
Hari ini langit tampak mendung, setelah Acasha sarapan, dia berjalan menuruni anak tangga. Namun, langkahnya terhenti ketika ibunya memanggil.
"Acasha!" seru ibunya yang sedang duduk di singgasana.
Aku hanya melihat dari atas karena Acasha melarangku untuk terbang di areal dalam kerajaan. Karena penasaran, aku mengubah diri menjadi sosok prajurit perang dengan pakaian yang terbuat dari besi dan mengubah wajahku agar Acasha tidak mengenali.
Perlahan, aku menuruni anak tangga dan berdiri di salah satu pintu dalam kerajaan.
"Iya, Ibu." Acasha menjawab santun.
"Ayah ingin berbicara penting."
"Tentang apa?"
"Pertemuanmu dengan raja muda dari kota sebelah. Ayah ingin mengatur perjodohanmu dengan Pangeran Andreas."
"Ya Tuhan, Ayah belum menyerah untuk menjodohkanku, Bu? Aku tidak ingin dijodohkan dengan siapapun karena aku sudah punya--" ucap Acasha terhenti.
"Punya apa?"
"Aku punya --Punya--" Acasha sepertinya tidak dapat melanjutkan jawabannya.
"Tidak jelas!"
Ibu dari Acasha pergi begitu saja, sedangkan Acasha seolah mengembuskan napas lelah dan putus asa.
Aku hanya dapat mengamati dari pintu ruang dalam istana yang memisahkan istana ruang pertemuan dengan istana dalam untuk keluarga kerajaan.
"Kamu!"
Aku terperanjat ketika seseorang memanggil. Kamu? Apa yang dimaksud itu aku?
Mataku melirik ke arah Acasha dan wanita itu kini berjalan mendekat ke arahku. Tuhan, apakah kekuatanku akan berkurang? Bisa saja penyamaranku terbongkar saat ini juga. Acasha bisa saja mengenaliku.
Aku tidak dapat berkutik, tidak mungkin juga aku kabur begitu saja. Posisiku terkunci.
"Sepertinya aku--" kata Acasha terhenti karena melihat raut wajahku yang mulai kembali berubah menjadi Cleon. Si4l sekali!
"Maaf, Tuan Putri. Saya ada tugas dari kerajaan," bantahku sambil memalingkan pandangan dari Acasha.
"Tapi aku mengenalmu, kamu Cle--" ucap Acasha terjeda karena aku melangkah untuk menjauh darinya.
Dasar tol*l! Kenapa aku harus mengubah menjadi prajurit?
"Tunggu, Tuan!"
Aku berlari ke luar dari istana, sesekali aku menoleh kebelakang dan si4lnya Acasha masih mengejarku hingga aku tidak dapat menghilang karena kekuatanku telah berukurang terus menerus.
__ADS_1
"Tuan! Aku belum bisa melihat wajahmu dengan jelas! Tapi aku yakin itu kau, kembali, Tuan Cleon!" Acasha terus berlari dan berteriak memanggilku.
"Putri Acasha! Tunggu!" Suara seseorang memanggil Acasha. Namun, si bod*h ini masih mengejarku.
Aku masih terus berlari dengan sisa kekuatan yang ada hingga akhirnya terdengar suara kuda yang sepertinya menghentikan langkah Acasha.
"Putri Acasha! Raja memanggilmu."
Aku bersembunyi di balik pohon kemudian mengintainya dari batang pohon pinus yang besar. Langkah Acasha pun terhenti ketika seorang prajurit dengan kuda gagah berwarna cokelat yang dia tunggangi.
"Aku masih mengejar seseorang. Kamu pergi saja dulu, nanti aku menyusul," perintah Acasha.
"Maaf, Putri. Saya tidak dapat melanggar perintah dari Sang Raja."
"Tapi aku benar-benar mencari dia."
"Dia siapa? Tidak ada orang di sini, Putri."
"Ada! Dia berlari ke hutan pinus. Dia pangeran impianku."
"Pangeran? Bukankah pangeran baru akan datang lusa nanti?"
"Arrgghhh! Kau tidak akan mengerti! Baiknya kau pulang saja lebih dulu!" perintah Acasha kesal.
"Maaf, Putri. Tidak bisa. Saya disuruh Raja untuk membawamu pulang. Seumpama Tuan Putri tidak mau, aku akan memaksamu!"
Acasha berteriak. Sayangnya aku tidak dapat mengintainya karena energiku yang semakin melemah. Bahkan, tubuh dan wajahku telah sempurna menjadi Eros, tidak dapat untuk menjelma sebagain siapapun, termasuk menjadi hewan sekali pun.
"Lepaskan dia!" pekikku dari balik batang pohon pinus. Berasa menjadi pecundang.
"Siapa kamu?!" tanya lelaki yang sepertinya prajurit yang hendak mengajak Acasha untuk kembali ke istana.
"Dia pangeranku. Tuan Cleon, tolong aku!" ujar Acasha bersuara kesakitan.
"Lepaskan dia! Kalau tidak, aku akan mengutukmu wahai prajurit yang kasar! Akulah Dewa cinta. Akan kukutuk kau tidak akan merasakan cinta seumur hidup kalau kau berani menyakiti Acasha!"
"Haha ... tidak usah bercanda, Tuan. Tunjukkan dirimu atau apa pun yang membuatku percaya kalau kau merupakan Dewa Cinta," remeh si prajurit karena tidak percaya.
"Petir akan datang dalam waktu beberapa detik mulai dari saat ini."
"Baik! Aku menunggunya," jawab si prajurit menyepelekan.
Tidak menunggu waktu lama, petir menyambar dengan sangat jelas dan guntur yang menggelegar menjadi bukti kalau ucapanku benar.
"Tuaannn ... .tolong aku." Acasha kembali merintih.
"Lepaskan Acasha kataku!!!" Seperti pengecut, aku masih bersembunyi tanpa melihat.
__ADS_1
"Tuan, kau salah paham. Aku tidak bermacam-macam pada Putri Acasha. Mungkin dia hanya ingin melihat wajahmu, Tuan. Putri Acasha hanya berpura-pura."
Astaga, benarkah yang dikatakan si prajurit tadi?
Aku cukup kaget ketika Hazzel sudah ada di sampingku.
"Sssttt!" Hazzel menutup bibirnya dengan telunjuk, mungkin maksudnya menyuruhku agar diam.
"Hazzel?" Aku menyipitkan mata ketika melihatnya.
"Ayok ikut aku!" Hazzel meraih tanganku dan entah. Aku kini malah ada dalam sebuah ruangan. Apa iya, Hazzel mempunyai kekuatan lebih?
Aku kini telah ada dalam ruangan yang cukup indah. Di atas langit yang berdiri sebuah tempat tinggal yang cukup nyaman. Tetapi, di dalam sini hanya ada aku dan Hazzel saja.
Bangunan yang berdiri di atas langit dan awan. Kini, telah terlihat sempurna ketika sang mentari telah menggoreskan warna jingga di langit.
"Kenapa kau membawaku kemari, Hazzel?"
"Kalau aku tidak membawamu serta kemari. Aku yakin, kau akan bertemu dengan yang bernama Acasha."
Benar juga apa yang dikatakan Hazzel --si kuda putih.
"Atau, kau memang sengaja ingin menampakan diri di depan Acasha sebagai Cleon --Si Dewa cinta?"
"Tadi kau dibodohi, Tuan. Prajurit itu benar. Dia tidak bersikap apapun terhadap Acasha, terlebih mengasari dia. Acasha berusaha memekik seperti itu, supaya kau keluar dan dia bisa melihat wajahmu."
"Tapi aku khawatir!"
Hazzel tersenyum miring kemudian membuang pandangannya ke arah lain.
"Benar-benar aneh. Kau itu Dewa Cinta. Tapi, kenapa malah kau yang terlihat tol*l, Tuan Cleon?" ujar Hazzel dengan senyum menyebalkan.
Aku memang tidak dapat berbuat apa-apa. Yang dikatakan Hazzel memang nyata adanya. Aku dewa tertol*l yang malah memanah diri sendiri. Hingga akhirnya aku hanya dapat tersenyum dengan kejadian aneh dan sedikit heran dengan semua yang telah kuperbuat. Apa ini kutukan atau malah keberuntungan untukku? Merasakan cinta dan rasa rindu yang semakin menggebu. Terlebih, bibir sensual Acasha yang seolah menjadi candu untukku.
"Kalau kau tak percaya. Coba ke sini."
Hazzel mengajakku ke suatu tempat. Dia memperlihatkan sesuatu yang dapat menggambarkan keadaan di bumi.
"Acasha?"
Terlihat Acasha dari dalam sana. Seperti cermin, tetapi benda itu dapat menunjukkan sesuatu yang terjadi di bumi.
Aku melihat Acasha yang sedang mengobrol dengan seorang laki-laki. Mungkin dia prajurit yang tadi. Entahlah.
Memang benar apa yang dikatakan Hazzel, bahwa sesungguhnya Acasha tidak disakiti sedikitpun. Sepertinya memang benar, kalau Acasha melakukan hal tadi hanya untuk memancingku supaya keluar dari tempat persembunyian.
Acasha, kau memang wanita yang cerdas!
__ADS_1