
Youlhan merasa lega karena gilirannya sudah selesai dan saatnya memberi pelajaran kepada Kara. Youlhan langsung saja mengikat tangan dan kaki Kara dengan sangat kencang. Kemudian ia membuka seluruh pakaian Lara tanpa tersisa dan kemudian pergi mengambil sebuah kotak. Kara merasa curiga melihat gerak - gerik dari Youlhan ketika membawa sebuah kotak.
"Ayo , kita lakukan BDSM lucifer sayang." ujarnya dengan senyum smrik.
"Tunggu, jangan kau curang juga." pekik Kara kesal.
"Anggap saja ini balasan atas kelepasannmu padaku karena melanggar aturan." timpal Youlhan.
"Baiklah." pasrah Kara ketika akan di siksa oleh Youlhan.
"Loe bodoh , kenapa mengiyakan ajakan kitten licik itu." runtuk Kara dalam hati.
Youlhan membuka kotak itu dan memilih salah satu benda di dalam kotak itu. la menaiki tubuh Kara. Youlhan membuka kotak itu dan memilih salah satu benda di dalam kotak itu serta menaiki tubuh Kara.
" Now... Apa yang akan aku pasangkan terlebih dahulu." ujar Youlhan masih tetap diatas tubuh.
"Pertama kita gunakan ini." timpal Youlhan.
" Arhkkk."jerit Kara sambil matanya terpejam saat merasakan kedua puncuk dadanya tercepit kuat oleh dua benda yang mirip seperti jepitan
" Lalu ini." sambungnya lagi.
"Ughhhh" eluh Kara tertahan saat lehernya tengah dipasangi sebuah coker beserta mainan bewarna putih.
Plak
Plak
Plak
Youlhan menampar bokong pantat Kara kencang sehingga membuatnya memerah.
" Eunghhhhhh." desah Kara lagi merasa sakit di bokong pantatnya yang merah.
"jangan mengumpat baby, hukumanmu belum selesai." ujar Youlhan saat melihat Kara ingin mengumpatinya.
Youlhan mulai ******* bibir Kara dengan kasar dan membuat Kara terpaksa membalas ciuman itu sambil membuka mulutnya. Ciuman itu semakin dalam karena Kara benar - benar mengobrak - abrik mulut young hingga ia kehabisan nafas. Ciuman panas menjadi semakin dalam hingga Youlhan benar - benar membuat Kara tak berdaya di bawah kunkungannya.
"Eunghhhhhh .... su.. da ...h .... hentikan. " desah Kara memohon.
__ADS_1
Setelah selesai dengan tubuh young ia mengambil sebuah cambuk dan mencambuk Kara sebanyak 5 kali. Setelah itu ia membuka semua ikatan Kara dan meminta maaf. Membiarkan Kara tertidur dan ia ikut tidur di samping Kara hingga pagi hari.
Saat kata memejamkan mata terdengar seseorang masuk ke dalam kamar. Youlhan dan Kara terkejut melihat orang yang datang.
"Kakek."
"Felix." Pekik keduanya.
"Wow..., kitten mulai berani bermain tanpa aku." lirih Felix dengan nada rendahnya.
"Maaf." cicit Youlhan ketakutan setelah mendengar nada renda kekasihnya itu.
Tanpa berbicara lagi Felix mengajak Youlhan pergi dan menyisakan Prof. Albert serta Kara. Sedangkan, Prof. Albert pergi ke lemari penyimpanan dan mengambil leash dan choker mekanik. Selanjutnya kembali pada Kara sambil melepaskan Choker yang di pakaikan oleh Youlhan. Kemudian memasangkan kembali kedua benda yang di ambilnya ke leher Kara.
"Sepertinya kau harus aku ajarkan kembali untuk patuh padaku!" la menarik leash di leher Kara dan membawanya ke ruangan hukuman yang berada di ruang bawah tanah.
Prof. Albert mengikat tubuh Kara ya g masih lemah akibat bermain dengan Youlhan tadi. Kara berdiri terikat di tiang berbentuk X dengan posisi punggung menghadap ke arah Prof. Albert.
"Tamat riwayatku." batin Kara frustasi karena akan kembali menjalani hukuman dari kakeknya.
Prof. Albert menatap sinis ke arah Kara dan tatapan itu sangatlah menusuk ke kulit Kara. Aura di sekitar juga sangatlah mencekam. Prof. Albert mulai melayangkan cambuknya ke arah punggung Kara yang polos.
CTAS!
"Berani kamu berteriak dan menantang diriku tadi di depan semua orang. Kamu melupakan posisi mu di keluarga Leonard anak sialan!" hardik Prof. Albert.
"Maafkan aku Kakek...." lirih Kara pelan.
"Sekarang jalani hukumannya dan jangan melupakan aturan yang aku buat saat menghukum mu." titah Prof. Albert sembari mengelus bokong Kara.
"Iya tuan." balas Kara dengan suara pelan dan mengerti apa yang di ingatkan oleh Prof. Albert.
CTAS!
"Sa-satu, terima kasih tuan sudah menghukum ****** ini." lirih Kara menahan rasa sakit.
Inilah kata yang wajib Kara katakan jika sedang di hukum berdua dengan Prof. Albert.
CTAS!
__ADS_1
"D-dua, terima kasih tuan sudah menghukum ****** ini."
Prof. Albert terus menerus melecutkan whip di tangannya ke arah punggung Kara. Dan setiap itu pula Kara akan menghitung dan mengucapkan kalimat yang dibuat oleh Prof. Albert.
CTAS!
"Li-lima puluh, Sshhh... Terima kasih tuan sudah menghukum ****** ini."
Napas Kara tersengal karena menahan rasa sakit di punggungnya. Sebenarnya, ia merasa sangat bingung dan sakit hati saat di perlakukan seperti ini oleh Prof. Albert. Tapi apa dayanya tidak bisa melawan kehendak sang kakeknya.
Prof. Albert menjambak rambut Kara dan membuatnya mendongak ke atas. "Kamu tau Kara selama ini ada sebuah alasan saya tidak pernah memperlakukanmu layaknya seperti Hyun dan yang lain. Alasan itu karena....." ujar Prof. Albert menjeda sebentar.
"Kamu harusnya tak pernah lahir di dunia ini." sambungnya.
Deg
Jantung Kara berhenti berdetak saat Prof. Albert mengatakan hal yang sangat kejam.
"Kakek."
"Apa maksudmu?" tanya Kara menuntut.
"Cih! Aku tidak ada waktu untuk berbicara padamu dan akhirnya aku bebas dari beban yang selama ini aku tanggung sendiri. Berpura-pura menerima mu sebagai cucu kandungku." desis Prof. Albert lalu menghempaskan wajah Kara.
"Kakek." lirih Kara yang masih shock dengan perkataan dari Prof. Albert.
"Stay here and think about all the wrongs you've done. Make a statement of your request to me and the others." titah Prof. Albert.
"Pelayanmu akan datang mengobati mu dan memberikanmu makan. Jangan lupa surat permintaan maaf itu kau buat dan berikan padaku, Mengerti." sambungnya.
"Iya Kakek." lirih pasrah Kara dengan tatapan kosongnya.
Prof. Albert yang tidak peduli segera pergi dan meninggalkan Kara sendirian. Kara saat ini merasa down dan kaget dengan semua yang di ucapkan oleh Prof. Albert.
"Tuhan..., apa aku tidak berhak untuk bahagia sedikitpun?" tanya Kara dalam hati.
"Apa sebenarnya maumu denganku dan apa yang ingin kau beri tahu padaku saat ini?" sambungnya bertanya lagi.
"Pada kenyataannya hidupku hanyalah kebohongan saja." tambahnya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
To Be Continued