Daivat System

Daivat System
Dark Side Leonard Familly


__ADS_3

"Baiklah , aku mengerti tujuan dari ucapanmu itu Ashley." timpal Emil.


"Kalian berempat adalah ciptaan dari ayahku dengan sifat unggul dan kelemahan tersendiri."lanjutnya.


"Itulah maksudku , jadi jangan menyalahkan ku lagi." timpal Youlhan.


"Yasudah, mari kita bicarakan soal misi kali ini." potong Emil sebelum Youlhan berbicara lagi.


"Apa rencana yang kalian pikirkan saat ini?" tanya Emil langsung.


"Membagi semua orang menjadi beberapa team yang berisi Theurgist Knight, Theugrist Quard dan Theurgist Quardant." jawab Kara.


"Kau yang memimpin pasukan itu Lucifer?" timpal Emil bertanya.


"Iya akan tetapi aku yang memilih sendiri


anggotaku."balas Kara.


"Itu terserah padamu dan bagaimana


denganmu Ashley?" tanya Emil.


"Aku dan Auror akan membantu dari luar." jawab Youlhan.


"Oke, mohon bantuannya jika kami terdesak." sela Kara.


"Kau tidak ingin memberitahu mereka tentang jati diri mereka yang sama dengan kamu. Dan juga soal rintangan dan jebakan di sana?" tanya Youlhan kepada Emil.


"Untuk apa ?" tanya Emil.


"Itu bisa berguna untuk misi ini karena kita bisa mengetahui keahlian mereka dan bisa membagi tugas sesuai keahlian mereka." balas Kara.


"Selain itu juga memudahkan kami mencari jalan keluar untuk jebakan itu." lanjutnya.


"Jika di ingat bahwa prof antonius menciptakan manusia modifikasi berbentuk Manusia, Vampire, Mutant dan Werewolf." Youlhan menimpali.


"Bukan hanya itu , setiap ciptaan memiliki berbagai macam jenis dan juga dunia yang kita tempati adalah dunia semu atau ilusi." Emil menyela ucapan Youlhan.

__ADS_1


"Benarkah ?"tanya Kara kaget.


"Aku baru tau soal ini dan ternyata rumit juga situasinya. " sambungnya.


"Kau baru menemukan jati dirimu Lucifer jadi belum tau semuanya." ujar Youlhan sambil mengacak rambut Kara.


"Ashley." rengek Kara sambil mencebikkan bibirnya karena Youlhan mengacak rambutnya.


"Aduch .. , mengemasnya bayinya Hanie."goda Youlhan.


"Aku bukan bayi." elak Kara kesal sambil menggembungkan pipinya.


"Iya , bukan bayi tetapi .. bayinya Rhea hahaha..." goda Youlhan lagi.


"Iya, youngie bayinya Rhea... puas." dengus Kara kesal sambil mempouted bibir mungilnya.


"Hahahaha .......gemasnya Lucifernya aku. "goda Youlhan lagi diselingi tawanya.


"Mau jadi submissiveku?" ajaknya sambil mengerlingan mata.


"Heh ...., bodohnya aku kalau mau denganmu dan lagipula siapa yang akan menjadi dominan." elak Kara kesal sambil kembali mempouted bibirnya


"Jangan lupa kau kemanan Felix nantinya." lanjutnya mengejek Youlhan sambil memasang wajah sexy yang


mengoda.


"Young." sergah Castor.


"Jangan memasang wajah seperti itu lagi." lanjutnya geram.


"Kenapa Daddy?" tanya Kara heran.


"Jika kau ingin selamat dariku." ancam telak Castor dengan senyuman smrik.


"Hah ..., " pekik Kara blank..


Tuk..

__ADS_1


Satu jitakan mendarat di kepala Castor dari Emil karena merasa kesal dan jengkel.


"yak ...., kau paman....." sarkas Castor.


"Bodoh...., aku bukan pamanmu dan kita seumuran. " umpat Emil.


"Hey ..., kau mengumpatiku." dengus Castor kesal.


"Kau memarahiku karena mengoda putramu tetapi sekarang kau malah mengoda dengan ancaman, licik sekali dirimu." runtuk Emil geram dan kesal.


"Dasar otak mesum kau tak jauh beda dengan ayahmu." cibir Emil.


"Jangan menghina ayahku, bastrad!" hardik Castor.


"Aku berbicara faktanya jika ayahmu itu adalah pria bejat yang suda melecehkan cucu kandungnya sendiri bodoh." papar Emil kesal dan membeberkan segalanya.


Kara terkejut melihat aksi Emil dan tangannya bergetar merasa ketakutan. Sedangkan, Prof. Albert hanya diam saja tanpa membantah ucapan dari Emil.


"Look, your father doesn't deny what I said because it's a fact and I saw what happened myself. He's a damned bastard." cibir Emil.


"Therefore we are mentally destroyed and he must live full of falsehood and fear." sambungnya.


"Aku kasian pada alm Hyeonji karena memiliki suami dan mertua seperti kalian. Dan juga kesalahannya menitipkan puteranya kepada orang yang salah." sambungnya.


Semua orang yang sudah menahan tawa ingin tertawa melihat perdebatan antara Emil dan Castor yang kekanak -


kanakan terdiam. Karena perdebatan mereka berakhir dengan tegang. Bahkan para anak mereka hanya menghela napas melihat ayah mereka yang


sangat membuat mereka malu tapi kesal juga mendengar ucapannya dari Emil.


"Bisakah kita mencari ayah baru, Seana." celetuk Jonathan.


"Kalau bisa sudah kulakukan dari tadi tapi apa yang dikatakan oleh ayah benarkah joe?" timpal Seana sambil bertanya.


"True, walaupun sebenarnya aku nggak setuju ayah membicarakan hal itu di sini namun sudah terlanjur." sahut Jonathan.


"Kita harus memperhatikan Young saja, lihatlah dia." ujar Seana sambil menghampiri Kara yang sedang di peluk oleh Rhea.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2