CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)

CLEON EROS (Dewa Cinta Yang Jatuh Cinta Pada Manusia)
Peperangan


__ADS_3

Aku dan Ayah hendak ke pinggir pantai. Ombak yang cukup besar membuat kami merasa kesulitan menepi. Walau susah payah, akhirnya kami berhasil.


Ayah mulai memakan apel emas dan aku cukup takjub ketika melihat apel itu telah habis, tidak menunggu waktu lama. Sirip ekor itu berubah menjadi kaki setelah sinar yang cukup menyilaukan mata telah membalut ekornya.


"Amazing!" Aku tersenyum.


Ayah mendekapku erat. "Terima kasih, Nak," ucapnya ketika tangannya melingkar di punggung sambil menepuk-nepuk.


Aku mengangguk. "Ibu pasti bahagia, Ayah. Aku yakin itu."


"Semoga," katanya terdengar parau.


Aku melepaskan dekapan Ayah. Menatap tajam mata tuanya seolah mencari jawaban yang mengambang. Di mana dia harusnya senang, tetapi ayah terkesan pasrah dan seolah tidak bahagia dengan keadaan ini.


"Apa Ayah tidak bahagia?"


"Bukan. Bukan itu."


"Lalu?"


"Aku masih terlalu takut kalau ibumu akan mengetahui semuanya tentang pengkhianatanku bersama Clara ketika hendak mencari apel emas."


"Ayah tidak perlu khawatir. Janjiku tidak akan pernah meleset dan aku akan selalu menutup rapat karena menurutku, Ayah masih pantas diberikan kesempatan kedua."


Ayah mengangguk.


"Selamat, akhirnya aku dapat melihat Ayah kembali bersatu dengan ibu."


"Tapi, apa ibumu mau?" jawabnya yang seolah ragu.


"Aku yakin, Ibu mau. Dia pasti bahagia melihat ayah kembali ke istana. Karena yang kami ketahui, Ayah itu telah meninggal."


Bibir Ayah tersenyum dan kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke istana atas langit.


Kami harus melewati kembali hutan belantara. Di sana ada kakek yang baik hati. Mungkin saja, dia menungguku. Karena katanya, kami akan kembali bertemu di kastil tuanya.


Kami mulai memasuki bibir hutan dan telah meninggalkan pantai yang penuh kenangan. Tentang menahan rindu, amarah dan ***** dari seorang makhluk yang bernama Clara. Di lautan itu juga, aku kembali dipertemukan dengan Ayah. Sungguh di luar dugaan kalau aku malah akan menemukan Ayah karena setahuku, Ayah telah meninggal dan tidak mungkin aku temukan dia selain di kehidupan kedua.


Kami semakin dalam memasuki hutan belantara dan mentari siang seketika sirna. Hanya sedikit saja yang berhasil menembus dedaunan yang rimbun dan pohon-pohon besar berdiri kokoh menjadi penghuni setianya.


Ayah meminta izin padaku untuk mengambil buah cherry yang ada dalam hutan. Sedangkan aku memilih berjalan sembari mengingat-ingat rute pulang ke hutan belantara.


"Selamat anak muda. Rupanya kau kembali dengan selamat seperti perediksiku," kata si lelaki tua yang akrab di sebut kakek dengan rambut yang hampir semua memutih.

__ADS_1


Aku kembali tersenyum ketika bertemu dengannya, berarti aku telah benar dalam melangkah sesuai ketentuan dari Kakek itu.


"Ke marilah," ajaknya ramah.


"Aku kembali bersama ayahku, Kek. Dia masih berada dalam hutan sana." Aku menunjuk ke belakang.


"Ayahmu?" Sepasang mata si kakek menyipit.


Aku mengangguk.


"Sebentar lagi beliau ke sini," kataku sedikit menjelaskan.


Benar saja, Ayah segera datang menyusul kami. Di tangannya menggenggam buah cherry yang terlihat menggoda. Ayah tersenyum ketika menghampiriku dan juga si kakek.


"Apa kabarmu saudaraku?" sapa Ayah pada si kakek.


"Kau selamat?" Terlihat ekspresi wajah kakek itu kaget. Dengan mata membulat bahkan seolah hampir saja keluar dari tempatnya.


"Iya. Aku selamat dan aku kini bisa bersatu dengan istriku di atas langit karena kebaikan putraku ini," ujar Ayah sambil menepuk pundakku seolah penuh rasa bangga.


"Apa?" Wajah si kakek terlihat syok mendengar ucapan Ayah.


"Kenapa, Kek?" tanyaku dengan dahi yang sedikit berkerut.


"Harusnya apel ini untuk anakmu semuanya. Karena dia pasti akan membutuhkan kedua apel itu," jawab si kakek.


"Tidak, Cleon. Kau tetap membutuhkan keduanya," katanya yang seolah memaksa.


Si kakek menjelaskan akan ada hal yang akan memberatkan, ketika apel pertama telah dimakan dan entah itu seperti apa. Aku hanya bisa pasrah karena semuanya telah terjadi. Terlebih, kata Ayah, apel emas itu akan kembali berbuah setelah dua puluh tahun kemudian.


Ayah terlihat lemas ketika mendengar ucapan si kakek. Dia tertunduk lesu. Bahkan, buah cherry yang ada dalam genggamannya terlepas berhamburan begitu saja.


"Maafkan Ayah, Eros," ucap Ayah lirih tanpa melihatku.


"Tidak apa, Ayah. Toh, kita pun tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya," kataku berusaha menghibur, seulas senyuman manis kini tersungging.


Kami kembali diajak dan dijamu dengan baik di kastil si kakek. Seperti waktu dulu, aku disambut dengan makanan dan minuman yang melimpah ruah.


Kami melanjutkan perjalanan dan energi dewaku telah kembali setelah melewati hutan dan aliran sungai.


"Mari terbang, Ayah?" Ajakku padanya.


Sungguh di luar ekspektasi. Ayah menggeleng.

__ADS_1


"Aku tidak dapat terbang," katanya ketika melihat sayapku yang sudah terbentang.


"Kenapa?" Aku mengernyit.


"Aku bukan dewa seperti kalian. Aku jelmaan dari manusia dan makhluk lautan," katanya yang membuat mataku membulat sempurna. Ternyata aku merupakan keturuanan yang rumit. Antara dewa, manusia dan makhluk laut, entah itu mermaid atau apa.


"Hal itu yang membuat aku tergoda oleh Clara. Sesungguhnya dia sudah berusia ribuan tahun. Tetapi tidak akan ada yang menyangka dengan usianya. Wajah jelita yang menipu semua yang melihatnya akan lena, sepertiku," katanya dengan suara parau.


Aku menghela napas.


"Ya sudah, aku antar Ayah ke istana untuk bertemu ibu saat ini juga."


"Oh, iya. Kamu harus segera memberikan apel itu karena esok hari, khasiatnya akan menghilang," katanya yang membuatku cukup kaget dan bergegas membawa ayah terbang ke langit.


Untung saja, ada Damien dan aku memanggilnya. Ekspresi yang sama denganku ketika melihat lelaki yang datang. Dia terlihat heran, bahkan melihatku dan Ayah secara bergantian. "Kalian sama. Dia siapa Eros?" tanya Damien.


"Apa kau tidak mengenalnya? Siapa lagi yang katamu mirip denganku, Damien?"


"A-Ayah?" katanya terbata.


Aku mengangguk.


Ayah dan Damien berpelukan. Aku bisa melihat dan merasakan haru dan bahagia dari keduanya. Namun aku tidak dapat menyaksikan lebih lama karena harus segera memberikan apel emas ini untuk Acasha.


"Maaf, aku ada kepentingan lain. Tolong bawa Ayah pada Ibu, Damien. Tidak akan ada yang dapat memisahkan mereka hari ini, esok dan seterusnya," kataku yang kemudian kembali mengembangkan sayapku untuk terbang ke bumi.


Menembus awan yang tebal hingga akhirnya sore hari aku sampai ke bumi. Namun, mataku membulat ketika melihat kerajaan Acasha yang luluk-lantak.


Aku melihat terjadi peperangan di sana. Dua kubu yang saling menyerang. Aku tidak peduli. Yang aku cari hanya wanitaku. Wanita yang mampu merebut hatiku.


"Acasha! Kau di mana, Sayang?" sahutku ketika berada di kamarnya.


Sial! Dia tidak ada di kamarnya, aku segera ke balkon dan sepasang mataku melihat Acasha yang sedang berada di tepi danau. Segera aku terbang untuk menemuinya. Sementara dalam kerajaan masih terjadi peperangan hebat.


"Acasha?" Aku memanggil namanya.


"Sayang? Kau, kah, itu?" jawabnya tanpa menoleh.


"Iya, ini aku. Makanlah apel ini, agar tidak ada penghalang lagi untuk kita bersama," kataku.


Acasha meraih apel emas yang ada di tanganku. Tidak berselang lama, bunyi renyah gigitan telah terdengar hingga akhirnya Acasha berbalik badan.


"Tuan!" Mata Acasha membulat.

__ADS_1


Srreeekkk!!!


Terasa ada yang menembus punggungku. Ujung runcingnya telah menembus perut dan seketika darah segar mengucur deras. Gelap.


__ADS_2