CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Putri Acasha Adaire


__ADS_3

Memilih berjalan untuk menikmati indahnya suasana perkampungan. Kaki melewati hutan belantara yang ditumbuhi oleh pohon-pohon tinggi nan rimbun. Serta masih banyak hewan-hewan kecil sampai buas di dalam sana.


Menginjak ranting kering dan mencium aroma lumut dari kayu yang lapuk karena tumbang. Suara binatang buas pun sempat singgah di telinga.


Hingga akhirnya langkah ini telah sampai di sebuah perkampungan terpencil di tepi hutan. Rumah-rumah kecil penduduk berdiri dan berjajar rapi sepanjang jalan. Gemericik air sungai mengalir bak simfoni romansa.



Tiba-tiba saja aku melihat seseorang yang sedang berdiri di tepi danau. Dia membelakangiku mengenakan baju berwarna putih dan memegang payung dengan warna senada.


"Spend all your time waiting


For that second chance


For a break that would make it okay


There's always some reason


To feel not good enough


And it's hard at the end of the day


I need some distraction


Oh a beautiful release


Memories seep from my veins


Let me be empty


Oh and weightless and maybe


I'll find some peace tonight


In the arms of the angel


Fly away from here


From this dark cold hotel room

__ADS_1


And the endlessness that you fear


You are pulled from the wreckage


Of your silent reverie


You're in the arms of the angel


May you find some comfort here."


Gadis itu bernyanyi lirih, seolah ada yang dia simpan dalam hati. Aku hanya dapat melihat punggungnya dengan rambut hitam lurus terurai panjang.


"Putri Acasha!" seru seorang pria berbaju prajurit. Bertubuh tegap dengan wajah yang terlihat garang.


Wanita itu membalikkan tubuhnya dan aku dapat melihat cukup jelas menguntit dari balik pohon pinus.


"Iya?" jawab wanita itu dengan suara lembut seperti nyanyian yang baru saja dia nyanyikan.


"Sang Raja menyuruh Putri untuk bersiap. Sebentar lagi akan ada pangeran dari kota sebelah," ujarnya menjelaskan.


Aku mengubah tubuh ini menjadi kupu-kupu warna biru untuk bisa mendekat ke arahnya. Jujur saja, aku tertarik ingin lebih jelas melihat wajahnya.


"Baiklah, saya sampaikan." Prajurit itu kembali dengan seekor kuda berwarna cokelat yang gagah.


Ketika aku berpapasan dengan prajurit yang membawa pedang panjang di punggungnya. Kuda yang dia tumpangi terlihat gelisah, bahkan si prajurit hampir saja terjatuh dari tunggangannya. Mungkin dia tahu, kalau aku menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang cantik untuk mendekati putri kerajaan.


Kenapa harus menjadi seekor kupu-kupu? Satu alasanku, agar bisa leluasa menatap wajahnya.


Putri itu duduk di tepi danau, tangannya mulai memainkan air yang bening sebening kristal, bahkan yang ada di dalamnya dapat terlihat. Ikan berenang, batu-batu kecil yang terlihat halus serta banyak lagi binatang yang air di dalam sana.


"Kupu-kupu?" ucapnya ketika aku terbang di atas danau, tepat di hadapannya.


Tangan putih itu mengulur ke arahku dan jemari lentiknya seakan menyuruhku untuk singgah di situ. Tanpa menunggu waktu, kaki-kaki kecil ini menghinggapi di salah satu jari lentiknya. Dia tersenyum ketika sosok kupu-kupu telah singgah bahkan mengepak-ngepakkan sayap mungilnya.


"Cantik sekali," ucapnya dengan senyum termanis.



Aku kini dapat melihat jelas. Rupanya memang rumor dari dewa-dewi di atas sana benar adanya. Dia terlihat cantik --sangat cantik. Kecantikannya sebagai manusia memang tidak terbantahkan. Pantas saja Ibu cemburu, walau dia tidak mengungkapkannya dengan gamblang, tapi aku bisa melihat dari ekspresinya. Terlebih, dia sampai turun ke bumi hanya untuk memastikan pekerjaan yang diberikannya padaku.

__ADS_1


Aku bermain-main dengannya, melihat senyum yang tergaris indah di bibir merah muda, bahkan tawa yang kini mulai terdengar.


"Kupu-kupu, kamu sangat beruntung. Kamu cantik dan bebas terbang kemanapun. Sedangkan aku --" ucapnya terhenti dan wajahnya terlihat murung.


Si4l! Baru saja aku melihat wajah cantik itu tersenyum bahkan tertawa. Kenapa dengan sekejap, rasa yang dia miliki berubah?


Terlihat air bening hendak menerobos dari tanggul pertahanan sang putri. Aku terbang ke ujung kelopak mata yang cantik. Sepertinya dia tahu, kalau aku bermaksud ingin menyapu air mata yang sudah cukup terlihat. Bibirnya kini tersenyum ketika kepakan sayap kecil dan lembut ini mengusap pipinya yang halus selembut sutra.


"Kamu mengusap air mataku, terima kasih. Mungkin kamu makhluk yang paling mengerti keadaanku saat ini," ucapnya dan kembali mengulurkan tangan memberi sinyal untuk aku hinggap kembali di tangannya.


Aku pun kembali terbang kemudian kembali hinggap di jemari lentiknya. Terlihat bibir itu tersungging manis menambah kesempurnaan cantik yang tiada tara bagiku.


Tuhan, kenapa ada yang berbeda dengan perasaanku? Rasa yang aneh, bahkan baru kali ini aku merasakannya. Degup jantung yang semakin kencang. Kenapa rasa ini begitu asing bagiku? Begitu banyak dewi-dewi cantik di atas sana, tapi aku belum pernah merasakan hal seperti ini. Rasa yang tidak dapat kutulisakan, bahkan begitu sulit untuk kuutarakan. Apakah ini yang dimaksud dengan cinta? Bagaimana mungkin cinta ini hadir tanpa kulesatkan panah yang kupunya di jantung ini? Aneh.


Cukup lama kami bermain di tepi danau. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke istana. Ada raut sedih dari wajahnya ketika dia berdiri kemudian membawa payung putihnya.


"Kupu-kupu, aku pulang, ya. Ayah bisa murka kalau saja aku terlambat untuk menghadiri perjamuan nanti malam," ucap putri cantik itu. Aku hanya mengepakkan sayap mungil ini untuk mengiyakan.


"Esok aku kembali, kamu jangan menghilang, ya?" ucapnya dengan ekspresi penuh harap.


Aku mengikuti gadis itu hingga ke salah satu pohon pinus, langkahnya terhenti. Apa dia sadar kalau aku mengikutinya?


Oh, ternyata dia membawa seekor kuda putih yang talinya diikat ke pohon pinus. Kuda itu terlihat anggun dengan bulu putih yang menurupi seluruh tubuh, bak salju yang bersih dan lembut ketika melihat bulu-bulu di tubuhnya.



Kuda itu kembali terlihat gelisah ketika aku terbang di atas pundak sang putri.


"Kamu kenapa Hazzel?" Rupanya kuda ini bernama Hazzel, mungkin dia bermaksud ingin melindungi tuannya dari makhluk asing sepertiku. Entah.


Kuda itu terlihat semakin gelisah tatkala aku hinggap, tepat di bahu sang putri.


"Hazzel, tenang. Tenang, Hazzel." Putri itu berusaha menenangkan kudanya.


Sepertinya sang putri sadar ketika aku terbang tepat di hadapannya. Bibir itu kembali tersungging manis membuat Hazzel menghentikan aksi kemarahannya.


"Ini kupu-kupu biru, teman baruku. Kamu belum kenal, ya? Dia baik Hazzel. Dia tahu rasa yang kurasa saat ini, sama sepertimu. Kalian berdua merupakan teman yang aku sayang." Putri Acasha memeluk pundak kuda putih itu kemudian merapatkan wajahnya dengan wajah Hazzel.


Sangat terlihat keakraban dari keduanya. Ikatan persahabatan antara tuan dengan hewan peliharaannya.

__ADS_1


'Aku tahu kamu bukan kupu-kupu biasa, wahai Tuan!' Hazzel menyapaku dengan suara kuda yang terdengar oleh Acasha. Namun, aku dapat mendengar dengan jelas ucapan dari Hazzel. Rupanya dia tahu kalau aku bukanlah dari golongan manusia. Instingnya cukup bagus, dia mengetahui siapa aku. Walau sepertinya, dia belum mengetahui kalau akulah si Dewa Asmara. Dewa Cinta yang diutus ke bumi untuk memanah busur ini pada majikannya.


__ADS_2