
Acasha masih memelukku di malam gelap dengan kilatan petir dan suara guntur menggema menemani aku dan Acasha di balkon kamar.
Kami duduk di kursi sambil merasakan sejuk yang teramat dan aku membentangkan sayap untuk mendekap Acasha. Bibir indahnya tersenyum ketika sayap putih telah mendekapnya hangat.
"Terima kasih, Tuan. Kau selalu membuatku bahagia dan memberiku rasa aman walau sepasang mataku tertutup. Aku bisa merasakan kasih tulus darimu," katanya sambil menggenggam erat jemariku.
Sesungguhnya aku pun ingin membalas ucapan-ucapan yang terdengar indah. Namun, aku sadar diri. Kami berbeda, terlebih, Ibu telah mengeluarkan ultimatum yang berbentuk kutukan. Apa mungkin cinta kami tidak dapat dipersatukan?
Tega sekali Ibu padaku. Apa salahnya kalau Dewa Cinta mencintai seorang anak manusia? Bukankah cinta itu hadir dari Tuhan?
Ah, Cleon. Tampaknya kau melupakan sesuatu. Rasa cinta yang kau punya merupakan upanmu sendiri yang memanahkan anak panah pada dadamu hingga menembus perasaanmu. Dasar t*lol!
"Tuan? Kenapa kau diam saja? Apa kamu sakit?" tanya Acasha. Refleks jemari Acasha meraih wajah kemudian menemukan dahiku yang cukup dingin karena hujan dan angin malam ini.
"Kau kedinginan, Tuan. Mari masuk. Biar kuhangatkan dengan pelukan," bisiknya yang membuat jiwa liarku meronta.
"Kau menggodaku?" Mataku mengernyit kala bertanya pada Acasha.
Bibir Acasha terukir indah, terlihat kedua pipi yang memerah. Sepertinya dia malu.
"Menurut, Tuan?"
Mendengar pertanyaan darinya, adrenalin kelelakianku pun tersentak dan ingin memberontak. Apalagi, setelah aku mempunyai perasaan ini pada Acasha, aku tidak pernah melakukan hal itu terhadap wanita. Si4l! Aku harus bagaimana menghadapi Acasha?
Aku merasa menjadi orang bod*h dan tol*l di depan wanita yang satu ini. Merasa lemah tetapi bukan tidak mampu untuk melayaninya. Aku lebih takut akan menyakitinya kalau saja kami tidak dapat bersama karena berbeda kasta. Ya, aku Cleon, sang dewa cinta. Sedangkan Acasha merupakan anak manusia keturunan kerajaan yang cukup besar di daerahnya.
"Tuan? Apa kau menolakku? Kau tidak mencintaiku?" tanya Acasha terdengar pilu.
Aku tidak mungkin menghisap sari bunga yang cantik sepertimu. Aku memang ******, tetapi tidak untukmu, Sayang. Percayalah, rasa kasih yang kupunya itu tulus. Aku berusaha menahan hasrat walau sesungguhnya jiwaku sendiri berontak.
__ADS_1
"Tuan? Kenapa diam?"
"Ini sudah larut malam, Sayang. Baiknya kau tidur, istirahat agar hari esok bisa lebih fresh," pintaku sambil menyelipkan rambut Acasha di telinganya. Namun, tangan Acasha menepisnya.
"Kau bohong, Tuan. Bilang saja kalau kau ingin meninggalkan--" ucap Acasha terhenti karena bibirku membungkam rapat bibirnya.
Kecupan itu kini terjadi lagi dengan tangan yang meraba dan memeluk erat punggung. Kecupan itu semakin dalam hingga aku pun memejamkan mata merasakan sensasi lembut di bibir.
"Kamu percaya, aku selalu ada untukmu?" tanyaku setelah melepaskan kecupan di bibirnya. Aku mengusap lembut bibir Acasha dan tangannya meraih jemariku, dia mengecup jemariku dengan hangat.
Andai saja kau sebangsa denganku. Mungkin, dari dulu kita sudah-- Ah, sudahlah.
Acasha mengangguk.
"Terima kasih, Tuan."
***
"Cleon Eros!"
Langkah kakiku terhenti ketika Ibu memanggil dengan suara menyentak.
Suara langkah terdengar cukup jelas bahkan semakin mendekat. Kini, tubuh Ibu sudah ada di sisiku. Aku menoleh, mata melirik ke wajah Ibu.
"Aku tidak percaya dengan tugasmu. Sudah lebih dari dua Minggu kamu masih berputar-putar mengerjakan tugas yang tidak pernah usai. Sesungguhnya, kau berniat membantuku atau tidak?" kata Ibu dengan nada kesal.
"Aku sudah katakan, Ibu. Aku tidak bisa membantumu karena aku mencintainya. Tidak mungkin aku memanah agar dia tergila-gila pada lelaki lain."
"Eros!"
__ADS_1
Tamparan Ibu meluncur di pipi ketika memanggil namaku. Cukup sakit, tapi mau bagaimana?
Para pembantu istana menatap ke arahku, termasuk wanita-wanita yang dulu pernah kutiduri. Tamparan Ibu seolah tidak terasa ketika menyadari banyak pasang mata yang kini menatapku. Malu, sepertinya rasa ini yang mendominasi hati.
"Kalian lihat apa? Ayok bubar!" bentakku pada sekumpulan wanita yang kini menatapku lekat.
Mereka pun membubarkan diri setelah bentakku meluncur begitu saja.
"Eros, apa kau tidak takut dikutuk menjadi batu ketika Dewa Artemis mengetahui semua ini?"
"Mau bagaimana lagi? Lagian apa salahnya, sih, Bu? Rasa cinta ini mengalir begitu saja. Terlebih ketika anak panah meluncur ke dadaku. Seharusnya rasa itu telah memudar kalau memang hanya karena anak panah cinta yang kulesatkan dulu. Nyatanya? Ini sudah lebih dari dua Minggu dan rasanya tidak pernah berkurang, yang ada malah semakin banyak."
"Er--" ucap Ibu terhenti ketika tangannya telah diangkat, sepertinya dia telah bersiap untuk kembali menamparku. Akan tetapi, ada yang menahan tangan Ibu.
"Cukup, Ibu. Hal yang Ibu lakukan tidak akan merubah Eros." Damien ternyata melerai kami.
Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Di sini hanya ada rasa cinta yang terus tumbuh untuk Acasha. Seorang wanita cantik yang mempunyai perbedaan kasta denganku.
"Lalu, aku harus berbuat apa untuk menyadarkannya? Aku tidak ingin nasib Eros berubah menjadi batu hanya karena menjalin cinta dengan anak manusia."
"Maaf, Ibu. Lebih baik, Ibu pelankan suara Ibu agar penghuni di sini tidak ada yang tahu dan semoga Eros bisa kembali," ujar Demian. Dia terlihat sangat dewasa dan bijak untuk mengambil keputusan, sangat berbeda denganku yang masih jauh dan masih terburu *****.
Ibu terlihat lebih tenang, dia lebih memilih untuk pergi meninggalkan kami. Mungkin, untuk menjaga emosinya terhadapku. Aku bisa saja dikutuk jadi batu oleh dewa Artemis. Tetapi, kutukan Ibu akan lebih ampuh terhadapku --anaknya.
"Eros, sebaiknya kau tenangkan pikiran. Masuklah ke kamar dan coba pikir perlahan. Akhiri rasa cinta yang kau miliki untuk anak manusia itu jika kau tidak menginginkan hal tragis menimpa kalian. Kalau tidak menimpamu, ya menimpa Acasha."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Karena sudah tertulis, bahwa kami, bangsa dewa tidak akan dapat dipersatukan dengan manusia. Apalagi kalau kau telah mencintainya. Dia akan menyerap energi ketika dia melihat wujud aslimu."
__ADS_1
Ah, apa ini jawaban yang kucari selama ini? Ketika Acasha menatapku, energi yang kumiliki melemah. Tak ayal, aku selalu meminta matanya untuk ditutup ketika bersamaku. Miris. Acasha memadu kasih seperti seorang yang buta.
Dada terasa sesak ketika mengetahui semua kenyataan ini. Hal yang aku anggap akan baik-baik saja, ternyata menuai malapetaka untukku atau pun Acasha. Apa memang benar, Tuhan tidak merestui hubunganku dengannya? Lalu, kenapa Tuhan mengaruniai perasaan jatuh cinta terhadapku? Kata Ibu, semua berangsur akan menghilang. Tetapi nyatanya, perasaan cintaku semakin besar. Bulsh1lit!