
Pagi ini begitu indah, dengan semilir angin yang berembus melalui ventilasi serta seberkas sinar keemasan mentari pagi yang membuat tubuh terasa hangat.
Aku bangun dari mimpi dan melihat Acasha yang masih terpejam. Mata indah itu masih merapat sempurna dengan bibir merah muda yang menggoda.
Jariku mulai jahil mengusap tiap lekukan indah yang berada di wajahnya. Posisi kami saat ini terbaring menyamping saling berhadapan. Aku mulai mengecup keningnya kemudian mata Acasha pun terbuka.
"Tuan," ucapnya lirih dan sedikit serak selayaknya orang yang baru bangun tidur.
Bibirku masih menempel di kening acasha mungkin saja saat ini dia melihat leher jenjangku. Si4l, ada yang menghangat di bagian leher depan. Kutelan salifa merasakan kecupan hangat yang mulai menjalar.
"Acasha, hentikan," pintaku pelan.
Terdengar tawa kecil dari bibir Acasha. "Kalau berani, pandanglah aku," tantangnya.
"Arrgghhh ... aku tidak bisa. Tolong hentikan, Sayang. Tidak mungkin kita melakukan hal--" ucapku terjeda dan aku malah semakin merasa hanyut oleh cumbu4nnya.
Tidak banyak, bahkan terkesan sederhana. Acasha hanya mencium leherku saja, tetapi hal ini membuat dada berdegup kencang.
"Acahsa!"
Aku meraih wajahnya dan kini mata kami saling menatap. Aku tidak dapat bertahan lama memandang netra Acasha yang seolah menghisap semua energi dewa yang kumiliki.
"Tuan kau tampan," ucap Acasha yang kemudian mengusap wajahku.
Aku tidak dapat menjawab. Bibir terasa kelu dan tenaga mulai melemah.
"Maaf, Acasha aku harus segera pergi. Bermainlah bersama Hazzel ke hutan belakang istana. Di sana ada danau kecil yang mungkin bisa membuatmu merasakan adanya aku di sana."
"Kenapa harus dengan Hazzel? Aku ingin denganmu, Tuan. Aku kekasihmu, bukan kekasih Hazzel!"
Acasha mulai mencari sesuatu, setelah dia melihat selembar kain sutra, dia meraih kemudian memakainya demi tenagaku yang kembali.
"Wajahmu terlihat semakin pucat, Tuan. Pulihkan lah segera, tapi--"
"Tapi kenapa?"
"Tetaplah di sini dan jangan meninggalkanku."
Aku memeluknya sangat erat dan hangat.
"Maksih, Tuan. Kalau seperti ini, aku merasa aman dan nyaman," katanya yang kemudian memeluk tubuhku erat.
Mentari mulai meninggi dan langit tampak cerah pagi ini. Nyanyian cicit burung kini terdengar di telinga. Burung-burung kecil yang saling bertautan untuk bercicit siang ini.
***
Aku bermaksud membawa Acasha ke danau yang berada di belakang kerajaan sebagai kenangan sebelum aku berangkat meninggalkannya.
"Aku ingin mengajakmu ke danau di belakang kerajaan. Apa kau bersedia, Nona Acasha?" tanyaku.
"Tentu saja aku bersedia, Tuan Eros, kekasihku. Aku bersedia dibawa kemanapun kau pergi," jawabnya dengan seulas senyum.
"Kemanapun?"
__ADS_1
"Ya, kemanapun."
"Ke ujung dunia?"
"Oh, no. Untuk apa? Jangan becanda, bukankah kau itu dewa?"
Aku tersenyum.
"Apa kau ingin merasakan sensasi terbang bersama Dewa Cinta yang sedang dimabuk asmara?" Bisikku sambil menyingkap rambut Acasha ke belakang.
Acasha mengangguk.
Aku meraih tangan Acasha. Membawanya keluar kemudian memeluk tubuhnya erat. Kami telah bersiap. Kubentangkan sayap putih ini kemudian kukepakkan hingga akhirnya kami berada di atas kerajaan.
Aku membawanya berputar-putar kemudian melepaskan sehelai kain yang menutup mata indahnya.
Terdengar tarikan napas dan embusan sekilas, kemudian terdengar tawa kecil juga tangan yang dibentangkan Acasha.
"Aku terbang ...." katanya dengan sedikit tawa.
"Tuan, aku terbang?" katanya seolah ingin meyakinkan diri sendiri.
"Iya, Sayang. Kita terbang," bisikku mesra.
"Ya Tuhan, amazing, aku tidak percaya. Ini sungguh nyata. Aku tidak bermimpi, aku tidak bermimpi, kan, Tuan Eros?"
Acasha seolah tidak percaya, dia takjub melihat kerajaan yang kini berada di bawah kakinya.
Keadaan kerajaan memang sudah tampak sepi. Malam ini langit begitu terang dengan cahaya bulan purnama yang begitu terang.
Acasha sepertinya tahu pintaku, dia samasekali tidak melihat ke arahku. Padahal, sesungguhnya bisa saja dia melirik. Tetapi hal ini tidak dia lakukan.
Rembulan semakin terlihat terang, aku membawa Acasha ke danau dan turun di tepi danau. Di sana ada bangku yang terbuat dari kayu, Acasha duduk, sedangkan aku melingkarkan tangan di pundaknya.
"Tuan, terima kasih," katanya seraya mengecup punggung tanganku.
"Untuk apa?"
"Kau selalu membuatku tersenyum bahagia. Aku berharap, kita akan bersatu suatu saat nanti," katanya dan kembali mengecup hangat punggung tangan ini.
Semoga, Sayang.
Aku mengecup pucuk kepala Acasha dan dia menggenggam tanganku erat.
"Aku tidak dapat menjanjikan hal manis untukmu, Acasha. Tetapi, aku akan berusaha membuatmu tersenyum."
"Tuan, boleh aku memelukmu? Aku berjanji akan menutup mataku agar energimu tetap stabil."
"Boleh. Ke marilah."
Acasha berdiri dari bangku yang sedang dia duduki. Tubuhnya berputar, hingga akhirnya posisi kami telah berhadapan. Aku mengusap pipinya, mengusap hidung dan berakhir di bibir dengan kecupan hangat dari Acasha.
Tangan Acasha kini melingkar di pinggangku, napasnya terasa hangat di dadaku. Tuhan, andai aku boleh meminta, aku ingin ditakdirkan satu kasta dengan Acasha. Tetapi, apakah itu mungkin?
__ADS_1
Acasha semakin erat memelukku. Kami berpelukan di tepi danau dengan penerangan sang rembulan. Cahaya putih yang memantul di danau, terlihat berkilauan. Hilir angin meniup air pada danau itu hingga terbentuk siluet indah bak layar kapal yang berkibar.
"Tuan?"
"Iya."
"Esok ajak aku terbang, ya? Aku ingin terbang lebih tinggi daripada malam ini," kata Acasha.
"Memang kau berani?"
"Kenapa tidak?"
"Barangkali kamu takut."
Terdengar sedikit tawa dan ekspresi pipi memerah dari Acasha.
"Kenapa tertawa?" Aku mengernyitkan dahi ketika bertanya pada Acasha.
"Sesungguhnya aku takut. Tapi--" ucapnya terhenti.
"Tapi kenapa?"
"Dalam ketakutan itu, aku bisa memelukmu erat. Aku suka," katanya yang kembali tertawa.
Aku mencubit hidung mancungnya.
"Kau mengerjaiku, hah?"
"Menurut Tuan?" Pertanyaan Acasha seolah menantang.
"Hmmm ... awas kau, ya. Nanti aku kecup bibirmu. Baru tau rasa."
"Lakukan saja!" tantangnya sambil menjulurkan lidah. Ah, begitu menggoda.
Aku tersenyum melihat ekspresi wajah Acasha. Mungkin bagi orang lain, Acasha seperti agresif. Tetapi, ini yang aku suka. Tidak ada kepura-puraan dalam dirinya. Apa itu karena dia menyayangiku? Entah.
"Apa Tuan tidak jadi mengecupku?"
"Eh, malah nantang. Mau di mana? Pipi? Kening? Atau bi--" ucapku terjeda karena Acasha menyela.
"Leher," jawabnya singkat.
Astaga. Ini tantangan atau cobaan?
Acasha benar-benar membuatku gil4. Ucapannya yang hanya sedikit itu membuatku mati kutu --tidak dapat berkutik. Sesungguhnya debar dalam sini semakin kencang. Sepasang mata Acasha memang tertutup, tetapi ekspresi wajahnya yang seolah menantangku untuk mengecup leher putih nan jenjang yang kini berada di hadapanku.
"Tuan? Apa kau masih di sini?" tanya Acasha menganggetkanku.
"I-iya. Aku ada di sini."
"Kenapa gerogi? Apa Tuan tidak berani?"
Ahs! Lord, tolongggg! Acasha menantangku?
__ADS_1