
"Jangan bermimpi memilikinya." desis Rhea tajam.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu bang?" tanya Kara tiba-tiba.
"Aku hanya takut kau mata-mata parlemen." sambungnya karena tak mempercayai Dee sambil melepaskan diri.
"Kau meragukan ku atau kemampuanku? " tanya Dee balik sambil mempererat rengkuhannya.
"Meragukan mungkin tetapi aku cukup mengagumi kemampuanmu bang. " balas Kara dengan tatapan tajam.
"Tetapi aku sangat membenci pengkhianatan siapapun yang melakukannya." sambungnya dengan nada dingin.
"Kau meragukan keluargamu Kara?" tanya Hyun tak percaya dengan perkataan sang adik.
"Loe tau Hyun untuk kali ini gue nggak bisa mempercayai siapapun. Sejak mommy meninggal dan kalian hanya diam disaat kakek menyiksaku. Sejak saat itu baik dulu dam sekarang gue nggak bisa mempercayai siapapun bahkan diri gue sendiri." timpal Kara.
"Aku tau apa yang ada di pikiranmu dan cobalah mempercayai kami saat ini." sambung Dee melepaskan Kara.
"Baiklah, ayo kita bekerja sama akan tetapi, ingatlah jika kau mengkhianatiku bang maka terimalah akibatnya." ajak Kara sambil memberi tangan untuk berjabat tangan .
"Tentu." balas Dee juga sambil menyambut jabat tangan dari Kara.
"Apa rencanamu Lucifer?" tanyanya langsung.
"Tak sabar sekali, rencana akan dimulai saat data yang kuperlukan ada." balas Kara santai.
"Apa data itu sangat penting?" tanya Dee.
"Tentu, agar rencanaku berhasil sempurna." balas Kara sambil menatap Dee dalam.
"Sudah selesai kan, bisakah kalian pergi karena aku ingin beristirahat terlebih dahulu karena besok akan menjadi perjalanan yang panjang untuk kita.' sambungnya.
"Baiklah, kami pergi." balas Dee mengajak Hyun pergi meninggalkan kamar asrama young.
"Young." panggil Rhea.
"Kau yakin bisa mempercayai bang Dee?" tanya Rhea.
"Aku lelah, aku akan ke kamar untuk tidur." balas Kara cuek tanpa menjawab dan langsung menuju kamarnya.
"Moodnya sedang buruk dan gaya bicaranya sangat campur aduk." celetuk Ann.
"Sepertinya dan kita tidak tau apa yang ada di dalam pikirannya itu." timpal Rhea.
"Aku pergi." sambungnya meninggalkan kamar asrama.
Tersisa lah Ann dan Charlo berdua kemudian mereka memilih untuk ke kamar masing-masing. Di kastil Youlhan bertemu dengan Felix dan Lucas.
"Kenapa kamu datang dengannya?" Youlhan langsung bertanya.
__ADS_1
"Tak sengaja bertemu." balas Felix.
"Saat aku tiba dia sudah disini." sambungnya.
"Apa rencana kalian terhadap ayahku?" tanya Lucas.
"Ck..., kau bilang tidak peduli pada ayahmu." cibir Felix.
"Jangan mengalihkan pertanyaan Felix,
jawablah?" tanya balik Lucas terlihat kesal.
"Disini aku hanya pemeran pendukung dan pemimpinya pasti kau tau siapa." sela Felix.
"Lucifer." sahut Lucas.
"Jika kau sudah tau kenapa masih bertanya lagi?." tanya balik Youlhan.
Felix dan youlhan hanya saling menatap membuat lucas menyeringai dengan senyuman devilnya. Lucas pun pergi untuk menemui Kara dan meninggal kan Youlhan serta Felix.
"Mau bertaruh?" ajak Felix tiba-tiba.
"Boleh." jawab Youlhan.
"Apa yang akan dilakukan oleh lucas ke young?" tanya Felix.
"Menggoda Young." jawab Youlhan.
"Kita lihat saja nanti karena sepertinya mood Lucifer sedang tidak baik." celetuk Youlhan.
"Mungkin saja Lucas bisa merubah suasana atau..,. " timpal Felix terhenti.
"Menghancurkan suasana." sahut Youlhan.
Merekapun tertawa memikirkan nasib Lucas saat di amuk oleh Kara yang di akhiri tawa yang menggelegar keduanya. Membayangkan wajah Lucas yang bete dan di tambah di semprot pula oleh amarah Kara saat ini.
...----------------...
Kara yang tertidur namun dirinya terbangun karena ada seseorang yang tanpa permisi masuk ke dalam kamarnya.
"Apa kau tidak di ajarkan sopan santun oleh ayahmu? ahha..., aku lupa ayahmu itu hanya menganggapmu sebuah senjata bukan putranya." sarkas Kara tajam walau
kalimatnya biasa saja.
"Apa rencanamu?" tanya Lucas langsung
mengabaikan perkataan Kara.
"Hmm......,Rencana apapun yang ku buat bukan urusanmu juga." timpal Kara enggan menjawab sambil memutar
__ADS_1
bola matanya jengah.
"Itu urusanku juga Lucifer." balas Lucas lantang.
"Lalu."
"Itu juga bukan urusanku menjawab
pertanyaanmu." ujar Kara.
"Jangan bermain - main denganku Lucifer." ancam Lucas.
"Mengancam diriku, aku tak takut sekalipun padamu." balas Kara dengan tatapan merendahkan.
"Kau hanya seorang submissive jadi jangan merasa lebih hebat dari seorang dominan." ujar Lucas mengingatkan kedudukan Kara.
"Aku tau tapi kau mau bertaruh siapa yang akan menang di pertarungan nanti. " tantang Kara.
"Itu adalah aku karena kau hanya boneka Albgraham dan bahkan kau tak tau bukan tujuannya." sambungnya percaya diri
"Kau menantang ku?" tanya Lucas geram.
"Menurutmu?" balas Kara.
"Cih!"
"Kau pikir aku tak tau tujuan ayahku ? kau salah besar karena aku mengetahuinya bahkan aku yang akan mendapatkan tujuan itu." lanjutnya.
"Eoh.....sangat percaya diri sekali." ejek Kara.
"Baiklah, aku terima tantangan darimu." Lucas menerima tantangan dari Kara karena kesal.
"Apa yang kau pertaruhkan dalam tantangan ini?"tanya Lucas.
"Tidak akan menyenangkan tanpa imbalan apapun."sambungnya.
"Kesetiaan." balas Kara.
"Jika aku kalah kau akan mendapatkan
kesetiaanku dan aku menjadi milikmu selamanya. " balas Kara dengan senyuman liciknya.
"Kesetiaan, aku suka itu." ulang Lucas.
"Tetapi jika kau kalah kau akan memberikan kesetiaanmu padaku juga." timpal Kara.
"Tentu saja, aku selalu memegang teguh janji yang ku berikan. Dan aku akan menantikan dimana seorang Lucifer tunduk di bawah kekuasaan ku." ujar Lucas percaya diri sambil mulai berjabat tangan kepada Kara.
Setelah itu Lucas pergi meninggalkan Kara sendiri dan tersirat senyuman seringai di wajah imutnya saat ini.
__ADS_1
"In your dreams, believe that I will win and you will lose. Goodbye loser."
To Be Continued