CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Kembali


__ADS_3

Pandanganku menghitam tetapi telingaku masih mendengar.


"Sayang, bangun...." Suara yang begitu kukenali.


Aku masih merasakan tangan yang menghangat dalam genggaman seseorang.


"Hahaha ... Aku puas melihatmu menangis seperti itu Acasha. Akan kubiarkan kau hidup untuk meratapi sisa umurmu. Orang tuamu telah mati, kerajaan yang porak poranda tanpa satu orang pun yang kubiarkan hidup. Sekarang, seseorang yang kau panggil sayang pun telah mati di ujung pedangku." Suara lelaki yang entah siapa.


Acasha hanya terdengar menangis dan menggenggam tanganku dengan begitu erat.


"Maaf, aku ambil kembali pedang kerajaan yang sangat kubanggakan," ucapnya yang kemudian terasa begitu nyeri dan linu pada punggung menerobos sela tulang hingga perutku.


"Kau jahat." Suara Acasha terdengar parau dan seketika aku tidak lagi merasakan hangatnya genggaman Acasha. Entah Acasha yang melepaskan genggamannya ataukah aku yang mulai mendingin.


Aku terperanjat ketika melihat tubuh yang sedang Acasha dekap dalam pangkuannya. Dia terlihat begitu mirip denganku.


'Acasha.' Aku meraih pundak Acasha dan ternyata tidak dapat kusentuh. Ada apa denganku?


"Hal yang aku takutkan akhirnya terjadi. Kamu memang selamat dan mendapatkan apel emas. Tapi, kau mati di tangan musuh kerajaan Ayah. Sayang, bangun." Acasha terlihat menggoyang-goyangkan tubuh lelaki yang begitu mirip denganku. Tetapi, kenapa dia menyebutnya Sayang? Bukankah panggilan itu hanya tersemat untukku? Arghhh! Apa yang sebenarnya terjadi, God?!


'Acasha, aku di sini, Sayang. Coba lihat aku,' pintaku yang tidak dihiraukannya.


Aku berjalan mundur, ketika melihat Acasha yang terus berurai air mata hingga akhirnya terlihat kuda putih melenggang menghampiri Acasha yang masih memangku lelaki di tepi danau. Lelaki yang bersimbah darah di sekujur tubuhnya dengan mata terpejam.


'Hazzel?'


Hazzel semakin dekat dan dia pun tidak dihiraukan oleh Acasha.


'Kasihan sekali kau Eros,' ucap Hazzel di depan Acasha.


Eros? Lelaki yang mempunyai wajah sama denganku bernama Eros juga? Ini kebetulan atau lelucon?


'Apa iya aku telah mati?'


Perlahan, aku melangkah dan kembali mendekat. Sepasang mata Hazzel terlihat tajam melihatku.


'Eros? Kau––' kata Hazzel terjeda.


'Apa iya aku telah mati, Hazzel?'


'Jangan bicara di sini. Kita menjauh dari Putri Acasha,' kata Hazzel.


Hazzel berjalan dan aku mengikutinya dari belang. Aku masih menengok ke arah Acasha yang seolah masih berusaha membangunkan tubuh yang mulai kaku. Apa iya, yang ada di pangkuan Acasha itu tubuhku?

__ADS_1


Langkah Hazzel terhenti. Dia menatapku lekat.


"Sesunggauhnya ada apa? Kenapa tubuhku ada bersama Acasha? Apa iya aku telah mati?" Aku bertanya dengan penasaran.


Hazzel mengangguk.


"Kau telah mati, Eros. Jiwa dan ragamu telah terpisah."


"Gak, gak mungkin! Kau berbohong Hazzel!"


"Coba saja kau pegang tubuhku," pinta Hazzel.


Aku menarik napas dan mengumpulkan keberanian seandainya memang benar yang dikatakan Hazzel. Apa aku sanggup jauh dari Acasha?


Berjalan mendekat dan tangan ini mulai kuangkat. Ada rasa ragu karena takut dengan sebuah kenyataan. Jemari ini hendak mengusap tubuh kuda putih yang ada di depanku tapi––


Benar apa yang dikatakan Hazzel, tanganku menembus tubuhnya. Aku tidak dapat merasakan bulu yang ada di tubuh Hazzel, pun sebaliknya. Hazzel tidak dapat merasakan sentuhanku, dia hanya mampu melihatku.


Aku berjalan mundur. "Enggak! Ini gak mungkin terjadi. Semuanya pasti mimpi dan hanya halusinasi. Bangun, bangun Eros!" Aku memukul-mukul kepalaku dan berharap terbangun dari tidur.


"Hentikan Eros! Kau hanya menyakiti dirimu sendiri!"


Aku menyeringai.


"Ragamu memang mati, tetapi tidak dengan jiwamu yang masih akan merasa sakit."


Entah. Aku harus bagaimana. Rasanya sangat berat menerima kenyataan kalau memang aku telah mati. Aku bisa saja dekat dengan Acasha. Namun, seumpama Acasha telah bersama lelaki lain, apakah aku bisa menerima? Pengorbananku seakan sia-sia.


Dari langit terlihat sosok dewa yang terbang mendekati Acasha. Siapa lagi kalau bukan Damien––kakaku.


"Eros." Ucapnya yang lirih terdengar ketika menyebut namaku.


"Suara itu. Suara yang pernah kudengar," ujar Acasha yang hampir menoleh.


"Tidak usah menoleh. Aku Damien, apa kau masih mengingatku?"


Acasha terdiam. Sepertinya, dia berusaha mengingat nama Damien di kepalanya.


"Iya. Aku ingat, Tuan. Kau mau apa?"


"Lelaki yang ada di pangkuanmu merupakan adikku. Aku ingin membawa kembali jasad Eros ke istana langit. Aku diutus oleh ibu." Terdengar suara Damien.


"Aku mohon, jangan bawa lelaki yang aku cintai. Biarkan jasadnya bersamaku. Aku ingin selalu bersamanya," ujar Acasha yang membuatku pilu.

__ADS_1


"Tidak, Acasha. Kehidupanmu masih panjang. Lanjutkan hidupmu tanpa Eros."


"Dia telah berjanji akan menemaniku dan kami akan bersatu walau tidak saling memiliki."


"Dasar bodoh! Kau percaya dengan pangeran cinta yang penuh kepura-puraan?" tanya Damien.


"Apa maksudmu?" ucap Acasha dengan pandangan kosong melihat pada punggung Damien.


"Masih banyak yang mencintaimu Acasha. Kenapa kau malah mau hidup dengan seonggok bangkai?" ujar Damien.


Acasha terlihat menurunkan jasad yang dia tangisi sedari tadi. Dia berjalan ke arah Damien dan––


Plak!


Tamparan keras terdengar di telingaku.


"Kau itu Kakaknya yang berjuluk dewa. Tetapi, kenapa pikiranmu seperti itu? Seonggok bangkai? Tarik kembali ucapanmu, Tuan Damien!" pinta Acasha bersuara lantang.


Damien terdiam. Dia memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Acasha.


"Kenapa? Sakit?" tanya Acasha yang masih terdengar emosi.


Damien masih membisu. Aku tahu, sesungguhnya Damien ingin menatap Acasha, tetapi hal itu tidak dia lakukan karena akan melemahkan energi dewa yang dia miliki.


Damien terdengar mendengkus kesal kemudian pergi tanpa pamit meninggalkan Acasha begitu saja. Sementara wanita cantikku terlihat kembali meraih kepala dengan wajah yang semakin pucat pasi.


"Sayang, walau tubuhmu mematung. Tapi aku tau, jiwamu masih di sini. Aku kini bisa menatap wajahmu yang pucat pasi puas-puas. Terima kasih, kau telah penuhi janjimu untuk kembali bersamaku. Percayalah, aku akan selalu bersamamu. Akan kuawetkan tubuhmu, hingga aku akan selalu merasakan tubuhmu, Sayang. Kau akan selalu kudekap walau mungkin tidak dapat lagi bergerak. Aku mencintaimu, Sayang. Benar-benar mencintaimu," ujar Acasha yang memandang wajahku lekat-lekat. Sementara aku, masih mematung di bawah pohon Pinus bersama Hazzel.


Pemandangan ini begitu menusuk hatiku. Setelah panjang lebar Acasha mencurahkan perasaannya terhadapku dengan mentari yang hampir tenggelam sore hari. Menyisakan warna jingga dan hati yang luka.


Acasha, begitu tulusnya kau mencintaiku? Beruntungnya aku, karena di akhir hayat masih bisa melihat bahkan mendengar dengan jelas semua isi hati yang tercurah untukku.


Sinar jingga kini menyinari seonggok bangkai yang berada di pangkuan Acasha. Air mata Acasha kembali tertumpah ruah tepat mengenai lubang yang ada di perut bekas tusukan pedang.


"Jika Tuhan mengizinkan, aku ingin kau kembali hidup, Sayang," ujar Acasha lirih. Seketika, jiwa ini seolah ada yang menarik. Aku melihat jasadku diselimuti sinar berwarna jingga.


"Sayang?" ucap Acasha dengan mata sendu.


'uhuk!' Aku terbatuk ketika membuka mata dan melihat wajah cantik Acasha.


"Acasha?" Suaraku terdengar berat.


Aneh, purut hingga punggung terasa lebih membaik. Tidak ada sakit atau pun perih. Apakah aku masih hidup? Atau, malah sudah mati?

__ADS_1


"Thanks, God! Kau mendengar doaku!" Teriak Acasha sambil menengadah ke langit jingga. Setelah itu, Acasha membungkam mulutku dengan bibirnya.


__ADS_2