CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Permainan Takdir


__ADS_3

Aku merasa dipermainkan oleh takdir. Seketika mati dan dihidupkan kembali. Entah, aku harus bersyukur atau berkeluh atas permainan takdir yang diberikan pada kami.


"Sayang," kataku dengan suara serak.


"Iya," jawabnya dengan air mata yang kembali luruh dari sudut mata indahnya.


"Kenapa kau menangis?"


"Aku terlampau bahagia karena kau telah kembali, Sayang. Kenapa takdir mempermainkan kita?" ujar Acasha yang ternyata satu pemikiran denganku.


Aku mengusap dengan lembut air bening yang telah luruh. Kini aku kembali merasakan lembutnya pipi Acasha. Mengusap air bening itu hingga kering.


"Jangan menangis. Aku sudah menunaikan janjiku, 'kan?"


Acasha mengangguk tetapi masih dengan mata yang menumpahkan air.


Aku kembali mengusapnya ketika duduk dan posisi kami saling berhadapan. Aku memeluknya erat. Terasa indah ketika sepasang mata kami bisa bertemu tanpa harus takut ada yang hilang dalam sini.


"Jangan tinggalin aku lagi," pintanya ketika wajahnya berada dalam dekapanku.


"Kapan aku meninggalkanmu, Sayang?"


Acasha melepaskan pelukannya. Dia menatapku tajam dengan bibir mengerucut dan tangan melipat di dada.


"Masih belum sadar? Beberapa hari kemarin, kamu pergi untuk mencari apel emas dan setelah kembali, kamu malah ingin pergi jauh dariku dengan memisahkan kita melalui kematian. Kau jahat, Sayang," katanya sambil memukul pelan dadaku. Aku hanya bisa tersenyum.


"Apa kau begitu takut kehilanganku ketika aku benar-benar pergi darimu?"


"Bukan takut lagi. Semua keburukan bahkan kematian'lah yang ada dalam benakku. Aku sempat ingin mengakhiri hidup jika harus berjuang dalam dunia fana seorang diri dan aku tidak mau itu terulang. Biarkan aku yang mati dulu--" ucapnya terhenti karena aku membekap bibirnya dengan tangan.

__ADS_1


"Jangan bicara yang aneh-aneh. Bukankah ucapan itu merupakan doa?" kataku mengingatkan.


"Maaf. Aku hanya ingin kau tau, Sayang. Kalau aku benar-benar begitu takut kehilanganmu. Kau hidup dan matiku, Tuan Eros."


Aku mengusap pucuk kepalanya. Mengusap rambut terurai panjang yang menutupi punggung Acasha.


Hingga akhirnya langit benar-benar gelap dan aku mengajak Acasha untuk kembali ke kerajaannya.


Berjalan bergandengan tangan melewati banyak pohon pinus. Aroma amis tercium di indra penciuman ketika hilir angin mengarah kepada kami.


Bangkai-bangkai penghuni kerajaan berserakan di luar istana dengan darah yang mewarnai tanah menjadi merah. Bukan hanya itu, tubuh mereka tidak utuh. Ada yang tubuh di mana dan kepalanya terhempas ke mana. Banyak yang tidak utuh, terlihat mengerikan dengan darah masih merembes bahkan ada yang telah mengering. Pemandangan yang begitu mengerikan ketika langit yang indah berwarna jingga, tetapi di kerajaan Acasha telah memerah oleh darah.


Melewati jasad prajurit perang di luar istana dengan berbagai macam ekspresi menyedihkan dan menyakitkan.


Pintu kerjaan yang terbuka lebar penuh darah dan bau amis serta busuk telah bercampur. Sangat tragis. Terlebih, ketika melihat jasad Ayah dan Ibu dari Acasha yang saling berpegangan tangan.


"Ibu!" Acasha berlari. Dia menggoyangkan tubuh ibunya, "bangun, Bu. Bangun," katanya.


"Yah, bangun. Ayah ...." ucap Acasha lirih.


Acasha memegang tangan kedua orang tuanya. Menciuminya berulang-ulang dengan air mata yang terus luruh.


Aku mengusap pundaknya, bermaksud memberikan semangat padanya. "Sayang, kamu masih punya aku. Tolong ingat itu. Boleh bersedih, tetapi jangan lama. Aku tidak ingin kau larut dalam kesedihan."


Acasha masih bersedih, air matanya masih berlinang.


"Hei?" Aku meraih pipi Acasha. Kini, mata kami saling menatap.


"Aku tidak punya lagi sandaran hidup. Mereka mati, mereka mati, Sayang," katanya dengan suara pelan dan seolah begitu menyakitkan. Wajar. Karena di hari yang sama, Acasha harus merasakan pil pahit kehidupan. Ditinggal kedua orang tua, prajurit, rakyatnya dan juga kerajaan yang telah hancur.

__ADS_1


Aku mengajak Acasha masuk ke kamarnya untuk sekadar mengistirahatkan tubuh dan pikirannya di kamar yang selalu memberikan kenyamanan.


Acasha duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Sepasang matanya terlihat mengarah ke balkon kamar. Sungguh, hari ini aku seperti melihat Acasha tak ubahnya seperti boneka yang bernapas. Dia hanya bisa diam dengan tatapan yang entah.


Tidak ada lagi keceriaan dan senyum yang membingkai bibir merah mudanya. Aku rindu.


Aku meraih wajah Acasha dan menenggelamkannya dalam dekapan hangat. Acasha melingkarkan tangannya di pinggangku. Napasnya menderu kencang seolah menahan amarah.


Langit menghitam yang disertai kilatan petir. Tidak berselang lama, hujan turun dengan deras dan air membanjiri kerjaan. Kami yang berada di ruangan teratas hanya bisa menyaksikan bangkaihbangkai yang hanyut, di sapu oleh air yang membanjiri desa Acasha.


"Relakan mereka, Sayang," ucapku ketika air mata Acasha kembali membasahi pipi. Pandangannya terlihat jelas ketika jasad orang-orang yang terbawa air yang berwarna cokelat.


Aku heran ketika melihat jasad ibu dan ayah dari Acasha yang seolah tidak dapat dipisahkan. Mereka tetap saja bergandengan tangan. Terlihat romantis bagi orang yang hanya mendengarkan. Tetapi bagi Acasha terasa miris. Kami tidak dapat meraih tubuh siapapun karena hujan yang sangat deras yang disertai penerangan lampu yang mati karena tidak ada yang menyalakan obor dan tungku perapian yang biasanya menghangatkan kerajaan yang begitu luas. Tidak ada lagi orang yang mampu menyalakan obor yang terlampau banyak. Di sini hanya menyisakan aku dan Acasha.


"Yah, Bu," ujar Acasha lirih ketika melihat jenazah yang diterangi oleh kilatan petir.


Aku memeluk Acasha erat. Malam ini merupakan hari termahal dalam hidup Acasha. Apakah ini yang dimaksud oleh kakek tua kalau apel itu harus dimakan keduanya. Akan ada sesuatu yang akan terjadi dan mungkin saja apa yang dimaksudnya adalah hal ini. Harusnya aku bisa kembali menghidupkan kedua orang tua Acasha. Namun, keadaannya berubah menjadi tragis. Semua mati. Semua hanyut lalu menghilang dan meninggalkan kami dalam istana.


"Sayang, maafkan aku," kataku membuka percakapan di tengah kebisuan dan lautan kesedihan.


"Maaf untuk apa?" Acasha ternyata masih meresponsku.


"Untuk semuanya. Ini semua salahku. Maafkan aku."


"Tidak, Sayang. Ini sudah menjadi suratan takdir. Aku tidak marah terhadap siapapun, terlebih kamu. Lelaki yang sangat aku cintai dan ingin aku miliki," jawab Acasha walau dengan nada berat.


Entah aku yang menjadi penyebab hal ini, atau memang sudah suratan takdir. Aku lebih memilih bungkam karena belum tentu juga karena aku.


"Apa kamu kecewa terhadapku?" Mataku menyipit ketika memandang wajah Acasha.

__ADS_1


Acasha menggeleng. "Tentu saja bukan. Ini memang telah menjadi suratan takdir. Hanya saja, aku masih bersyukur karena Tuhan masih mengirim kamu untuk menjagaku, Tuan Eros," ujar Acasha dengan seulas senyuman. Aku memeluknya hangat penuh rasa syukur.


__ADS_2