
Aku mengikuti lelaki tua yang berjalan terbungkuk dengan tongkat kayu. Hingga akhirnya, kami telah sampai di kastil tua. Terlihat dari dinding luar yang mulai berlumut. Tampaknya, kastil ini tidak terawat.
Mataku terbelalak tatkala melihat penghuni kastil. Penghuninya berbagai hewan liar dan sungguh menyeramkan jika seorang manusia harus tinggal dengan hewan-hewan liar dan buas di dalam sana.
Terlihat ular, harimau, jaguar, serigala bahkan hewan jinak seperti kelinci dan hewan-hewan kecil lainnya yang sering menjadi peliharaan manusia.
"Siang, Kek."
Aku cukup kaget ketika mendengar seekor singa menyapa lelaki tua yang sedang bersamaku.
"Siang. Rubahlah wujudmu agar tidak tampak menyeramkan di depan tamu," kata lelaki tua yang sedang berjalan bersamaku.
"Baik, Kek."
Seketika singa itu berubah menjadi sosok yang tampan dengan perawakan tinggi tegap serta terlihat gagah.
"Leo, tolong suruh pembantu untuk menyiapkan makan siang untukku dan pemuda ini. Suruh semua penghuni berubah agar tidak terlihat menakutkan," kata si Kakek pada sang singa yang bernama Leo.
"Baik, Kek."
Leo berjalan menjauh, hingga akhirnya menghilang ketika dia berbelok. Mungkin dia sedang mempersiapkan menu makan siang untuk kami. Tetapi, menu apa yang akan mereka hidangkan untuk kami? Daging segar?
Aku diajak ke ruangan yang cukup besar dengan meja panjang dan banyak kursi yang berderet rapi di sana. Di atas meja terdapat piring dan gelas yang tertutup rapi dan bersih.
"Duduklah," ujar lelaki yang lebih akrab disebut kakek oleh penghuni kastil tua.
Aku menarik kursi setelah si kakek duduk. Pantatku pun mengikuti jejaknya yang duduk di kursi yang terbuat dari kayu berukir emas terlihat mewah. Berbanding terbalik dengan penampakan kastil yang terlihat kumuh dari luar. Barang-barang di dalamnya malah terlihat mewah dan megah.
Kami menunggu makan siang. Dari belakang, mereka datang dengan membawa sesuatu dalam wadah yang tertutup. Satu persatu menyajikan bawaan mereka di meja panjang. Mereka membuka wadah tersebut dan ternyata banyak menu makanan dengan berbagai varian masakan yang tercium wangi yang menggoda.
Hampir semua meja terisi dengan makanan dan minuman yang terlihat lezat. Aku sangat tidak menyangka akan dijamu oleh makanan dan minuman yang sungguh banyak.
"Silakan, Kek, Tuan," ujar seseorang perempuan.
Si kakek mengangguk dan si perempuan muda itu pun berdiri tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Pergilah. Tinggalkan kami berdua di sini," titah si kakek.
"Baik, Kek. Permisi." Wanita itu pun berjalan menjauh kemudian menghilang.
"Mari, selamat menikmati," ujar si kakek.
Sebenarnya, ada sedikit keraguan dariku tentang makanan yang tersaji. Ini hanya ilusi ataukah nyata? Entah, karena kekuatan dewaku telah hilang.
Aku mengangguk ragu dan ternyata sepertinya si kakek mengetahui keraguanku. Bibir si kakek terlihat sedikit tersenyum.
"Makan saja. Tidak ada yang aneh dalam makanan ataupun minuman yang tersaji. Mereka menyiapkannya dengan sungguh-sungguh tanpa racun yang mengakibatkan kau mati," katanya sambil menyendok nasi ke piring yang berwarna emas.
Aku tersenyum dan mencoba untuk percaya. Perutku sudah mulai sakit karena menahan lapar yang terlalu lama. Apakah manusia seperti ini? Mereka harus menahan lapar jika tidak ada makanan yang tersedia di rumah. Menyedihkan.
Aku mengambil piring dan memberikan nasi juga lauk pauk yang memang tercium wangi dan menggoda perut keronconganku saat ini.
Nasi dan lauk telah meluncur ke mulutku. Terasa enak, aku akui kalau mereka sungguh pandai memasak.
"Bagaimana? Enak?" tanya si kakek ketika aku mengunyah pada suapan pertama.
"Makanlah yang banyak. Kau akan ke luar dari hutan ini tepat malam hari nanti. Dan kau akan menemukan lautan dengan pantai yang berpasir putih. Di sanalah, kau akan kembali berpetualang. Kau harus menyelam hingga ke dasar lautan agar menemukan pohon apel emas," kata si Kakek menjelaskan. Aku hanya mengangguk lalu meneruskan makan dengan lahap.
Usai sudah perut terisi hingga aku bersendawa karena merasa kenyang. Si kakek tersenyum ketika melihatku.
"Kenapa anda tersenyum?" Aku bertanya pada kakek berambut yang hampir semuanya memutih.
"Aku teringat akan sosok lelaki yang mencoba untuk mencari apel emas," katanya dengan seulas senyuman.
"Apakah dia mendapatkan apel emas itu?"
"Tidak. Dia tampaknya mati mengenaskan," katanya yang membuatku merinding.
"Mati mengenaskan bagaimana?"
"Dia terombang-ambing di lautan lepas. Entah karena apa. Mungkin saja niat dia belum bulat untuk mencari apel itu yang akhirnya malah terseret ombak di tengah-tengah lautan dan jasadnya tidak ditemukan," katanya.
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Wajahnya persis sepertimu, anak muda," kata si kakek yang membuat mataku membulat sempurna.
"Sepertiku?"
Kakek itu mengangguk. "Iya. Aku masih ingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. Dia masih muda dengan wajah yang mirip sepertimu. Mungkin, tepatnya sekitar 28 tahun yang lalu aku bertemu dengannya," kata si kakek yang membuat jantungku berdetak kencang dan pikiranku teringat akan ayah.
"Tetapi, ada rumor yang mengatakan kalau sesungguhnya lelaki itu masih hidup. Entah, tidak ada yang tahu pasti karena kejadian itu sudah puluhan tahun dan si lelaki itu belum kembali ke hutan ini," katanya.
"Mungkin saja dia masih hidup, dia pulang ke rumahnya melewati jalan lain," kataku mencoba menebak.
Kakek itu menggeleng.
"Tidak ada lagi jalan selain melalui hutan ini. Jika kau selamat, kau pun akan kembali dipertemukan denganku di hutan ini."
Entah apa yang dia katakan itu benar atau tidak. Karena, aku sendiri pun baru akan memulai perjalanan ini. Akan tetapi, aku malah teringat sosok lelaki yang dikatakan mirip denganku. Ketika kejadian 28 tahun silam, ayah pun menghilang. Tetapi, sialnya aku tidak mengetahui raut wajah ayah sama sekali.
Mentari sudah berada tepat di atas kepala. Harusnya, suasana saat ini terasa panas. Tetapi tidak ketika berada di hutan lebat ini. Cahaya mentari begitu minim menembus dedaunan yang rimbun.
Aku berpamitan pada kakek itu untuk kembali melanjutkan perjalanan yang mungkin saja akan terasa berat untukku. Karena, aku telah seperti manusia yang tidak mempunyai kekuatan yang membedakan kami.
"Berangkatlah. Restuku menyertaimu wahai anak muda," kata si kakek sambil menepuk pundakku.
Aku tersenyum.
"Terima kasih, Kek."
"Aku yakin, kita akan kembali dipertemukan di kastil ini. Karena, aku melihat tekatmu yang bulat. Kau ingin mempersunting anak manusia, bukan? Dia wanita pemilik kecantikan sempurna di alam jagat raya ini," katanya dengan seulas senyuman.
"Dari mana Anda tau, Kek?" Mataku menyipit.
"Ketika seseorang yang datang melewati hutan ini untuk mencari apel emas. Dengan sendirinya aku akan mengetahui tujuan dan kehidupan sebelum dia datang ke mari. Berangkatlah, mentari sudah tepat berada di kepala dan kau harus sampai di lautan ketika malam tiba dengan cahaya rembulan yang akan menyinari malam nanti."
Aku mengangguk dan gegas berangkat.
__ADS_1