
Hazzel bercerita tentang sebuah barang yang harus di dapatkan. Ternyata, barang yang dimaksud adalah gold apple/apel emas yang berada jauh di laut dalam.
Tidak banyak yang tahu keberadaan apel itu. Hanya segelintir makhluk yang mengetahuinya.
"Aku ingin mencobanya."
"Kau yakin?" tanya Hazzel yang sedang memandang wajahku lekat-lekat.
"Iya. Kenapa tidak? Aku mencintai Acasha dan aku ingin melihat dia bahagia. Mungkin, dengan melihatku tanpa jeda, Acasha akan senang."
"Pasti. Pasti dia akan senang karena kau merupakan lelaki yang dia cintai. Hanya saja, apa kau sudah siap dengan segala konsekwensinya?"
"Kalau memang ada penangkalnya, kenapa tidak? Aku ingin bersatu dengan Acasha seutuhnya. Aku harus mulai dari mana untuk mendapatkan apel emas itu?"
"Mulailah berjalan ke arah barat. Kau akan menemukan sungai kecil dengan air jernih mengalir. Ikuti saja sampai hulu tersebut."
"Hanya sampai di sana keberadaan apel emas itu. Gampang sekali," remehku dengan bibir menyeringai.
"Perbaiki dulu tingkahmu."
"Maksudnya?"
"Kau terlalu sombong, Eros."
"Lahh ... memang terlalu gampang untuk mendapatkan apel emas itu. Kau hanya menyuruhku untuk mengikuti aliran sungai kecil, kan?"
Hazzel tersenyum kecut kemudian membuang pandangannya dariku. Dia berjalan sedikit menjauh, kemudian kembali menatapku yang masih menjadi seekor burung merpati putih.
"Itu baru awal. Di sana, nanti kau akan menemukan hutan belantara yang akan menembus lautan."
"Sebentar. Aku jadi bingung, kenapa kau sebut hutan belantara dan lautan? Sebenarnya, keberadaan apel emas itu ada di mana?"
"Di lautan dalam, hingga detik ini, apel itu belum pernah terjamah oleh siapapun, karena letak dan penjaga yang begitu hebat. Jadi, persiapkan nyali dan kekuatanmu dari mulai sekarang. Karena, tinggal satu kali bulan purnama lagi, kau harus berangkat."
Sesungguhnya ada sedikit keraguan dalam diri. Bagaimana bisa aku melewati semua itu? Aku kira hanya binatang-binatang buas yang siap menerkamku. Ternyata lebih dari itu. Apa memang apa yang dikatakan Hazzel itu benar? Bahwa, aku sombong dan terlalu menyepelekan sesuatu.
Aku kembali ke kamar Acasha. Cukup lama aku dan Hazzel membicarakan hal ini. Kembali mengepakkan sayap dan masuk ke kamarnya.
Acasha masih memejamkan mata dengan sempurna. Aku meraih kain yang cukup tebal menyelimuti kaki hingga perutnya. Kuusap kening dan kukecup hangat.
"Tuan?" Acasha sepertinya bergumam. Matanya masih terpejam, tetapi bibirnya terus memanggilku dengan sebutan 'Tuan'.
__ADS_1
"Apakah kau secinta itu padaku, Acasha?"
Tidak ada tanggapan, dia tampaknya kembali tertidur setelah kain tebal itu menyelimuti tubuhnya. Ah, mungkin dia kedinginan tadi.
Aku memilih menulis surat untuk Acasha. Walau bagaimanapun, aku harus mengabarkan keberangkatanku pada penghuni langit.
...Dear : Separuh Hati. ...
...Dalam selembar kertas putih ini, aku hendak memberitahumu untuk pamit ke langit. Aku ingin mengabarkan sesuatu hal terhadap mereka. Tentang kita. ...
...Kau ingin bersatu denganku, kan? Aku akan berusaha untuk menyatukan kita tanpa menutup mata. Hari-hari yang nanti kita lalui dengan penuh rasa sayang dan kasih yang selalu membersamai. ...
...Acasha, kita memang ditakdirkan berbeda. Tetapi, di atas perbedaan ini, kita masih bisa disatukan dengan gold apple. Sebuah apel berwarna emas yang ada di kedalam laut yang begitu gelap. Aku ingin meraihnya agar kita dapat bersama dan bersatu hingga sang waktu yang mungkin benar-benar akan memisahkan kita selamanya. Kematian. Hanya itu yang bisa memisahkan kita untuk sementara, karena kita akan kembali bersama di masa yang kekal abadi di sana. ...
...Doakan aku. ...
...Aku berjanji akan selalu bersamamu setelah mendapatkan apel itu. Masih cukup banyak waktu. Aku masih mempunyai waktu sebelum bulan purnama esok. Semoga aku bisa membawa apel itu dan kita dapat bersatu tanpa mata yang tertutup. ...
...Dari yang mencintaimu,...
...Cleon Eros. ...
Kuletakkan sepucuk surat ini di atas nakas, tepat di samping lampu tidur yang meredup.
Wajah Acasha begitu cantik. Pipi halus selembut sutra, bibir tipis warna merah muda. Hidung mancung, rahang yang tirus serta dagu yang runcing membuatnya terlihat semakin memesona serta rambut hitam yang panjang terurai menjadikannya terlihat semakin anggun.
***
Di istana tampak sepi karena jam sekarang ini, saatnya mereka untuk beristirahat dan ada juga yang mengerjakan tugasnya di luar istana. Berjalan melewati koridor istana yang begitu sepi, hingga langkah kaki pun terdengar ketika menapaki lantai dari batu marmer.
Satu persatu, anak tangga mulai kutapaki hingga sampai di penghujung aku melangkah untuk masuk kamar.
"Eros!" panggil seorang lelaki, aku pun menoleh.
"Damien?"
Terlihat Damien berjalan ke arahku. Ini kesempatanku untuk menceritakan perjalanan untuk mencari apel emas itu.
"Sini!" Aku menarik paksa lengan Damien dan masuk ke kamar.
__ADS_1
"Ada apa ini?" kata Damien dengan wajah yang terlihat heran.
"Aku bisa bersatu, Damien!" kataku teramat bahagia.
"Kau bersatu? Dengan siapa? Gak jelas!"
"Aku dan Acasha. Siapa lagi?"
Bibir Damien tersungging masam. Bibirnya terlihat tersenyum dengan ekspresi yang seolah berkebalikan. Sepertinya, dia tidak ingin mendengar ceritaku.
"Maksudmu?"
"Bersatu. Aku dan Acasha bisa bersatu dengan sebuah apel emas yang ada di kedalaman laut sana."
Damien menggeleng.
"Kau tidak mengetahui seberapa besar resiko yang akan kau dapatkan, Eros. Saranku, batalkan saja keberangkatmu. Aku yakin, kau tidak akan pernah bisa, karena--" ucap Damien tehenti
"Karena?" Aku menyipitkan mata ketika menatap mata Damien.
Hening.
Sesungguhnya, apa yang Damien tahu tentang apel emas itu?
"Damien, jawab pertanyaanku!" Aku menyentak kakak lelakiku.
"Sudahlah. Lupakan saja," ujarnya yang seenaknya saja membatalkan bercerita ketika hasrat keingintahuan ini meronta.
"Hm ... rupanya kau sudah lama mengetahui keadaan apel emas itu, hah?"
"Tidak. Aku tidak mengetahui apel itu. Tetapi aku pernah mendengar tentang laut dalam. Di mana dulu ayah kita pun pergi ke sana."
"Ayah?"
"Iya. Ayah, mendiang ayah kita, Eros."
"Apa maksudmu? Aku semakin tidak mengerti. Kau seolah memberikan teka-teki kemudian menyuruhku mencari jawabannya dalam labirin yang begitu memusingkan."
"Sudahlah, Eros. Ini tidak penting. Satu pintaku, urungkan saja niatmu!" Damien berlalu pergi meninggalkanku.
Kini, dalam kamar yang besar dengan jendela yang terbuka memperlihatkan gumpalan awan dan terlihat langit yang cukup banyak bintang. Aku merasa heran dengan percakapanku dengan Damien. Sepertinya kakak lelakiku telah mengetahui sesuatu hal yang tidak diketahui olehku. Damien pasti menyembunyikan rahasia besar kerajaan langit. Tetapi, apa sesungguhnya yang terjadi? Sehingga, aku yang adik kandungnya saja tidak mengetahui rahasia itu.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" Aku berucap sambil menikmati langit gelap.
"Aku harus menuntaskan semua kegelisahan yang ada dalam otakku. Terlanjur Damien berbicara seperti itu dan aku harus memaksanya untuk mau bercerita."