
"Ayah katakan bahwa apa yang di ucapkan Emil adalah kebohongan?" tanya Castor menuntut.
Prof. Albert hanya diam tanpa menjawab dan pergi begitu saja meninggalkan semua orang. Sedangkan, yang lain hanya diam membeku setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Emil.
"Apa yang kau lakukan sungguh sangat tidak baik Emil." sela Denis.
"Dan kau Castor sejak kapan kau peduli soal putra bungsumu itu." lanjutnya.
Emil dan Castor hanya diam saja tanpa menjawab.
"Kenapa kalian diam?" tanya Dr. Bobby.
"Sudah tak ingin berkelahi lagi?" sambungnya lagi dengan pertanyaan.
" kalian tak punya malu berkelahi di depan anak - anak dan kau Emil harusnya jangan membicarakan hal yang sensitif di depan umum. Lihat perbuatanmu juga melukai perasaan Kara." tukas Dennis.
"Maaf, " sesal mereka sekaligus malu dan Emil menatap sedih ke arah Kara yang terlihat ketakutan.
"Young, kau kembali ke kamar dan atur saja soal team dan biarkan Emil yang mencari data yang kau mau." tutur Dennis.
"Baik, aku akan menunggu. " balas Kara
singkat dan langsung pergi begitu saja.
Walaupun Kara dalam keadaan tidak baik semua terperangkap dalam pesona
mengemaskan dan kecantikannya.
"Ya tuhan ....."
"Benarkah dia seorang pria?" tanya Dr. Bobby yang kesal karena hampir tergoda oleh Kara.
"Kau kenapa?" tanya Dennis.
"Hampir tergoda mungkin." balas Dr. Bobby jujur.
"Bodoh!" sarkas Dennis.
"Ingat umurmu itu Bobby." lanjutnya
"Cih!" dengus Dr. Bobby.
"Setidaknya aku bukan bajingan seperti Albert." ujar Dr.Bobby lalu pergi di ikuti oleh Dennis.
Emil hanya memasang wajah masam serta Castor yang sudah hampir tertawa berusaha menahannya.
......................
Di sisi lain, Kara dan yang lain berjalan menyusuri lorong untuk kembali ke asrama. Kara saat ini sudah mulai tenang dan tidak takut lagi.
"How are you feeling right now? Better?" tanya Rhea langsung.
__ADS_1
"Better Rhea." balas Kara
" Don't put on a face like that again Young ?" tukas Hyun tiba-tiba.
"Why Hyun? " tanya Kara binggung.
"You look like teasing them " balas Youlhan mewakili Hyun.
" Hah ...!" Kara kembali blank.
"Hahahaha ..., I just understood now." timpal Ann yang mulai paham situasinya saat ini.
"Looks like the nickname beautiful stranger suits you."sambungnya.
"I agree with you, " timpal Youlhan.
Kara yang mendengarnya hanya mendelik matanya sambil mencebikkan bibirnya.
"I'm gone, I'm so lazy to hear the ravings of you who cornered me." ujar Kara bergegas pergi sambil menghentakkan kakinya kesal.
Rhea dan Ann mulai mengikuti Kara pergi serta yang lain hanya diam saja. Youlhan hanya tertawa gemas melihat tingkah Kara sangat kekanak - kanakan.
"Prof. Antonius sepertinya saat menciptakannya memberi ibunya banyak makanan manis sehingga membuatnya mengemaskan sekali." pikir Youlhan dalam hati.
Disisi lain Hyun mulai mengikuti Kara dan memanggilnya.
"Young." panggil Hyun.
Hyun sebenarnya sangat canggung untuk
bertemu Kara saat kejadian waktu itu. Namun ia begitu merindukan adik kembarnya yang biasanya selalu datang kepadanya jika sedang ada masalah dengan sahabatnya itu.
"Ikut aku, kalian bisa tinggalkan kami berdua." pinta Hyun menoleh ke arah Rhea dan Ann.
"Baiklah." ujar mereka dan meninggalkan
Kara dan Hyun.
Hyun menatap ke arah Kara karena Rhea dan Ann sudah pergi. Hyun menarik pelan tangan Kara menuju taman belakang sekolah.
"Duduk." ujar Hyun dengan nada dingin sambil melepaskan tangan Kara.
Kara hanya mengikuti apa yang dikatakan Hyun sambil menundukkan kepala.
"Tidak ingin memelukku " timpal Hyun nada bicaranya berubah menjadi lembut.
"Mau." balas Kara sambil memeluk Hyun erat.
"Maaf Hyunie." cicit Kara pelan.
"Karena Youngie tak mengatakan segala yang aku alami saat itu. Aku hanya tak ingin Hyun bertengkar dengan kakek karena anak pembangkang seperti aku." sambungnya.
__ADS_1
Ketika Hyun dan Kara berdua maka young akan memanggil Hyun dengan sebutan Hyunie.
"Dasar Youngie, apa segitu tidak percaya padaku dan bermanjalah sana dengan Rhea kesayangmu itu." tukas Hyun kesal.
"Hyunie janganlah marah karena saat itu kakek mengancam aku untuk tidak berbicara pada siapapun." sela Kara.
"Kau tau posisimu dan Rhea sangatlah berarti bagiku setelah mommy pergi." sambungnya lirih.
"Young." panggil Hyun.
"Maaf jika aku terlalu mengekangmu selama ini tetapi aku sangat menyayangimu adikku. Maaf jika selama ini aku hanya diam sat kakek menghakimi dirimu. Soal Rhea jujur saja terkadang aku sangat cemburu karena kau lebih ngutamakan dia di bandingku." sambungnya sambil menangkup wajah Kara.
Cupp
Hyun mencium bibir Kara sekilas dan
membuat Kara terlihat kesal.
"Hyunie ....." rengeknya.
"Aku sudah besar dan jangan sembarangan menciumku." dumel Kara.
"Aigoooo.... Youngie sudah besar rupanya tetapi makin mengemaskan." goda Hyun.
"Hyunie...." pekik Kara sambil mencebikkan bibirnya.
"Sekarang kau sangatlah berbeda lebih sensitif saat digoda." timpal Hyun.
Kara terdiam sambil menatap tajam Hyun dengan bola matanya yang besar.
"Jangan marah youngie , biasanya juga aku sering menciummu tetapi sekarang apa bedanya." ujar Hyun lugas.
"Itu saat aku belum tau apapun dan
sekarang sudah beda hyung." timpal Kara sambil memutar bola matanya jengah.
"Jangan mengodaku youngie." tukas Hyun.
"Hah ..., siapa yang mengodamu, Hyunie.... " elak Kara tak merasa.
"Kenapa kau malah terlihat semakin polos sekali , youngie? jangan berpura - pura tidak mengerti?" cerocos Hyun tak berhenti.
"Ish ..., hyunie menyebalkan." dengus Kara kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudahlah , ayo pergi sebelum aku khilaf
padamu youngie." ajak Hyun sambil pergi meninggalkan Kara sendiri.
"Hyunie....." teriak Kara sambil menghentakkan kakinya karena kesal.
To Be Continued
__ADS_1