
"Ini adalah artefak milik leluhur kami dan juga
serum ini milik keluarga kamu juga. Di dalam
artefak ini terkunci energi besar atau bisa dibilang
material energy of the universe yang besar.
Siapapun yang terpilih dan terhubung bisa di bilang ia tak terkalahkan, " ujar seana menjelaskan
dengan detail.
"Joe." panggil Seana.
"Hmmmm, ... " balas Jonathan.
"Ayo kita latih tanding , bukankah kita sudah lama
tak melakukan itu. " ajak Seana.
"Baiklah, percuma saja menolak." ujarnya
menjawab tantangan dari Seana.
"Sayang , kau akan tau apa itu Terrance." lirihnya
sambil mengecup kening Kara.
Kara hanya diam dengan perlakuan manis dari
Seana dan membuatnya seperti anak kecil yang
haus akan kasih sayang ibu. Seana dan Jonathan
keluar dari kastil menuju halaman belakang kastil
yang luas. Mereka sudah membawa perlengkapan
untuk bertanding yaitu terminal Mobile Type Brionic Terrance, Earphone Terrance dan Rubik Terrance.
Semua oramg ikut keluar menuju halaman
belakang kastil yang di sana seana dan jonathan
telah bersiap.
...----------------...
...Terminal Mobile Type Brionic Terrance...
...Earphone Wirelless Terrance...
...Rubik Terrance...
...----------------...
"Phoenix Alfa, Aktifkan, " teriak Seana sambil
melempar rubik sambil memencet terminal mobile miliknya.
"Green Army, Aktifkan, " teriak Jonathan juga sambil melakukan hal yang sama dengan Seana.
Rangkaian aktivasi muncul kemudian muncullah dua buah robot raksasa yang besar.
"Inilah Terrance, Young." ujar Seana sambil tersenyum.
Semua terkejut melihatnya dan merasa takjub akan keajaiban yang terjadi. Wajah mereka menunjukkan jika mereka tertarik dengan Terrance ini.
"Apa ini warisan leluhur griffin juga?" tanya Dennis penasaran.
"Tentu saja, ini yang terkuat dan hanya kami keturunannya yang dapat mengunakannya." tutur Jonathan menjelaskan.
Pertarungan Pun dimulai dan keduanya
__ADS_1
mengeluarkan sihir ability element yang mereka miliki yaitu air dan api. Pertarungan begitu sengit dan seimbang karena sama - sama lihai dalam pertarungan maupun teknik.
Akhirnya , mereka menyudahi pertarungan itu diiring tepuk tangan dari semua orang.
"Luar biasa." ujar para Master Theurgist.
"Terima kasih." balas mereka serempak.
"Apa Young dan Hyun mempunyai hak yang sama memiliki Terrance?" tanya Castor tiba - tiba.
"Tentu saja, bagaimanapun mereka memiliki garis keturunan darah keluarga Griffin juga." balas Seana.
"Kalian juga bisa mempunyai Terrance, "ujar Seana.
"Akan tetapi, roh suci belum memberi mereka inprite Kak." keukeh Jonathan.
"Inprite bisa menyusul Joe, lagi pula mereka hanya mendapat Terrance yang biasa karena pemula." balas Seana.
"Terserah padamu, aku akan kalah juga bila berdebat denganmu." timpal Jonathan pergi.
"Aku tau kau menyayangi mereka, terutama Young." lirih Seana dalam hati.
"Ehemmm..., besok kita akan bertemu lagi sayang."ujar Seana.
"Sampai jumpa." lirihnya lalu pergi meninggalkan semua orang.
Hyun bergegas pergi mengajak Kara
meninggalkan tempat itu.
"Hyun, mau kemana kau?" tanya Castor.
"Kembali ke asrama Daddy. " balasnya lalu pergi begitu saja.
"Lihatlah Castor, kedua putramu sungguh sangat tidak sopan dan tak menghargai kami." erang Dennis kesal.
"Jangan menyalahkan mereka bagaimanapun aku tau perasaan mereka terutama Young." timpal Dr. Bobby.
"Batinnya pasti tertekan selama ini." sambungnya melirik Prof. Albert dan Castor.
"Aku tak menyangka kau akan melakukan hal itu." lanjutnya agak kecewa.
"Kalian tak tau bagaimana perasaanku dan apa yang harus aku jalani untuk mengambil keputusan yang berat ini." sambungnya.
"Ada kami, apa kau tak percaya pada kami ?" Dr. Bobby.
"Ada perasaan yang menentu saat aku berpikir tentang masalah ini." balas Prof. Albert.
"Apa ini karena cucumu Young?"
"Kau takut kami menjadikannya sebuah senjata." sindir Dennis.
Prof. Albert hanya diam saat Dennis mengatakan hal yang memang ia pikirkan. Setelah itu mereka pergi
meninggalkan tempat dengan perasaan yang campur juga.
Di rumah keluarga Griffin Seana yang
baru saja tiba di panggil oleh ayahnya di ruang kerjanya. Di keluarga Seana mereka tetap mengunakan nama keluarga Griffin.
Sesampainya di ruang kerja sang ayah dia
mengetuk pintu dan masuk kedalam.
"Ada apa ayah memanggilku?" tanyanya
langsung terhadap ayahnya.
"Kau terlalu to the point Seana, tapi itu yang aku suka dari putriku ini." balas ayah seana yang bernama Emilliou Drake Griffin.
"Cepatlah ayah, aku lelah jangan bertele - tele." ujarnya mulai agak kesal.
"Ini surat rekomendasi untuk mengajar di Shallwry Auckflyen Akademi." tuturnya sambil memberikan sebuah amplop berisi surat.
Seana membuka surat itu lalu membacanya dengan teliti sambil mengerutkan dahinya. la memasang wajah masam dan kesal dengan sikap
ayahnya itu. Melakukan sesuatu sesukanya dan hanya memerintah saja kepada anak - anaknya itu.
"Kenapa wajahmu muram ?" tanya Emil.
__ADS_1
"Apa perlu aku jawab jika ayah sudah tau. " ketus Seana.
"Hahaha ...., sayang kalau melihat raut wajahmu seperti itu aku tak bisa menahan ketawaku." goda Emil kepada putrinya sambil tertawa pelan.
"Untuk hal ini aku mohon mengerti." sambungnya dengan wajah serius.
"The Guardian Pillar akan muncul." lirih Emil.
"Apa ! tapi itu tidak mungkin." pekik Seana tak percaya.
"Apa ayah yakin?" tanya Seana yang seakan - akan tak percaya.
"Tentu saja , ayahmu ini sangat yakin setelah dapat penglihatan itu." balas Emil menyakinkan Seana.
"Lalu, apa hubungannya dengan akademi?" tanyanya binggung.
"Para guard itu ada di akademi itu jadi ayah mengirimu untuk memastikannya." balas Emil.
"Aku tak bisa mempercayakan misi ini ke joe saja maka dari itu aku menginginkan kau ikut bersamanya." sambungnya.
"Ini akan membantumu." ujarnya memberikan 9nbuah kotak tua.
"Apa ini?"tanya Seana.
"Ini bukankah perangkat untuk Terrance, apa maksud ayah?" tanyanya lagi.
"Para pilar guard akan memiliki asisten dan mereka memiliki terrance masing - masing." balas Emil cepat.
"Mereka akan menemukan pemiliknya dan kau tau ke empat orang itu siapa kan? " tukas Emil cepat bertanya.
"Aku hanya tau Lucifer yang tak lain Young." sahut Seana.
"Baiklah, aku akan bersiap sekarang pergi ke akademi." sambungnya.
Seana pergi sambil membawa nampan berisi 9 kotak itu.
"Seana " panggil Emil.
'Iya ayah." balas Seana.
"Ini buku yang harus kau baca agar memahami tugas dariku." timpalnya memberi sebuah buku.
Seana mengambil buku itu dan pergi keluar menuju kamarnya sedangkan kotak yang di berikan ayahnya ia masukan dalam koper sedang. la juga mempersiapkan baju yang akan ia bawa ke akademi. Setelah selesai ia membuka buku yang di berikan Emil lalu membacanya.
"Emm.. , menarik jadi The Guardian Pillar itu masih mempunyai hubungan darah dengan Griffin family walaupun jauh." ujarnya dalam hati.
"Ada satu hal lagi yang aku pahami bahwa The Guardian Pillar itu mempunyai tugas melindungi dunia. Ada juga sebuah ramalan tentang mereka kalau kegelapan akan kalah saat sang penyelamat
sang legenda muncul." sambungnya.
"Sang legenda, emmm ... siapakah dia ataukah dia itu .." pikirnya dalam hati.
Keesokan harinya seana sudah berada di akademi dan sudah berada di dalam kamar asramanya. Seana merapikan semua pakaian yang ia bawa ke
lemari dan tidak lupa merapikan perlengkapan yang ia bawa. Tiba - tiba Jonathan datang masuk tanpa permisi ke dalam kamar Seana.
"Nunna, ada apa kau tiba - tiba mengajar di sini atau ada tugas dari ayah?" tanyanya langsung tanpa basa - basi.
"Tumben sekali memanggilku nunna, anak nakal." ujar Seana sambil menjewer kuping Jonathan.
"Aduh ... sakit nunna, maafkan adikmu ini karena kemarin sedang kesal." Jonathan memohon ampun.
"Iya, ini misi dari ayah." sahut Seana sambil melepas kuping adiknya itu.
"Kenapa tidak di berikan padaku saja, nunna " sanggah Jonathan.
"Mana ku tahu, ayolah tutup pintu dan bantu aku." pinta Seana.
"Iya.... ya .. ."ujar Jonathan sambil menutup pintu.
"Apa ini?" "tanyanya lagi.
"Bukankah ini kontak Terrance?" lanjutnya.
"Iya, terrance para asisten The Guardian Pillar." timpal Seana menjawab.
"Hah ...., lalu apa hubungannya dengan akademi ini ?"tanya Jonathan sedikit terkejut.
"Terdapat sebuah daftar pemilik Kotak. "ujar Jonathan yang menemukan sebuah selembar kertas berisi daftar nama Clans The Guardians Piliar
__ADS_1
To Be Continued