
Aku berjalan ketika menyadari debat yang semakin nyata. Acasha pun terlihat bangkit dari singgasananya. Kaki jenjang itu mulai melangkah bahkan berjalan ke arah tangga.
Aku segera berjalan dengan sisa tenaga yang kumiliki. Mungkin efek dari anak panah yang menancap dalam hati.
"Tunggu!" Acasha terlihat berlari ke arahku.
Kakiku semakin kencang berjalan seolah berlari. Ingin menghilang tetapi tidak bisa. Oh, Tuhan. Aku harus bagaimana?
"Tunggu, Tuan!" ucapnya lagi memanggilku yang masih berlari.
Aku terus berlari tanpa menoleh lagi dan hal ini cukup membuatku mempunyai tenaga untuk menjauh ketika aku tidak memandang wajahnya.
Si4l, di depan terhalang oleh jendela besar dan tidak ada jalan lain. Buntu. Tidak mungkin kalau aku kembali. Di sana sudah ada Acasha.
Tanganku mencoba untuk mendorong jendela yang besar dan akhirnya terbuka dengan desau angin cukup kencang menerpa wajah dan tubuh.
"Tuan ...." Suara Acasha memanggil dengan napas tersengal. Aku tidak ingin menoleh karena sedang berusaha memulihkan tenaga.
Aku menaiki jendela dan bersiap untuk melompat. Dengan sekelebat, tubuhku kini terbang. Aku ada dalam dekapan seseorang.
"Damien?"
Ternyata Damien yang membawaku terbang. Untuk kali ini dia bersikap tidak menyebalkan, dia menolongku untuk menjauh dari Acasha.
"Tuaannn!!!" Terdengar sayup-sayup Acasha masih memanggilku. Sedangkan di atas sini, aku hanya dapat melihat tangannya yang seolah menyuruhku untuk kembali.
"Kau bod*h Cleon!" Baru saja aku memujinya tidak menyebalkan, saat ini dia kembali menjadi sosok yang menyebalkan untukku.
Aku hanya mendengus kesal, tidak menghiraukannya. Dia masih mengoceh ketika mengajakku terbang di atas awan.
"Turunkan aku!" pintaku dengan nada serak.
"Suaramu pun mulai hilang? Ayolah Cleon, jangan main-main dengan tugas yang diberikan oleh ibu. Bukankah dia menyuruhmu memanah Acasha? Kenapa malah hatimu yang terkena panah? Dasar tol*l!!" serunya yang seolah puas mencerca dengan bibir menyeringai.
"Aku bilang, turunkan saat ini juga!" bentakku masih dengan nada berat karena suara yang memang melemah.
Namun, Damien tidak memedulikan ucapanku. Dia membawaku terbang hingga kami sampai di istana langit.
Semua penghuni menyingkir ketika Damien memapahku masuk dalam istana. Para pelayan terlihat sibuk mempersiapkan jamuan untuk menyambut kedatanganku dari bumi.
Entah kenapa, bibir ini terus tersenyum dan otak terus memikirkan Acasha. Wajah cantiknya benar-benar membuatku mabuk.
__ADS_1
Damien mengeluarkan anak panah berwarna silver, kemudian mengarahkan ke hatiku dengan sorot mata tajam.
"Mau apa kau?" Aku bertanya dengan sorot mata yang sama tajam dengan sisa tenaga yang belum juga kembali.
"Sebaiknya panah ini membunuh rasa cinta yang kau rasa, Cleon!"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu melesatkan anak panah itu ke hatiku."
"Ini demi kebaikanmu, Cleon. Ibu bisa murka melihatmu seperti ini. Terlebih, kau tergila-gila pada anak manusia. Mereka kaum rendah yang tidak pantas bersanding dengan kami --Para Dewa."
Anak panah itu mulai kembali diarahkan pada hatiku. Tanganku menutup dengan sorot mata mencerminkan perlawanan, menolak untuk menerima anak panah silver itu menembus hatiku.
"Lalu, sampai kapan kau akan cengar-cengir seperti ini, hah? Seperti orang bod*h saja!"
"Biarkan aku seperti ini dan entah sampai kapan."
"Arrgghhh!" Damien terlihat memegang kepala, rambutnya sedikit diacak. Mungkin saja dia kesal terhadapku.
"Ada apa ini?" Sorot tajam Dewi Agacia Orisha menatap kami.
"Tidak ada, Bu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Damien mencoba menyembunyikan wajahku dari Ibu. Tubuhnya berdiri tegak menghalangiku, mungkin agar Ibu tidak melihat ekspresiku saat ini.
"Cleon kenapa?"
Sedangkan ibu hanya mengangguk samar. Untung saja dia tidak banyak bertanya karena Damien yang berusaha menyembunyikan keadaanku. Untuk hari ini, Damien kembali berubah menjadi sosok yang baik.
Damien memapahku hingga kamar. Dia membaringkan tubuhku.
"Diamlah kau di sini! Nanti akan ada pelayan yang membawakanmu makanan." Damien berlalu pergi meninggalkanku yang masih tersenyum.
Sepasang mata memandang ke langit-langit kamar. Di sana terlihat semua rekaman yang terjadi ketika aku di bumi bersama Acasha. Wajah cantik dengan bibir ranum, hidung mancung dan sepasang manik mata indah kini kembali terkenang.
"Acasha.."
"Aku mencintaimu. Ke marilah."
Aku masih sibuk memanggil namanya dengan bayang yang terus menghantui seolah membuatku semakin menggil4.
"Permisi."
"Acasha?"
__ADS_1
Mataku membulat ketika melihat Acasha dari balik pintu. Senyuman manis itu kembali terkembang dengan rambut sedikit melambai-lambai ketika ada angin kecil menerobos masuk dalam jendela.
Bagaimana Acasha dapat kemari? Diakan manusia?
Aku masih berpikir ketika Acasha berjalan semakin mendekat, bahkan kini dia duduk di tepi ranjang. Tepat di sampingku.
"Makan dulu," katanya dengan seulas senyum dan gigi-gigi putih yang berbaris rapi menunjukkan senyuman.
Aku mengangguk.
Acasha mulai menyuapiku. Sungguh, wajahnya begitu cantik. Dia membuatku gil4. Aku dibuat mabuk oleh Acasha.
Jemari Acasha mulai mengusap pipi, hidung kemudian turun ke bibir. Dia mengusap lembut dan seketika itu darahku bergejolak, yang ada dalam benakku saat ini hanya ingin memiliki dia seutuhnya. Ya, aku ingin menyatukan tubuh dan ragaku dengannya.
Namun, seketika aku tersadar. Wajah itu bukan Acasha, dia pembantu istana.
"Pergi kau dari sini!" bentakku sambil menunjuk ke pintu.
"Tapi--" ucapnya terjeda.
"Aku menyuruhmu pergi! Keluar dari sini!" Mataku membulat tajam, sedangkan hati berusaha menetralkan rasa yang membuncah, menginginkan memadu kasih dengan Acasha.
Pelayan itu akhirnya bergegas pergi dengan raut kecewa. Bagaimana bisa seorang Cleon menolak dijamah wanita? Mungkin hal itu yang ada dalam pikirannya.
Aku mengacak rambut, merasa kesal dengan keadaanku saat ini. Apa mungkin orang-orang yang kulesatkan anak panah di hatinya mempunyai rasa sepertiku? Rasa yang indah tetapi begitu menyebalkan kala seseorang yang dicintai tidak ada di sisi.
"Cleon?" Acasha kembali masuk ke kamar.
"Acasha?" Mataku kembali membulat.
"Acasha?" tanya Acasha. Oh ... Tuhan, ternyata aku salah. Yang memanggilku ternyata Ibu.
Mati!
Ibu mendekat ke arahku, dia meminta penjelasan dan akhirnya semua terungkap kalau aku salah menancapkan panah asmara yang malah mengenai diri sendiri.
Ibu menggeleng. Mungkin tidak percaya pada Cleon --Dewa cinta yang tidak pernah gagal membidik sasarannya. Untuk kali ini gagal, bahkan mengenai diri sendiri. Hal ini sungguh memalukan bagiku.
"Kenapa semua ini bisa terjadi? Seingatku, kamu tidak pernah meleset melakukan tugasmu." Ibu merasa heran ketika mendengar pengakuanku saat ini.
Bibirku pun tersungging miring ketika mengingat kejadian itu. Menertawakan ketol*lan yang kulakukan. Sangat memalukan.
__ADS_1
Aku seolah tidak peduli akan diapakan olehnya. Yang ada dalam benakku saat ini hanya Acasha, Acasha dan Acasha. Ya ... Tuhan, perempuan itu benar-benar membuatku gil4. Aku muak!!!