CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Mermaid


__ADS_3

Dalam kerajaan bawah laut yang di dalamnya terdapat banyak Mermaid. Aku diajak ke salah satu ruangan, di mana terdapat ruangan dengan cahaya terang tetapi tidak menyilaukan mata. Cahaya putih seperti rembulan yang begitu menyejukkan pandangan.


Di ruangan sana terdapat ranjang dengan nuansa pink lembut serta pernak pernik perempuan.


"Masuklah," ajaknya ketika kami masih berada di depan pintu berwarna putih dan ada tirai yang tergantung dari kerang-kerang kecil yang terlihat semakin manis ketika membukanya.


Aku mengekor. Putri duyung itu kemudian menyuruhku untuk duduk di tepi ranjang yang terbalut dengan kain yang sangat halus. Kulit yang menyentuhnya, pasti akan mendapatkan sensasi berbeda.


Mataku membulat, ketika putri duyung itu membuka baju yang hanya menutup bagaian intim saja.


"Kau mau apa?" tanyaku ketika melihat sehelai baju yang hampir tertanggal.


Jemarinya menghentikan aksi yang mungkin saja bisa membuatku tergoda. Bagaimana tidak? Seorang dewasa yang pernah, bahkan sering melakukan hal itu, kini harus kembali melihat keindahan dari wanita. Apakah aku akan kuat?


"Panggil aku Clara," katanya sambil berenang ke arahku.


Dia terlihat mengambil sesuatu kemudian memakannya. Hanya dalam beberapa saat, ekor Clara berubah menjadi kaki jenjang yang putih. Wow, dia sekarang tampak seperti manusia.


Clara semakin mendekat ke arahku. Dia jalan dengan melenggak-lenggok kemudian duduk tepat di sampingku.


Tanpa meminta izin, Clara merebahkan tubuhku di ranjang yang sangat lembut. Anehnya, aku malah menikmati sensasi jemari yang kini mengusap dada.


Wajah kami hampir merapat. Sementara jemari lentiknya mulai menari-nari di wajahku. Dadanya merapat ke tubuhku, hingga degup jantungku semakin kencang ketika hal itu terjadi.


Aku teringat kejadian-kejadian di kerajaan sebelum mengenal Acasha. Aku yang begitu b3rengs3k telah menjamah banyak dayang di atas sana.


Jemari Clara mulai menyingkap baju yang kukenakan, hingga diri ini bertelanjang dada dengan degup yang semakin membara. Parahnya, Clara pun mulai kembali membuka bajunya. Hingga hampir setengahnya telah dia buka. Nanggung sekali.


Aku tidak mengerti apa yang ada dalam otaknya. Membuka baju hanya setengah saja. Apa mungkin sengaja? Agar aku lebih penasaran dan tergila-gila akan kemolekan tubuh indahnya? Terutama, bagian yang tersembunyi.


Mataku terpejam ketika Clara diam-diam mengecup dada dan meneruskannya ke leher. Tubuhku terasa terbakar ketika dia mencumbu. Oh, Tuhan. Aku rindu dengan hal ini. Tapi--


Seketika aku terperanjat ketika jemari lentik Clara mulai meraba ke bagian celana. Sepertinya dia hendak membukanya. Aku mendorong tubuh Clara hingga dia tidak lagi berada di tubuhku.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak mungkin melakukan hal itu," kataku mencoba menolak dengan halus.


Clara tersenyum. Bibir merah mudanya terkembang ketika melihatku.


"Aku tidak akan meminta apa-apa darimu. Termasuk tanggung jawab dan apalah itu. Aku hanya ingin merasakan tubuhmu yang terlihat sempurna dengan ketampanan parasmu yang membuatku tergila-gila."


Gil4! Sepertinya aku salah mengikuti seseorang.


"Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa."


"Apa kau yakin?" tanyanya dengan ekspresi wajah nakal ketika di tempat tidur.


"Yakin, kenapa tidak?" jawabku walau jantung berdegup kencang karena tergoda keindahan tubuhnya dan sentuhan lembut yang terlampau sudah kurasakan.


"Imbalannya apel emas."


Aku menyipitkan mata.


"Tidak perlu menyogokku dengan barang yang belum ada. Aku tidak sebodoh itu, wahai Nona!"


Wow ... ternyata dia benar-benar mengetahui di mana letak pohon apel emas itu. Apa kuberikan saja keinginannya? Toh, aku mendapatkan keduanya. Apel emas dan tubuh yang molek.


"Bagaimana?" tanya Clara yang seolah mengetahui kalau aku saat ini sedang berperang batin antara mengikuti keinginannya atau bertahan tetapi sulit untuk menemukan apel emas itu. Sungguh, rasaku ini seolah memakan buah simalakama.


Hening.


Clara kembali mendekatiku yang masih bertelanjang dada. Dia kini berada tepat di sampingku.


"Karismamu memang tidak dapat terelakkan, Tuan," bidiknya dengan sorot mata tajam.


Aku mengerjapakan mata. Berharap mendapatkan jawaban dari gundah yang kurasakan. Mengingat persediaan rumput ajaib yang semakin menipis, aku bisa apa dalam dasar lautan ini?


Sentuhan lembut kembali menggoda, membuat rasa yang kurasakan semakin tidak keruan dan memanas seiring kecupan hangat pada leher.

__ADS_1


Kecupan itu menjalar ke mana-mana hingga akhirnya berhenti tepat di telinga kananku. "Bagaimana? Apa kau sudah mengambil keputusan, Tuan?" tanya Clara yang kubalas dengan embusan napas kasar.


"Pikirkan baik-baik, kau bukan hanya mendapat apel emas. Tetapi, kau akan merasakan sensasi bermain-main di atas ranjang bersama Dewi Mermaid," baiknya yang seolah ******* manja.


Lord! Aku tidak dapat berbuat apa-apa ketika jemari lentik itu mulai kembali menari di tubuhku. Hingga akhirnya aku terperanjat ketika aku mendengar kalimat-kalimat dari langit. Ya, aku sebutkan kalimat dari langit karena aku tidak dapat melihat wujud makhluk tersebut. Akan tetapi, suaranya sungguh mirip dengan Acasha.


'Tuan, kesetiaanmu lebih berarti dibandingkan dengan apa pun. Termasuk apel emas.'


Aku terperanjat lalu kembali menjauhkan tubuh Clara yang menindih tubuhku dengan baju yang telah acak-acakan. Mata Clara membulat ketika aku memperlakukannya dengan kasar. Padahal, saat itu, Clara benar-benar memperlakukanku dengan lembut dan membuat imaji membara akan sebuah penyatuan.


Tanpa ada kata, aku duduk dan kembali memakai baju utuh. "Aku tidak bisa melakukan hal ini. Maaf!"


"Kenapa seperti itu? Apa kau tidak memikirkan tentang apel emas itu, Tuan?"


"Aku mencari apel emas itu untuk mempersatukanku dengan kekasihku. Bukan untuk berselingkuh denganmu!"


"Tetapi, ini bukan perselingkuhan, Tuan. Aku melakukan hal ini karena suka akan ketampanan dan tubuh kekarmu yang seolah nyaman ketika kau memperlakukanku di atas ranjang." Clara masih mencoba merayu.


"Maaf." Aku bangkit dari ranjang kemudian menyingkap tirai untuk keluar dari kamar yang penuh muslihat. Kamar yang seolah memberikan angan tetapi tidak secara langsung mengajariku arti perselingkuhan.


"Tuan! Tunggu!"


Aku tidak menghiraukan Clara dan memilih terus berjalan tanpa melihat lagi wajahnya.


"Tuan!"


Aku menoleh ketika Clara meraih tanganku. Kini, dia tepat di sampingku. Bersama mata yang sendu dan tangan hangat yang menggenggam. Clara seolah belum menyerah untuk merayuku.


"Apa aku boleh mencium bibirmu?" pintanya dengan mata menyipit, ragu.


Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Hingga wajah kami hanya berjarak beberapa inchi saja. Bahkan, aroma dan helaan napasnya kini terasa.


"Rupanya kau belum menyerah, Nona? Jangan salahkan aku kalau nantinya kau akan kehilangan," bisikku yang disambut dengan senyuman.

__ADS_1


"Aku siap," katanya yang kemudian tanpa izin hendak mencium bibirku.


"Tahan. Aku memang b3rengs3k. Tetapi tidak untuk berkhianat pada kekasihku. Aku teramat mencintainya," kataku yang kemudian berjalan menjauh dari Clara yang kakinya kini sudah berubah kembali menjadi ekor. Ternyata, cukup lama juga aku berada dalam godaan Clara---Mermaid cantik yang cukup gigih untuk menaklukanku.


__ADS_2