
"Tuan, bawa aku pergi. Aku tidak ingin menikah dengan orang lain." Acasha berucap lirih dalam pelukan.
Astaga, apa yang harus aku jawab?
"Kenapa pelukkanmu mengendur? Apakah kau tidak ingin mengajakku pergi, Tuan?" tanya Acasha yang sepertinya menyadari kalau aku sedang berpikir keras. Sehingga, tanpa sadar aku melonggarkan pelukkan.
"Aku bingung, Acasha."
"Kenapa? Ceritalah," pintanya yang kemudian melepaskan pelukannya.
Aku bingung harus memulai dari mana. Apakah Acasha akan menerima semua kenyataan ini? Aku benar-benar bingung harus menjelaskannya seperti apa.
Hatiku merasa gelisah, jiwaku seakan terbang entah ke mana dan bibirku terasa kelu ketika hendak berbicara. Aku terlalu takut kalau Acasha akan kecewa, kemudian meninggalkanku. Arrgghhh ... perasaan macam apa ini?
"Tuan, kenapa kau diam? Aku ingin mendengar penjelasan darimu. Aku ingin mengenal lebih jauh tentang siapa kekasih yang selama ini mengusik tidur dan hatiku. Aku ingin mengetahui asal-usulmu, walau mungkin mata ini harus terpejam seumur hidup ketika berdekatan denganmu. Aku rela."
Kata-kata Acasha membuat hati terasa nyeri. Mungkin di sini aku memang salah karena dulu merespons perasaannya terhadapku. Andai saja waktu dapat kuputar, sepertinya aku akan menolak keinginan Ibu untuk turun ke bumi dan memilih untuk menghabiskan sisa usia bersama wanita-wanita di istana atas langit.
"Aku yakin kau akan kecewa setelah melihatku. Wajahku buruk rupa."
Aku sengaja berbicara seperti itu, berharap Acasha akan membatalkan keinginannya.
Bibir Acasha tersenyum tipis.
"Aku tetap ingin melihatmu, Tuan. Aku berjanji tidak akan pernah pergi walaupun wajahmu buruk rupa. Asal--"
"Asal kenapa?"
"Asal kau tidak menipuku. Aku ingin melihat wajah aslimu, jangan coba membohongiku."
Acasha memang cerdas, baru saja aku hendak merubah diri menjadi lelaki paling buruk rupa supaya dia ilfeel. Tetapi, Acasha terlalu pintar untuk kubodohi. Sesungguhnya, bisa saja aku membohonginya. Namun, aku bukanlah lelaki yang ingkar janji. Aku harus menyanggupinya.
"Tapi, aku akan melemah ketika kamu melihatku," tuturku walaupun ragu.
"Why?"
Aku pun bercerita tentang asal-usulku yang bukan dari golongan manusia dan aku bukanlah penghuni bumi sepertinya.
"Kalau kau bukan manusia, berarti kau?" ujar Acasha terhenti.
"Iya. Aku merupakan seorang dewa."
Wajah Acasha terlihat datar. Entah, dia percaya atau tidak dengan cerita yang mungkin terdengar konyol baginya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, aku ingin melihatmu. Apakah sekarang aku boleh melepaskan penutup mata yang sudah cukup lama menghalangi pandanganku untuk melihatmu?"
"Sini, aku bantu untuk membuka penutup matamu."
Perlahan aku membuka kain sutra yang menutup mata Acasha. Sepasang mata indah itu masih betah memejamkan mata. Mungkin, Acasha menunggu aba-aba atau perintah dariku.
"Bukalah matamu," titahku.
Posisi kami masih berdiri di dekat balkon kamar. Angin mengusap lembut wajah dan tubuhku. Hingga akhirnya sepasang mata indah Acasha kini menatapku.
"Tuan?" Acasha mengusap pipi, kening, turun ke hidung hingga berhenti di bibir.
"Kau nyata, Tuan. Kau benar-benar sama seperti yang ada dalam mimpi."
Aku tersenyum dan Acasha memelukku.
Tubuhku mulai lemas, Acasha tidak menyadari kalau dirinya terus menerus menghisap energi dalam tubuh. Akhirnya kaki ini tidak dapat menopang berat tubuhku hingga aku terkapar dan terduduk di lantai.
"Tuan? Apakah ini yang kau maksud?"
Acasha mendekapku erat. Jemari lentiknya terlihat hendak mencari sesuatu. Kini, kepalaku berada pada pangkuannya.
Acasha berbicara panjang lebar dan tubuhku masih terasa lemah.
Tuhan, apakah tindakanku salah memperlihatkan wajahku pada Acasha --kekasih yang benar-benar kucintai.
***
Acasha kini terlelap dan tubuhku kembali bertenaga. Tampaknya, energi yang tadi terhisap oleh Acasha, kini telah kembali.
Aku memutuskan untuk menemui Hazzel, bermaksud menceritakan kejadian yang baru saja menimpaku dan Acasha. Untuk menjaga keamanan, aku mengubah diri menjadi seekor burung merpati berwarna putih.
Sayapku mengepak lalu terbang meninggalkan kamar Acasha untuk bertemu Hazzel. Kuda putih itu tampak gelisah, sepertinya memikirkan Acasha. Karena sedari sore, Hazzel tidak mengetahui kabar Acasha.
"Hazzel!" kataku memanggilnya.
"Eros? Kau, kah, itu?" jawab Hazzel yang kemudian mendekat ke arahku.
"Iya. Ini aku, Eros."
"Bagaimana keadaan Putri Acasha?" tanya Hazzel dengan ekspresi wajah yang begitu terlihat khawatir.
__ADS_1
"Dia tertidur malam ini, tapi--" ucapku terjeda. Aku sesungguhnya bingung untuk menceritakan semua ini padanya. Namun, harus pada siapa lagi aku bercerita?
"Tapi kenapa?"
Aku mulai bercerita bahwa aku telah menceritakan asal-usulku yang berbeda dengannya.
"Jadi, sekarang Acasha tau kalau kalian itu berbeda?"
"Iya. Aku telah menceritakan semua ini padanya. Dia tidak berkeberatan. Akan tetapi, aku yang kalah. Energiku terserap olehnya."
Hazzel menanggapi ucapanku dengan serius. Dia terdiam, hingga keadaan seolah hening ketika kami berdua membisu. Padahal, telingaku masih cukup jelas mendengar para prajurit istana yang sepertinya tengah berjaga.
Waktu seakan terasa lama ketika masalahku seolah tidak ada yang bisa memecahkan. Pun denganku. Aku teramat bingung akan hal apa yang hendak kulakukan ke depannya. Entah meneruskan, atau bahkan mundur dan menjauh dari Acasha? Ah, pengecut sekali aku.
Malam semakin larut, tetapi sepasang mata ini masih terjaga. Tidak ada sedikitpun lelah pada panca indraku. Mungkin, karena aku belum menemukan keputusan apa yang esok kuambil bersama Acasha.
"Eros, apakah kau benar-benar mencintai Acasha?" Tiba-tiba saja pertanyaan Hazzel memecah keheningan di antara kami.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku ingin memastikan," katanya dengan rona wajah terlihat serius walau dirinya masih menjelma seekor kuda.
"Kalau aku tidak benar-benar mencintainya. Untuk apa aku harus repot-repot menceritakan semua ini padamu? Bukankah hanya terdengar buang-buang waktu saja?"
Hazzel mengangguk.
"Sesungguhnya ada satu cara yang mungkin dapat membuat kalian bersatu tanpa kalah di antara satu."
"Maksudnya?"
"Energimu tidak akan hilang walau Acasha menatapmu lama."
"Really?" Mataku membulat dengan harapan yang begitu besar semoga itu dapat terwujud.
"Iya. Tetapi cukup sulit untuk meraih benda tersebut, karena-- Benda tersebut berada di tempat yang paling sulit. Bahkan, benda tersebut akan muncul setiap purnama ke tiga saja. Lain daripada itu, benda tersebut hilang."
Aku tersenyum.
"Sebutlah. Aku tidak akan menemui kesulitan karena energi dewa yang kumiliki akan selalu menjagaku. Energi ini melemah, hanya karena wanita yang mencintaiku saja."
"Kau salah Eros. Benda tersebut dibentengi oleh energi yang terlalu besar yang mampu melunturkan energimu."
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Kau akan terlihat lemah jika memasuki wilayah tersebut. Kedudukanmu seorang dewa, itu tidak akan berpengaruh. Kau seperti manusia jelata, yang hanya mampu berkelahi dan tidak dapat menggunakan energi atau kekuatanmu di sana," jelas Hazzel yang membuatku kaget dan tersentak. Bagaimana tidak? Energiku akan hilang. Bagaimana kalau di sana ada binatang buas? Mati! Apakah ada titik terang untukku bersama Acasha?