
Ditempat lain, Kara terbangun dari pingsannya dan ia merasa sangat lemah tak bertenaga. la mencoba menggerakkan tangan dan kakinya namun tak bisa digerakkan karena ia terikat di sebuah tiang.
"Ya tuhan, apa kesalahan gue sampai kekek hukum gue kayak gini lagi." lirihnya dalam hati.
Tiba - tiba seseorang datang menemui Kara dan Kara tak mengenalinya karena pandangannya belum jelas. Kara melotot seakan-akan matanya hendak keluar saat menyadari orang yang ada di depannya itu adalah musuhnya.
"Albgraham." pekiknya penuh emosi.
"Selamat pagi, Young." sapanya.
"Kau lepaskan aku." teriak Kara.
"Hahaha ... kau pikir aku bodoh melepaskan mu hah...!" hardiknya sambil memegang benda di tangannya.
Kara menatap benda di tangan Albgraham itu dan tersenyum miris karena Kara harus menerimanya lagi. Albgraham menyuruh anak buahnya untuk menyingkir dari sisi Kara dan ia menyumpal mulut Kara dengan kain. lalu Albgraham mengangkat benda yang di tangannya yang tak lain adalah sebuah cambukan atau pecut.
Albgraham mulai mencambuk tubuh Kara tanpa ampun dan belas kasihan. Albgraham dengan
sangat sadis dan kencang mencambuk tubuh mungil Kara sebanyak 100 kali.
Cetar
Cetar
Cetar
"Emmbbbn ..... emmbnnn ... " suara rintihan Kara yang keluar dari mulutnya.
"Bagaimana rasanya?"
"Sakit Kah?" ejek Albgraham yang masih mencambuk tubuh Kara terus - menerus.
"Ayah. " panggil Lucas yang membuat Albgraham berhenti mencambuk young yang hampir ke 100
kalinya.
"Ada apa?" tanya Albgraham menoleh ke arah putranya.
"Lihatlah wajahnya itu ayah."
"Dia hanya meringis sebentar dan tersenyum ke arah kita seperti menantang." balas Lucas sambil memperlihatkan apa yang ia lihat kepada Albgraham.
Albgraham kesal melihat apa yang dikatakan oleh
putranya sangat benar. Kara terlihat masih bisa tersenyum walaupun tubuhnya merasakan sakit
yang amat dalam.
"Dasar bocah sialan!" hardik Albgraham sambil menampar keras pipi Kara.
Plak...
"Lucas, panggil seluruh anak buah dan pengikut kita." perintah Albgraham.
"Baik ayah tapi untuk apa ayah?" tanya Lucas penasaran.
"Untuk menghajar bocah sialan ini yang berani menantangku." ujar Albgraham.
__ADS_1
Lucas yang mengerti mulai mengikuti perintah sang ayah dengan baik. Kara yang sedari tadi diam akhirnya pingsan karena tak kuasa menahan sakit. Saat ia pingsan bayangan masa lalu yang menyakitkan muncul.
# Flashback satu tahun yang lalu
Cetar
Cetar
Cetar
Ceter
"Aw.... aw .... ampun kakek, ampun." teriak seorang remaja meminta ampunan yang tak lain adalah Kara.
Cetar
Ceter
Cetar
Ceter
Prof. Albert yang sangat terkenal tegas dan tak pandang bulu ketika menghukum keturunannya yang membuat kesalahan apapun. Prof. Albert tak menggubris permintaan Kara karena baginya Kara sudah melakukan kesalahan fatal. la hampir saja membunuh beberapa orang karena emosinya itu saat ingin melarikan diri dari mansion besar milik keluarga Leonard. Karena itulah Kara memang harus siap menerima hukuman cambuk dari sang kakek di depan seluruh keluarga dengan tangan yang terikat di sebuah tiang.
Semua yang melihat hanya bisa diam tanpa menolong karena apapun keputusan yang di buat Prof. Albert adalah mutlak. Hyun yang melihat adiknya tersiksa hanya bisa diam dan menangis.
"Ayah, sudahlah ia pasti sudah kapok dan jera dengan hukuman yang ayah berikan." pinta Afika yang tak tega melihat Kara.
"Baiklah." ujar Prof. Albert mengalah dan menghentikan hukuman bagi Kara.
"Kalian ingat ini adalah pelajar bagi kalian jika ada yang berani menentang atau memberontak padaku." ancam Prof. Albert.
"Maaf kakek, bukankah hukuman ini terlalu kejam
untuk adikku Young?" tanya Dee yang merasa iba pada adik sepupunya itu.
"Menurutku ini tidaklah kejam dan pantas di dapatkan anak pembawa sial itu." timpal Castor merasa puas melihat Kara tersiksa.
"Ayah." geram Hyun.
"Diamlah kalian semua karena hanya aku yang dapat berbicara saat ini." bentak Prof. Albert.
"Kalian." panggil Prof. Albert kepada dua pelayan
muda yang ada di sampingnya.
"Iya tuan besar." balas mereka sambil berlutut.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah dan kurung dia
disana sampai aku datang?" perintah Prof. Albert.
"Jangan lupa , jangan lepaskan ikatan ditangannya
itu." sambungnya.
"Baik, tuan besar. " ujar kedua pelayan itu lalu mereka melepaskan Kara dari tiang ikatan dan mengikatnya lagi.
__ADS_1
Kemudian mereka membawa Kara ke penjara bawah tanah dan mengurung Kara dengan tangan
terikat seperti saat ia di hukum oleh kakeknya. Beberapa menit kemudian prof albert datang lalu masuk ke penjara yang mengurung young lalu duduk di kursi yang di siapkan pelayan.
"Buat dia berlutut di hadapanku." perintah Prof.
Albert.
"Baik, tuan besar." ujar pelayan yang ada dipenjara itu lalu membuka ikatan Kara dan membuat Kara berlutut di depan kakeknya.
Kara hanya terdiam dengan tatapan amarah dan
kecewa. Keadaannya sudah sangat mengenaskan
dengan tangan dan kaki yang di ikat seperti
seorang tahanan. Badannya di penuhi oleh luka
akibat cambukan dari Prof. Albert.
"Kalian semua boleh pergi." titah Prof. Albert.
"Baik, tuan besar." balas mereka serempak lalu
pergi meninggalkan Prof. Albert berdua dengan
Kara.
"Young." panggil Prof. Albert sambil membuka
penutup mulut Kara.
"Iya kakek "jawabnya lemah dengan suara bergetar.
"Panggil aku tuan besar bukan kakek karena kau masih dalam masa hukumanku, mengerti." ujar Prof. Albert datar memerintah Kara.
"Baik,tuan besar." balas Kara mengerti memahami posisinya saat ini.
"Ingat, hidup dan matimu hanya aku yang berhak menentukan setelah mommy mu tiada." ujar Prof. Albert sambil mencengkram rahang Kara.
"Daddymu tak menganggap dirimu ada jadi jangan pernah coba melarikan diri dan memberontak lagi padaku." ancam Prof. Albert.
"Kau disini bukanlah anggota keluargaku melainkan hanya seorang pelayan bukan tapi
budak property milikku dari Prof. Albert.bingatlah itu di dalam otakmu." sambungnya.
"Iya tuan besar saya mengerti. " ujar Kara yang air matanya mengalir.
Prof albert merasa sedih melihat kondisi Kara akan tetapi ia melakukan ini demi kebaikan young. atas permintaan dari sang menantu Hyeonji. Hyeonji membuat Prof. Albert berjanji membuat Kara menjadi pria yang kuat dan tangguh.
"Hapus air matamu itu." ujar Prof. Albert melepas
kasar cengkeramannya.
"Aw.. aw ... " Kara hanya meringis kesakitan.
Sejak saat itu penderitaan Kara semakin menjadi dan di tambah ia sempat di manipulasi ingatnya. Dan hal membuatnya menjadi pribadi yang dingin tak tersentuh.
__ADS_1
# Flashback off
To Be Continued