CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Firasat


__ADS_3

Hujan turun sangat lebat yang disertai kilatan petir dan angin kencang. Aku dan Acasha terperangkap dalam ruang kosong.


Malam yang semakin larut yang disertai hujan deras membuat tubuh Acasha menggigil.


Aku menciptakan tungku di dalam sini dengan nyala api sedang, cukup memberikan kehangatan pada tubuh Acasha.


"Kau merasa lebih baik?" tanyaku ketika tubuhnya tidak lagi bergetar.


"Iya. Aku jauh lebih baik, Tuan."


"Ke marilah." Aku meraih tangannya dan mengarahkan ke depan tungku perapian.


"Di sini terasa hangat, terlebih ketika Tuan memelukku," katanya yang semakin mengeratkan tanganku di perutnya. "Bolehkah aku membuka penutup ini, Tuan?" Acasha menunjuk pada sehelai kain putih.


"Iya, kenapa tidak? Sini, biar aku bantu."


Aku melepaskan sehelai pengikat yang menutupi sepasang mata Acasha.


"Tuan, kenapa di sana ada tungku perapian? Sepertinya, tadi ketika aku masuk, dalam ruangan ini kosong," katanya yang terdengar heran.


"Kau lupa kalau aku seorang dewa?"


Acasha terdengar sedikit tertawa.


"Maaf, yang selalu kuingat, Tuan itu kekasihku dan sampai kapanpun, selalu menjadi belahan jiwaku. Apakah aku boleh meminta sesuatu padamu, Tuan?" tanya Acasha dengan nada yang begitu lembut terdengar.


"Apa itu?"


"Tuan harus selamanya denganku. Meski mungkin, suatu saat wajahku tidak secantik ini. Mungkin saja, wajahku mulai mengendur dan berkeriput. Tuan bisa berjanji?" Acasha mengacungkan jari kelingkingnya dan aku mengaitkannya. Posisi Acasha saat ini berada di depanku, sehingga aku bisa memeluknya erat.


Aku tidak menjawab, hanya memeluk dan merapatkan tubuhku di punggungnya. Aku melabuhkan dagu di pundak Acasha. Menghirup wangi parfum perpaduan bunga dan vanila yang lembut. Tanganku menyibak rambut panjangnya, sehingga aku dapat melihat telinganya.


"Tidak usah kau meminta, Sayang," bisikku begitu pelan, tepat di telinganya.


Acasha menggenggam pergelangan tanganku dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya mengusap pipiku dengan lembut.


"Aku bahagia. Sungguh, ini merupakan kebahagiaan terbesar dalam sejarah hidupku," katanya kemudian menyenderkan kepalanya padaku.


Mataku tertuju pada leher jenjang Acasha yang terlihat putih dan tercium wangi. Perpaduan bunga dan vanila yang lembut membuat diri ini seolah lupa dengan tujuanku. Terlebih, bibirku dan lehernya hanya berjarak beberapa centi saja.


Perlahan aku mulai mendekat pada leher putihnya. Semakin dekat dan hampir merapat. Namun, kilatan petir berhasil membuyarkan pikiranku yang sudah lebih jauh beraksi dibandingkan gerak tubuh ini.


Petir menggelegar mengakhiri semua khayalan yang ada dalam diri. Khayalanku ketika mencumbu mesra leher putih Acasha dan sedikit menyesap bak kopi dalam cangkir hingga membuat sedikit tanda merah di leher putihnya.

__ADS_1


Semua usai. Baik itu khayalan yang terlampau jauh pun dengan kenyataan yang memang tidak terjadi apa-apa di antara aku dan Acasha.


Acasha terlihat kaget. Tubuhnya sedikit gemetar kala suara petir yang menyambar dan menggelegar memekakan telinga.


"Tuan, aku takut," katanya lagi.


Segera kudekap tubuh Acasha erat-erat. Hingga tidak akan ada lagi yang dapat membuatnya takut ketika ada dalam dekapanku. Saling mengeratkan pelukan, hingga kamu larut di depan tungku perapian yang hangat.


Hujan berangsur mereda. Petir dan guntur berangsur menghilang kemudian berganti dengan ribuan bintang bercahaya. Awan hitam menghilang, walau masih menyisakan embun yang dingin malam ini.


"Kita pulang?" tanyaku pada Acasha.


Acasha menggeleng.


"Kenapa?" tanyaku bernada heran.


"Aku mau di sini bersamamu, Tuan."


"Tidak bisa, Sayang."


"Kenapa?"


"Di kerajaan akan heboh ketika pagi menjelang. Ketika pelayan yang biasa mengantarkan sarapan melihat kau tidak ada dalam kamar. Ayahmu pasti tau dan ibumu pasti akan bersedih."


Aku memegang kedua pipinya dan menatap wajah Acasha yang matanya tertutup kain.


"Tapi kenapa? Esok kita akan seperti ini lagi. Bahkan, bisa saja lebih," kataku mencoba meyakinkan.


Acasha membuang pandangan.


"Bukan aku tidak percaya terhadapmu, Tuan. Tetapi, entah kenapa hati ini meragu. Seolah, kau akan pergi jauh meninggalkanku," ucapnya lirih.


Ya Tuhan, kenapa dia tahu kalau aku memang akan pergi jauh. Aku akan menjauh darinya, tapi bukan bermaksud meninggalkannya.


"Kenapa kau bicara seperti itu?"


"Andai hati bisa bicara, mungkin dia akan mengungkapkan perasaanku hari ini, Tuan. Aku tidak tau, tapi hatiku merasakan kalau Tuan akan meninggalkanku. Jauh dan lebih jauh dariku," katanya dengan wajah yang terlihat menerawang.


"Itu hanya pikiranmu, Sayang. Buktinya, aku masih ada di dekatmu hingga kini," ucapku berusaha membuat dia tenang.


"Sekarang. Esok? Aku tidak tau," katanya yang seolah mengungkapkan kegelisahan di hatinya.


Entah dari mana firsat itu datang menghampiri Acasha. Padahal, aku sama sekali tidak pernah menceritakan tentang kepergianku untuk mencari apel emas padanya. Apa mungkin Hazzel yang bercerita?

__ADS_1


Hening.


"Tuan, kau tidak akan pergi jauh dariku, 'kan?" Acasha kembali bertanya.


"Kenapa kau bicara seperti itu? Apakah ada seseorang yang memberimu kabar?"


Acasha menggeleng.


Lalu, dari mana dia mengetahui tentang kepergianku nanti? Apakah ini yang dinamakan dengan ikatan batin kekasih? Apa dia benar-benar tulang rusukku?


Hujan benar-benar telah reda. Sepanjang malam, aku dan Acasha berdebat tentang aku yang diyakini akan berjarak dengannya. Aku akui, feeling dia terlalu kuat terhadapku. Sehingga, tanpa aku sebutkan, hatinya sudah lebih dulu menerka bahkan menebak semua yang memang akan benar-benar terjadi nanti.


"Ayok, pulang. Hari hampir pagi," ajakku lagi yang masih dengan bantahan dari Acasha. Dia masih menggenang ketika aku mengajaknya untuk pulang.


"Aku mohon, Tuan. Ceritakanlah apa yang memang akan terjadi di depan sana? Kau dewa. Mana mungkin kalau kau tidak mengetahui di depan akan terjadi apa? Terlebih, ini menyangkut kau, Tuan. Bukan dewa lain."


Sesungguhnya, aku ingin merahasiakan darinya. Akantetapi, desakannya yang tidak mampu aku bantah.


"Oke! Aku akan cerita semuanya padamu. Tapi--"


"Tapi apa?"


"Aku tidak ingin kau menjauh ataupun khawatir."


"Maksud, Tuan?"


Aku mulai bercerita tentang adanya apel emas di dalam lautan. Mungkin, bagi sebagian orang tidak akan percaya kalau pohon itu ada di dasar laut. Tetapi ini nyata, di bawah sana memang ada kehidupan lain, pun dengan pohon buah apel emas yang katanya hanya cerita legenda saja.


"Aku tidak mengizinkanmu ke sana!" bantah Acasha.


"Kenapa?"


"Lebih baik, kau urungkan niatmu dan kumohon untuk selalu tinggal bersamaku. Meskipun dengan mata yang tertutup sempurna seperti ini. Aku rela."


Aku terdiam. Cukup bingung untuk membantah ucapan Acasha.


"Sayang, apa kita bisa menjalani hidup seperti ini? Kita tidak mungkin hidup berdua dengan cara seperti ini."


"Maksudnya?"


"Kau normal, tidak buta. Apa kau tidak ingin memandang wajah suamimu ketika kau membuka mata saat bangun tidur? Apa kau tidak menginginkan untuk melihatku menggendong bayi ketika kelak kita dikaruniai anak? Dan yang pasti, kita hidup berdua tetapi seolah masing-masing bak orang asing. Apa kau mau, Sayang?"


"Aku lebih baik berada di fase seperti saat ini, daripada aku harus kehilanganmu untuk selama-lamanya," uacap Acasha. Wanita yang paling keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2