
Aku menitipkan Acasha pada Hazzel untuk kembali ke atas langit dan bermaksud meminta izin pada Ibu. Mungkin saja Ibu akan merestui kami untuk bersatu.
"Sayang, jangan pergi ke mana-mana, ya? Aku pulang sebentar saja. Ada Hazzel di sini yang akan menemanimu," ucapku pada wanita cantik dengan pakaian yang terbuat dari kain sutra yang begitu lembut membalut tubuhnya.
"Beneran hanya sebentar?" katanya sambil memandangku dengan sorot penuh selidik.
"Iya." Aku mencubit pelan hidung mancungnya.
"Janji?" Acasha mengacungkan jari kelingkingnya tepat di depan wajahku.
Aku meraih seraya mengecupnya.
"Ish! Serius, Sayang," protesnya kesal.
Aku tersenyum.
"Iya, iya. Sini, aku ikat kelingkingku dengan janjiku." Aku mengaitkan kelingkingku dengan dirinya. Senyum catok terkembang di bibir Acasha.
"Hati-hati, ya? Aku akan menunggumu di sini, Sayang," ucap Acasha yang kemudian memelukku erat.
Gaun dari sutra sungguh begitu lembut dan membuat imajiku seketika melayang. Aku membayangkan jika menyentuh tubuhnya dan-- Ah! Apa yang kau pikirkan, Eros?!
Aku memeluk Acasha dengan debar yang aneh. Seolah, aku ingin segera memiliki dia seutuhnya. Andai saja kau telah menjadi istriku. Aku akan mendekapmu lebih daripada ini, Sayang!
Segera kutepis rasa yang ada dalam otak yang turun kepada benak dan bersemayam dalam hati melalui nafsu yang membara. Aku merasa tersiksa jika berada dalam keadaan seperti saat ini. Semoga aku selalu bisa menahan hasrat, hingga aku bisa memilikimu seutuhnya.
Pelukan yang hanya terjadi beberapa menit terasa begitu menyiksa karena aku harus menahan hasrat ketika diri ini menginginkan hal indah bersama Acasha. Sudahlah, Eros. Waktu indah itu akan tiba asal kau bersabar! Lagi-lagi, aku hanya dapat menyemangati diri sendiri.
"Baiklah. Berangkat saja, aku akan setia menunggumu di istana yang telah bobrok ini," ujar Acasha dengan seulas senyuman.
Aku mengangguk, lalu mengecup pucuk kepalanya. Kebiasaan yang sering aku lakukan dulu. Hingga sekarang, aku masih begitu suka mencium pucuk kepala Acasha.
Hujan telah reda. Banjir pun telah menyurut. Aku bersiap untuk terbang ke atas langit. Aku mengembangkan sayap putih dan dari kedua sorot mata Acasha melihatku dengan ekspresi takjub.
"Kenapa?" tanyaku dengan seulas senyuman.
"Sayapku indah, Sayang. Akankah aku mempunyai sayap seindah itu?" tanya Acasha sambil mendekat ke arahku lalu mengisapnya dengan lembut.
__ADS_1
"Bisa saja. Tetapi sayap sementara, aku dapat memberikanmu sayap sementara, Sayang."
"Really?" Dia memicingkan mata.
Aku mengangguk.
"Aku mau," katanya dengan suara pelan.
"Boleh. Tapi tidak saat ini, ya?"
Acasha mengangguk.
"Ya sudah, aku pergi. Tetapi, aku akan menemui dulu Hazzel untuk menitipkanmu padanya."
"Apa yang dapat dia jaga, sayang? Toh dia hanya sekadar kuda putih," uuar Acasha dengan senyum nakal malam ini.
Aku hanya tersenyum. Kamu tidak tahu saja kalau sesungguhnya Hazzel merupakan lelaki yang tampan, Acasha.
Aku terbang mengepak-ngepakan sayap untuk menemui dulu Hazzel. Setelah menitipkan Acasha padanya, barulah aku merasakan sedikit tenang. Sesungguhnya dalam hati tetap saja tidak rela. Bagaimana tidak? Aku menitipkan Acasha pada seorang laki-laki. Terlebih, Hazzel pun mempunyai rasa suka pada Acasha. Akan tetapi, tidak ada lagi yang dapat menolongku selain dia. Karena kerajaan hanya menyisakan Acasha dan seekor kuda putih.
"Hati-hati, Eros," ujar Hazzel ketika aku hendak terbang meninggalkan bumi menuju langit.
Langit sudah tidak lagi memberikan hujan hingga aku dapat menembus gumpalan awan cukup mudah. Hanya saja, baju yang aku kenakan menjadi basah karena embun-embun yang masih menempel di awan yang aku lewati.
Kerajaan atas langit tampak sepi. Seluruh penghuni tampaknya telah terlelap. Hanya beberapa saja yang masih terjaga di pintu gerbang.
"Tuan Eros?" sapa seorang lelaki ketika melihatku datang ke istana.
"Kalian kenapa menatapku seperti itu?" Aku mengernyitkan dahi ketika memandang wajah mereka. Ada yang aneh ketika mereka melihatku malam ini.
"Bu-bukannya, Tu-an Eros itu sudah--" kata seorang lelaki dengan nada suara yang terbata-bata.
"Sudah apa? Kalau ngomong itu yang jelas."
"Emm--itu, anu." Mereka masih tidak jelas hendak mensupport atau bahkan ingin menghakimiku.
Aku meloyor melewati mereka tanpa kata.
__ADS_1
"Bu! Ibu!" Aku memanggil. Tidak menunggu waktu yang lama, ibu keluar dari dalam kamarnya. Mata ibu terlihat menatapku.
"Kau pulang Eros? Kau masih hidup?" ujar Ibu sambil mendekat ke arahku.
Apa maksud ibu dengan kata masih hidup? Apa mereka semua menganggapku telah mati?
Ibu mendekapku hangat. Lalu mengusap wajahku pelan. "Benar, kau ternyata masih hidup. Aku bahagia," ujar perempuan yang dulu melahirkanlku.
Ayah dan juga Damien akhirnya keluar dari kamar mereka. Hampir sama dengan ekspresi ibu, mereka pun terlihat kaget kala menatapku yang telah berdiri di dalam istana.
Aku melihat Ayah dan ibu yang tidak hentinya menebar senyum dan aku meyakini bahwa mereka berdua sedang bahagia. Aku bisa mengambil kesempatan dalam hal ini untuk meminta izin pada mereka tentang menikahi Acasha, wanita yang sangat aku cintai.
"Kamu baik-baik saja, kan, Eros?" tanya Ibu.
"Baik. Memangnya siapa yang bilang kalau aku telah mati?"
Keduanya melirik ke arah Damien yang disambut senyum masam dari bibir Damien.
"Maafkan aku, Eros. Aku melihatmu ketika kau ditusuk pedang di tepi danau," ujar Damien mejelaskan.
Ternyata semua penghuni di atas langit telah mengetahui kabar ketika aku meninggal tanpa ada klarifikasi kalau sesungguhnya aku masih hidup dan sehat hingga detik ini.
Aku menjelaskan pada Ayah dan Ibu yang disaksikan oleh Damien kalau memang, aku itu telah mati tetapi dapat kembali bangkit oleh perempuan yang bernama Acasha. Cinta tulusnya yang dapat membangunkan ku dari mimpi buruk.
"Aku ke sini untuk meminta restu pada kalian, kalau aku ingin mempersunting Acasha."
Aku sudah begitu yakin mereka semua akan merestui niatku untuk mempersatukan aku dengan Acasha.
"Aku merestuimu, duhai anakku," ujar Ayah yang memelukku erat dan tepukan di punggung sebagai support.
"Kau berhak untuk bahagia. Terlebih, aku mengetahui tentang tekadmu padanya. Kau hampir saja kehilangan nyawamu demi dia. Kau pantas hidup bahagia, Eros." Damien pun memelukku hangat.
Dua orang yang aku cintai telah mendukung niatku. Aku sudah sangat bahagia dan hanya menunggu restu dari Ibu saja.
"Aku tidak mengizinkanmu menikah dengannya," ucap lirih Ibu tetapi sangat membuatku merasa sakit ketika mendengarnya.
"Apa? Ibu tidak merestuiku mempersunting Acasha? Why?" Aku menyipit menatap sepasang mata Ibu.
__ADS_1
"Karena kalian tetap saja dua makhluk yang berbeda," katanya yang membuatku tersenyum masam. Bagaimana tidak? Aku dan Acasha dilarang berhubungan karena aku seorang dewa dan Acasha seorang manusia. Lalu, apa kabar dengan Ibu dan Ayahku? Apa mereka satu kasta?