
"Acasha?" Aku memanggil Acasha yang sedang berdiri di balkon kamar. Jemari lentiknya memegang pagar pendek terbuat dari batu yang mengelilingi kamarnya. Wajah cantiknya menengadah ke atas, seolah melihat rembulan yang cukup terang dengan bulatan yang sempurna.
"Tuan? Apakah itu kau?" Acasha melepaskan tangannya. Jemari itu seolah mencari keberadaanku.
Aku mendekat. Membiarkan tubuhku terjamah oleh jemari Acasha. Bibirnya tersenyum, ketika jemari lentiknya mendarat di dadaku. Dia mulai mengusap pelan dada ini kemudian naik ke wajah.
Acasha mulai mengusap pipi, sepasang mata, hidung dan terakhir bibirku. Dia terlihat suka ketika mengusap bibir ini yang membuat darahku mengalir deras.
Aku meraih tangan Acasha kemudian mengecupnya hangat dan lama. Bibir Acasha kembali tersungging, pandangannya berpaling, mungkin untuk menyembunyikan pipi yang biasanya memerah karena menahan malu.
"Kau cantik." Kataku membuat Acasha semakin memalingkan pandangannya.
Rembulan semakin meninggi, cahayanya tepat menyinari balkon kamar Acasha. Aku memapahnya untuk duduk di kursi yang ada di balkon ini.
"Apa kau suka?"
Acasha mengangguk.
"Jangan berbohong. Matamu saja tertutup, bagaimana kau bisa suka?"
"Aku suka karena ada kau, Tuan. Aku memang tidak dapat melihat keindahan bulan purnama. Tetapi, aku dapat mengusap bulan purnama melewati wajahmu."
Bibirku tersungging. Baru kali ini aku mendengar kata-kata yang mungkin berlebih, tetapi tidak kupungkiri kalau aku suka dan aku bahagia.
"Ceritakanlah padaku tentang purnama malam ini, Tuan," pinta Acasha lembut.
"Dia menggantung indah di atas sana, dengan warna putih yang menyejukkan pandangan. Sinar itu tepat menerangi ke arahmu. Wajahmu semakin berseri ketika cahaya purnama menerpa kecantikanmu, Acasha."
Aku bertutur panjang dan Acasha membalas senyum manis.
"Lagi," pinta Acasha dengan seulas senyum.
"Tidak ada lagi," kataku menggodanya.
Seketika ekspresi wajah Acasha murung dengan bibir mengerucut, cukup membuat bibirku tersenyum tipis ketika melihatnya.
"Hanya itu?" katanya dengan suara lemah.
"Iya."
"Bulan purnama ini sungguh berbeda."
"Memang, apa yang biasa kau lihat?"
"Aku melihat cahaya putih dengan banyak kunang-kunang berterbangan. Bahkan, tak jarang dia hinggap di tanganku. Aku melihat ke arah danau, cahaya itu terlihat indah, cahayanya memantul seolah menciptakan siluet di atas air," jelasnya.
Aku meraih tangan Acasha kemudian menangkap si hewan malam yang berbentuk kecil dan bercahaya.
"Mana tanganmu?" pintaku yang dibarengi oleh uluran tangan Acasha.
"Untuk apa?"
Aku tidak menjawab, hanya memberikan binatang kecil yang bercahaya seperti lampu-lampu kecil yang bersinar lembut.
Jemari Acasha menggenggamnya, "Geli," katanya dengan bibir tersenyum.
"Geli mana di antara hewan kecil yang kau genggam dengan kecupanku di jarimu?"
__ADS_1
"Idih ... kau gombal, Tuan."
Aku hanya tersenyum ketika melihat wajah yang saat ini memerah.
Kami berbincang tepat di bawah sinar sang purnama yang berada tepat di atas kami. Angin lembut seolah mengusap tubuh. Aku mengepakkan sayapku untuk mendekapnya.
Terlihat ekspresi wajah kaget ketika sayap putih nan lebar ini mendekap hangat tubuh Acasha.
"Apa ini?" katanya dengan jemari mengusap bulu sayapku.
"Selimut."
"Lembut sekali. Tetapi, ini seperti sayap. Boleh aku melihatnya?"
"Tidak usah. Cukup kau rasakan kehangatannya saja."
"Tuan?" Acasha memanggil.
"Iya."
"Ternyata Tuan laki-laki yang romantis," katanya dengan bibir tersungging indah.
"Dari mana kau tau?"
"Dari tutur katamu ketika membahas cahaya purnama dan selimut hangat seperti sayap yang seolah mendekapku."
"Tidak. Aku bukan lelaki yang romantis. Kau salah."
"Tetapi aku merasakan itu. Kau romantis, Tuan, dan aku suka."
"Mau berdansa?"
Aku meraih jemari lentik milik Acasha. Mulai memapah ke pundak kemudian melingkar di tengkuk. Perlahan, tubuhku dan Acasha bangkit.
Aku merapatkan tubuhku dengannya. Ada debar yang tidak biasa ketika tubuh kami saling melekat dan jemari saling mengait erat.
Aku memandang wajah Acasha yang memang mendongak, memandang wajahku walau matanya masih tertutup selembar kain putih yang halus.
"Tuan?" panggilnya pelan.
"Iya."
"Tubuhmu hangat," ucapnya yang kemudian menenggelamkan wajah cantik itu dalam dada.
Seketika dadaku berdegup kencang ketika wajah Acasha bersandar di sana. Ah, tidak tahu diri, kenapa debar ini tidak dapat terkendali? Memalukan!
"Aku mendengar degup jantungmu, Tuan. Aroma tubuhmu aku suka," ucapnya yang membuatku seolah terbakar ingin menyatukan dua tubuh dalam satu ikatan.
Aku semakin erat memeluk tubuh Acasha. Lengan bajunya yang pendek, membuat tangan Acasha terasa dingin.
Kami masih berdansa, menggerakkan kaki ke kiri dan ke kanan bergantian. Angin yang berembus, seolah nyanyian dansa untuk kami malam ini.
"Ini sudah larut malam, tidurlah," titahku sambil berbisik.
Acasha menggeleng, dia masih mendekapku erat dengan wajah yang masih bergelayut manja di dada.
"Aku belum ngantuk."
__ADS_1
"Tapi nanti kau sakit, Acasha."
"Aku tidak peduli."
"Tapi aku peduli!"
"Really?"
"Iya."
"Aku tidak percaya kalau kau tidak membuktikannya, Tuan," ucap Acasha yang membuatku sepontan mengecup bibirnya supaya diam.
Aku mengecup bibir merah itu dengan lembut. Tanganku mendekap kedua pipi Acasha dan memperdalam ciumanku untuknya.
Waktu seolah terhenti, ketika lenguhan napas Acasha yang seolah akan habis ketika aku menciumnya dalam beberapa detik.
"Tuan?" ucap Acasha ketika bibirnya terlepas dari bibirku.
"Terima kasih. Aku percaya kalau Tuan menyayangiku."
Entah, ini dibenarkan atau tidak. Sejauh ini aku memang sering melakukan hal ini pada wanita yang ada di kerajaan atas langit, bahkan lebih dari ini. Tetapi, baru kali ini hatiku berdebar dan jiwa terasa melayang ketika aku mencumbu bibir Acasha.
Terkadang, aku berpikir pada kaum Hawa. Kenapa mereka percaya ketika pasangan menciumnya, itu merupakan tanda cinta? Padahal, bisa saja itu hanya akal-akalan. Akan tetapi, apa yang aku rasa saat ini memang nyata adanya. Aku terlalu sayang pada Acasha.
"Aku telah membuktikannya, 'kan?" Aku berbisik yang malah membuat Acasha semakin mengeratkan pelukannya.
Acasha mengangguk.
"Tidurlah."
"Tapi, esok janji kita bertemu lagi, ya?" pintanya yang masih ada dalam dekapan.
"Kau tak bosan?"
Acasha menggeleng.
"Baiklah. Esok kita bertemu di sini malam hari."
"Aku pegang janjimu, Tuan Cleon."
Aku mengecup hangat pucuk kepala Acasha.
"Kau boleh membuka mata, setelah terdengar bunyi suara yang terjatuh. Paham?"
Acasha mengangguk.
Walau berat, aku melepaskan pelukannya kemudian merubah diriku menjadi elang untuk bisa menjatuhkan gelang kaki di atas ubin balkon kamar Acasha.
Krincing....
Suara beberapa lonceng kecil yang tersemat pada gelang kaki yang sengaja kujatukan. Sedangkan diri ini langsung mengubah diri menjadi kupu-kupu biru nan cantik.
"Rupanya kau telah pergi, Tuan." Kata itu meluncur dari bibir Acasha. Tangannya terlihat membuka kain penutup mata.
Acasha berjalan ke tepi balkon kamar. Dia seolah mencari seseorang. Matanya menangkap ke beberapa titik sudut kerajaan dan seketika ekspresinya berubah sedih.
"Tuan, aku kira masih dapat melihatmu. Ternyata tidak. Cepat sekali kau menghilang? Aku selalu merindukanmu, Tuan Cleon."
__ADS_1
Acasha mendongak, dia melihat sebentar ke arah bulan yang bercahaya begitu indah.
"Ternyata masih sama. Purnama kali ini masih bisa kunikmati walau tidak terlalu lama. Dia tetap bersinar indah."