memakainya kemudian bersiap untuk keluar kamar.
Tanpa sepengetahuan Acasha, aku terbang dengan menjaga jarak cukup jauh darinya.
Acasha terlihat bangkit dari meja riasnya. Rambut yang diikat separuh dan masih terlihat tergerai panjang nan hitam, begitu kontras dengan baju mantel yang dia kenakan hari ini.
Kaki Acasha terayun mendekati pintu kamar kemudian menuruni banyak anak tangga untuk sampai pada kandang kuda miliknya.
"Tuan Putri mau kemana?" tanya seorang pria dengan berpakaian besi layaknya prajurit.
"Aku hendak menemui Hazzel karena aku ingin mengajaknya berjalan-jalan di sekitar istana," jawab Acasha lembut.
"Apakah perlu ditemani?" ujar si prajurit.
"Tidak usah. Jaga saja pintu gerbang. Bukankah tugasmu seperti itu?" tanya Acasha seolah penolakan keras untuk diantar.
"Baik, Tuan Putri."
Acasha kembali berjalan ke halaman belakang istana kerajaan. Sedangkan aku hanya mengintainya dari jarak yang cukup jauh.
Si4l! Tampaknya Hazzel terlihat bahagia ketika Acasha datang kemudian mendekatinya.
Di sana terlihat Hazzel yang langsung bangkit ketika melihat Acasha mendekatinya. Acasha memeluk kemudian menempelkan wajahnya dengan pipi Hazzel, persis seperti dulu ketika awal aku bertemu dengannya. Aku tidak suka!
Aku memilih terbang dan menjauh dari Acasha. Pengecut. Mungkin kata itu yang pantas tersemat untukku.
Aku terbang hingga menembus langit beserta awan-awan tebal yang menggantung.
Untuk apa aku sampai pergi sejauh ini? Ya Tuhan, aku benar-benar pengecut!
__ADS_1