
Merebahkan diri di atas ranjang dengan mata terpejam membuatku sedikit tenang. Tetapi, bukan berarti aku lupa. Hingga entah berapa lama mataku terpejam sempurna.
"Cleon, bangunlah."
Suara seorang lelaki terdengar memanggil namaku. Mataku sedikit membuka, mengatur napas dan memperhatikan sekeliling kamar.
"Ada apa Damien?" tanyaku ketika melihat Damien yang sudah ada di tepi ranjang dengan posisi berdiri dan akhirnya duduk ketika aku telah bangkit dari tidur.
"Apa kau telah berpikir dengan matang?" tanyanya yang membuat dadaku kembali sakit.
"Entah."
Sepasang mata Damien menyipit kala menatapku, seolah begitu banyak pertanyaan yang tersirat dalam otaknya.
"Apakah kau mencintainya?"
"Sangat."
"Lalu, apakah kau siap menerima hukuman dari Dewa Artemis? Dia akan mengutukmu menjadi batu, Cleon!"
Damien terus mencoba mengingatkanku pada hal yang memang tidak ingin kuingat. Tangannya bertengger di pundakku dengan sepasang sorot mata tajam seolah menyuruhku untuk menjauh. Walaupun dia menyebalkan, tetapi Damien menyayangiku. Terbukti, dia tidak ingin aku dikutuk menjadi batu dengan cara mengingatkan agar menjauhi Acasha. Tetapi, aku tidak bisa. Aku terlanjur mencintainya.
"Maaf ...." ucapku bersuara lirih.
Damien melepaskan kedua tangannya dari pundakku dan terlihat mengembuskan napas kasar. Lelaki bertubuh tegap kini berdiri kemudian berjalan tanpa ada kata. Mungkin dia tahu, aku merupakan sosok lelaki yang keras. Di mana aku menginginkan sesuatu, pantang untuk menyerah hingga mendapatkannya.
Kini aku sendiri dalam kamar, menghela napas lalu berjalan mendekat ke arah jendela yang langsung terlihat banyak burung yang terbang di atas sana, serta gumpalan awan putih berbentuk seperti kapas yang lembut.
Angin yang tidak terlalu kencang seolah mengusap tubuhku. Aku memejamkan mata serta membayangkan Acasha ada bersamaku. Debar kembali menggelora ketika wajahnya kembali terekam dalam pikiran dan rasa yang memang tidak dapat sedetik pun melupakannya.
"Cleon!"
Siapa yang memanggilku? Mengganggu saja!
"Cleon, buka matamu!" Terdengar suara laki-laki dan kemudian tanganku terasa ada yang menepuk.
Aku membuka mata.
"Hazzel?"
Tidak menyangka, bahwa yang kini ada di depanku adalah Hazzel. Pria ini berada di luar jendela.
"Mau apa kau ke mari?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Acasha mengamuk. Dia tidak dapat dikendalikan oleh siapapun. Termasuk Sang Raja yang harusnya menjadi pengendali dalam istana itu."
"Apa?"
"Cepatlah. Jangan sampai Acasha menjadi perbincangan hangat di luar kerajaan karena sikapnya saat ini. Dia menjadi bringas. Bukankah seorang putri itu harusnya lemah lembut?"
Ya Tuhan, ada apa dengan Acasha?
"Kau pergilah dulu. Aku akan menyusul, tolong kendalikan dia semampumu."
"Baiklah."
Hazzel merubah dirinya menjadi seekor kuda putih yang memiliki sayap. Dia terbang begitu cepat menembus langit dan awan, seketika dia menghilang tanpa jejak.
Aku bergegas meraih jubah yang biasa kukenakan ketika turun ke bumi, dengan kaki yang cepat berjalan dalam koridor istana melewati banyak orang dengan mata menatap heran. Mungkin karena aku kini jarang ada di istana ini.
"Eros!" Suara Ibu memanggil namaku.
Bola mata memutar diiringi dengan embusan napas kesal. Ibu paling ingin menginterogasiku. Kakiku terhenti dan tubuh mematung.
"Mau ke mana, kau?"
Nah, kan. Benar saja apa yang ada dalam pikiranku. Ibu pasti bertanya.
"Jangan bilang kau akan kembali menemui anak manusia itu?"
Aku menyeringai. Langkahku kembali terayun. Percuma menjawab pertanyaan Ibu yang sudah jelas akan melarangku untuk menemui Acasha.
"Eros! Kau pembangkang!"
Maaf, Bu. Aku mungkin menjadi anak durhaka untukmu. Tetapi aku mempunyai cinta yang tulus untuk Acasha. Aku yakin, esok Tuhan akan mempersatukan kami. Entah kapan, entah di mana dan entah dari dimensi mana.
Aku selalu yakin dengan kata hati bahwa Acasha bisa membuatku bahagia. Maafkan aku, Bu.
Aku berlari kemudian mengepakan sayap putihku dan bersegera menembus gumpalan awan putih yang terlihat lembut.
Tubuhku melewati segerombolan burung yang terbang di langit, menembus angin yang cukup kencang hingga akhirnya menapaki tanah di bumi.
Gemericik air terjun yang terasa sejuk mengingatkanku ketika awal menginjakkan kaki di bumi karena Ibu. Ya, Ibu yang menyuruhku untuk turun langsung ke bumi untuk memanah Acasha agar jatuh cinta terhadap lelaki buruk rupa. Tetapi, nyatanya malah aku yang jatuh cinta akan kecantikan wajah yang pertama kali aku lihat. Tidak menyangka, perintah Ibu aku abaikan. Hingga saat ini aku masih menyimpan rasa hormat pada Ibu, tapi tidak untuk tugas yang diberikan. Aku mungkin seperti seorang anak yang berdosa karena membangkang perintahnya. Aku pasrah.
Semakin dekat diriku dengan istana, di sana terdengar teriakan histeris dari seorang wanita. "Acasha?"
Aku mempercepat langkah agar cepat sampai ke istana miliknya. Namun, apa yang bisa aku perbuat? Tidak mungkin juga aku menenangkan Acasha, 'kan?
__ADS_1
"Sampai kapan pun aku tidak akan menikah dengan orang-orang selain dia, Ayah."
"Acasha! Kau mempermalukanku di depan tetamu dari kerajaan sebelah. Apa kau tidak ingin menikah? Kau tidak malu dengan putri-putri lain seangkatanmu yang sudah menikah? Bahkan, masih banyak yang usianya di bawahku telah lebih dulu menikah. Aku malu!" ujar sang raja yang terlihat kecewa.
"Sudah, Sayang. Tolong hentikan," ujar ibu dari Acasha menenangkan suaminya.
"Pelayan, tolong antar Acasha ke kamarnya. Biarkan dia istirahat."
Semua tampak tegang ketika ada pertikaian antara ayah dan juga anaknya. Bukan peperangan, mereka hanya berbeda pendapat saja yang mengakibatkan pertengkaran yang cukup membuat penghuni istana sedikit menegang.
Hening.
Acasha telah menaiki anak tangga bersama pelayan kerajaan dan aku memilih untuk terbang menyusul dirinya melalui luar istana.
Kini aku berada di balkon kamar. Sepertinya, Acasha belum sampai ke kamarnya. Aku sengaja bersembunyi di balik pintu untuk memberikan surprise padanya.
"Sudah, sampai di sini saja. Aku ingin istirahat." Acasha sepertinya berbicara pada pelayanan yang tadi mengantar dirinya.
Tidak berselang lama, pintu kamar pun terbuka dan aku melihat Acasha yang sedang mengunci pintu. Secepat kilat, aku menutup pandangannya oleh satu telapak tangan. Awalnya tubuhnya berontak, mungkin dia kaget karena ada yang menutup matanya dari belakang.
"Jangan takut, ini aku," bisikku lembut.
"Tuan?" jawab Acasha lembut.
"Iya."
"Boleh aku memelukmu?"
"Boleh. Asal--"
Acasha mengangguk.
"Aku mengerti, Tuan. Aku akan menutup mataku. Aku bersumpah tidak akan mengintip karena aku terlalu takut kehilanganmu."
"Baiklah."
Aku melepaskan perlahan telapak tangan yang menutupi sepasang mata indahnya dan membalikkan tubuh Acasha yang kini tepat berada di depanku. Aku memeluknya erat dan disambut oleh dekapan hangatnya.
"Aku rindu," bisiknya ketika ada dalam dekapan dada.
Aku semakin erat memeluk tubuhnya. Mengecup hangat pucuk kepala Acasha yang selalu berhasil membuat bibirnya terbingkai indah dan pipi merona.
"Aku mencintaimu, Acasha."
__ADS_1
Astaga, aku tidak menyangka akan mengutarakan isi hati ini padanya. Bagaimana ini? Sanggupkah aku membahagiakan dirinya? Dengan cara apa aku membahagiakan dia? Sedangkan ketika mata Acasha menatap saja, energiku terserap hingga menjadi lemah. Apa setelah aku lemah, bisa menjadi manusia seperti Acasha? Atau, aku malah akan mati di tangan Acasha? Rumit.