
Petualanganku dimulai malam ini. Aku berjalan di bawah cahaya rembulan menyusuri sungai yang cukup panjang hingga akhirnya aku berada di hulu sungai.
Perutku terasa lapar. Di sungai terlihat ikan-ikan berenang dan aku memutuskan untuk memakan ikan bakar malam ini.
Di bawah cahaya putih sang rembulan, aku gegas meraih ranting yang berujung runcing untuk menangkap ikan.
'Hap!'
Satu kali aku membidik ikan, kini sudah tertusuk di ranting yang kujadikan tombak.
Dua ikan berukuran sedang sudah tertusuk di ranting, darah segar berwarna merah terlihat hanyut bersama air yang mengalir.
Aku mulai menyalakan api pada tumpukan ranting yang telah kumpulkan sebelumnya. Dalam keheningan malam dan sendirian, aku mencoba bertahan demi apel emas yang melegenda.
Aroma ikan kini tercium. Warna ikan segar ini sudah berubah sedikit hitam karena pembakaran dari api. Aku menjimpit sedikit daging ikan dan ternyata telah matang. Ku letakkan di atas daun sembari menghangatkan tubuh malam ini.
Cahaya sang rembulan tidak dapat menghangatkanku. Hilir angin yang terasa cukup kencang membuatku cukup merasakan dingin yang menembus tulang. Terlebih, di sini banyak pepohonan yang cukup besar.
Ikan pun menghangat, aku mulai menikmatinya di depan api yang telah menyala. Hingga akhirnya, daging ikan telah kulahap hingga berpindah pada perutku.
Mungkin karena perut yang kenyang dan waktu yang berangsur pagi, sepasang mataku mulai memberat. Aku rasanya sudah tidak sanggup untuk berjalan. Terlebih, ke arah hutan lebat dan akhirnya aku memilih untuk tidur.
Aku menciptakan kain seperti jaring yang cukup besar, hingga dapat kuikat pada 2 pohon. "Akhirnya, jadi juga. Sepertinya cukup nyaman."
Aku memutuskan untuk tidur pada kain yang telah tersedia di antara dua pohon pinus yang cukup besar.
Mataku masih terbuka walau berusaha untuk terpejam tetapi begitu sulit.
Mataku melihat ke langit. Merasakan desau angin dan bunyi air mengalir dari sungai. Aku membayangkan Acasha berada di sini. Tepat di samping dan memelukku erat. Jemari lentiknya mulai lincah mengusap dada dan bagian wajahku, terlebih bibir. Acasha begitu senang ketika mulai mengusap bibirku.
Raga berada di tepi sungai. Atara batas kota dan bibir hutan, berusaha menikmati malam walau rasa rindu menyelimuti diri.
"Tuan ...." Terdengar suara perempuan.
Aku mencari pada sumber suara. Namun, tidak ada satu orang pun dalam sini.
"Ah, apakah aku berhalusinasi?" Aku mengusap tengkuk dan berusaha sadar. Namun, berkali-kali suara wanita memanggilku. Apakah ada makhluk lain di sini selain daripadaku?
__ADS_1
Aku terperanjat ketika sosok perempuan cantik tepat berdiri di sampingku. Dia tersenyum memperlihatkan barisan gigi putih dan rapi.
"Acasha?" Bibirku mengucap namanya.
Wanita itu tersenyum dan mengusap lembut wajahku. Mata ini terpejam ketika sentuhan lembut mulai menjamah pipi, hidung dan terakhir berhenti di bibir.
"Acasha, aku rindu."
Aku membuka mata disambut senyum manis dari bibirnya. Dia ikut membaringkan tubuhnya tepat di sampingku. Kami terbaring di atas tempat tidur darurat yang seperti ayunan.
Kami saling memandang dan tangan yang saling mengusap bagian dari wajah. Tangan Acasha melingkar dan erat memelukku hangat.
"Terima kasih, Sayang. Aku tidak lagi kedinginan," kataku sambil mengecup pucuk kepala Acasha dengan hangat. Acasha tidak banyak bicara. Kami hanya saling mengeratkan tangan yang melingkar di perut. Hingga entah jam berapa, aku mulai terlelap dan tidak sadarkan diri. Menimang kami dalam mimpi.
***
Keringat di dahi dan punggung, membuatku tidak nyaman. Hingga akhirnya mataku membuka dengan menyipit, karena ternyata mentari telah menyinari dunia. Aku kesiangan.
"Acasha?"
Aku melihat ke segala arah, tetapi tidak ada Acasha di sini.
"Lalu, yang tadi malam itu siapa?"
Aku bangkit dari tempat tidur darurat. Kini, kaki menjuntai ke bawah dan aku menghela napas kemudian menghempaskan perlahan.
Aku hendak menyiapkan sarapan. Akan tetapi, kekuatanku telah hilang. Aku tidak dapat menggunakan energi dewaku yang berbeda seperti manusia.
"Ya Tuhan, berarti yang semalam itu bukan Acasha. Dia makhluk yang bertugas untuk mengambil kekuatan yang kupunya. Sial, baru saja sampai hulu sungai. Aku tidak dapat lagi menggunakannya.
Ketika aku melangkah, perutku terasa perih. Sepertinya aku lapar. Tetapi, aku makan dengan apa? Kekuatanku saja hilang.
Aku memutuskan untuk masuk ke hutan belantara dengan pohon-pohon besar dan tinggi menjulang yang menyambutku bersama cicit burung.
Aku berharap di sana akan ada makanan yang dapat mengganjal perut. Berjalan semakin dalam masuk hutan hingga sinar mentari seolah tidak menjamahnya. Di sini tercium aroma lumut serta kayu lapuk yang membusuk akibat tumbang.
'Krekk'
__ADS_1
Suara ranting-ranting pohon yang kuinjak dan dedaunan kering yang berserakan mulai membusuk. Perutku semakin lapar tetapi sudah masuk ke dalam, aku belum melihat buah untuk dikonsumsi.
Andai saja energi dewaku tidak diserap oleh makhluk yang menyerupai Acasha. Mungkin saja aku masih bisa makan sedari tadi.
"Anak muda!" Seseorang memanggil dan aku pun menoleh. Di sana ada seorang lelaki tua dengan rambut panjang yang hampir semuanya memutih. Wajah tampak keriput, berkumis serta berjenggot cukup panjang. Dia menghampiriku, sehingga saat ini kami telah saling berhadapan dengan jarak yang masih cukup jauh.
"Iya. Apa kau memanggilku?"
Lelaki tua itu mengangguk. Dia berjalan terbungkuk dengan tongkat kayu di tangannya.
"Untuk apa memanggilku?"
Dia tersenyum melihatku.
"Untuk apa kau ke wilayahku?"
Aku tersenyum sinis. "Ini wilayahmu? Yang benar saja." Aku masih tersenyum masam dengan tatap muka yang berpaling ke arah lain.
"Ini hutan larangan. Di mana seorang asing tidak diperbolehkan untuk masuk ke sini walau hanya di bibir hutan. Sedangkan kau. Kau malah sampai ke sini, lantang!" katanya mulai meninggi.
"Maaf Kakek tua. Aku bukan manusia."
Mata lelaki tua itu membulat dan menatapku tajam. "Apakah kau itu Eros --Dewa cinta yang mencari apel emas?"
"Dari mana kau tau?" Mataku menyipit ketika dia bertanya seperti itu.
Dia tersenyum.
"Apa yang tidak kuketahui tentang makhluk yang akan menginjakkan kakinya di hutan larangan ini?"
"Tetapi, sepertinya tidak ada yang mengetahui niatku." Aku sempat berpikir, siapa dia sebenarnya? Apakah dia seorang dewa yang menjelma untuk menolongku? Ah, tetapi tidak mungkin. Karena sesakti apa pun. Kekuatan akan menghilang. Jangankan hingga masuk hutan. Di tepi sungai pun, kekuatanku telah hilang.
"Aku bisa membaca semuanya darimu. Saat ini, pasti kau lapar," ucapnya dengan senyum bersahaja. Wajahnya tampak tenang.
Aku tidak menjawab karena memang perutku sudah begitu lapar dari pagi, apalgai sekarang, mentari pagi telah meninggi hingga bukan hanya perutku saja yang lapar. Tetapi juga dengan kerongkongan yang mulai haus tanpa aku membekal air.
"Mari, ikut aku," ajaknya yang kemudian berjalan mendahuluiku.
__ADS_1