Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 11


__ADS_3

“Dasar si Raja Tumenggung tidak tau diri. Hati nya yang congkak, memanfaatkan kekuasaan dari hasil tanah rampasan. Kerajaannya yang telah lama runtuh malah mengincar Wanua Ubun hingga merenggut hewan leluhur milik tanah Mangkubuana!” umpat sang raja Seruni.


“Lapor yang Mulia, para pasukan sudah bersiap selama berjam-jam tapi tidak ada pergerakan sedikitpun dari pasukan Wanua Ubun” ucap panglima perang.


“Apa? Uhuk, uhuk! Dasar kau Tumenggung! Uhuk!”


“Ayo masuk ke dalam raja, hamba tidak mau kondisi raja semakin memburuk. Anggap saja raja tumenggung mengurungkan niat untuk menyerang” ucap sang raju.


...🔥🔥🔥...


Jiwa pendendam ini masih di pelupuk mata


Panah beracun di dalam dada membentuk lembah hitam


Membalikkan semua rasa sakit berkali lipat untukmu wahai raja tumenggung berhati buta


Kumparan sedaya waktu mistis akan menghantam mu dengan tajam


...🔥🔥🔥...


Seekor burung gagak dan seekor serigala siluman menemui sang ratau Diajeng yang sedang berdiri di pucuk menara istana. Sinar kekuatan hitam bercampur merah itu semakin menyala bersama teriakannya yang terdengar sampai ke wilayah Wanua Ubun. Dia melihat kembali sinar mengerikan yang membelah langit itu untuk kedua kalinya.


“Anak ku, si putri mahkota Wanua Ubun. Bagaimana bisa aku menyelamatkan mu dari kutukan ini?” batin sang raja.


Tidak ada satupun peramal atau cenayang yang di datangkan dari berbagai negara dapat memutuskan kutukan itu. Tidak ada sedikitpun cacat fisik maupun mental sang bayi. Dia di beri nama Alundra Wanua Ubun. Dia masih di dalam buaian, meski sudah di beri asi dari sang ratu. Dayang pendamping berlari memberikan susu formula hangat berukuran setengah dot bayi.


Seorang Cenayang yang berbaris menunggu antrian terakhir di panggil dayang pendamping untuk masuk. Saat memasuki ruangan kebesaran, dia di kejutkan dengan sinar hitam yang menyelubungi sang bayi. Dia melihat dari mata gaibnya, memutar kekuatan mencoba menghilangkan sihir kutukan hitam. Sang cenayang terhempas membentur dinding, dia mengeluarkan muntahan darah. Bangkit mengeluarkan kekuatan berusaha lagi mengeluarkan sihir hitam yang mengganggu sang bayi. Lagi dan lagi dia terjatuh hingga energinya habis.


“Maafkan hamba yang mulia, hamba tidak bisa menghilangkan kutukan ini. Sang ratu harus di asingkan dari istana untuk menghindari rantai kutukan yang akan berlanjut pada penghuni kerajaan.”


“Kenapa bisa merambat seperti itu? Cepat cari cara lain agar dapat mematahkannya!” ucap sang raja.

__ADS_1


“Raja, kita tidak mungkin membuang anak kita sendiri demi mementingkan kekuasan” ucap sang ratu.


“Semua keputusan ada pada


raja dan ratu, kekuatan itu dapat seutuhnya pada sang putri jika dia keluar menyendiri di suatu tempat yang sangat jauh dari kerajaan” kata si peramal.


“Wahai peramal, aku mohon tolong selamatkan putri Alundra. Katakan pada ku bagaimana nasib putri ku yang malang ini di masa depan?” ucap sang ratu memelas.


“Kutukan akan terus berjalan, bersumber pada dirinya. Pergi menyendiri hanya sedikit mengubah takdir di dalam nasibnya yang sangat buruk. Raja hamba mohon undur diri untuk menyembuhkan luka dalam ini.”


Di dalam istana yang di rundung masalah besar itu, ada sepercik kebahagiaan kecil atas kehadiran bayi mungil.


Perdebatan raja dan ratu membahas kutukan sang putri. Ratu tidak percaya sang raja memutuskan agar anaknya di asingkan ke pulau terpencil.


"Sungguh engkau adalah seorang ayah yang sangat kejam!"


"Ratu, semua ini demi kebaikan negeri kita. Setelah putri Alundra dewasa nanti kita akan menjemputnya kembali. Selama di persaingan kita mencari cara untuk menghilangkan kutukannya!"


"Tidak! raja, engkau tidak bisa memisahkan anak dari ibunya!"


"Tidak! anak ku!"


...🔥🔥🔥...


Putri Alundra di bawa oleh kasim pendamping raja ke tengah hutan yang sangat jauh dari Istana. Sang raja memerintahkan untuk membunuhnya dan berpura-pura membawa putri palsu mengganti dengan anak perempuan lain yang tinggal di desa.


Sang kasim mengendarai kuda milik sang raja menggunakan jubah hitam besar menutupi sang bayi yang di gendong dengan kain di bagian depan. Ada pedang yang sudah dia persiapkan di balik punggungnya.


Sesampainya di hutan, sang kasim bersiap mengayunkan pedang. Melihat tatapannya yang penuh rasa belas kasihan membuat dia tidak tega untuk membunuhnya. Matanya yang berbinar, tangis meluluhkan semakin memberatkan sang kasim. Tangannya lemas, pedang terlepas dari tangannya.


“Bagaimana bisa aku membunuh anak yang malang ini?” gumam sang kasim.

__ADS_1


Dia meninggalkan bayi itu begitu saja. Sepanjang perjalanan hati sang kasim tidak tenang alih-alih sang bayi jadi santapan hewan buas. Dia berbalik arah menuju hutan menuju ke tempat bayi yang dia tinggalkan tadi. Melihat sang bayi terisak tangis, sang kasim membungkus tubuhnya yang dingin dengan jubah miliknya.


“Dimana aku harus menitipkan bayi ini dengan tenang?”


Sinar bola api menyala di hadapannya, ketika dia mendekat. Bola api itu terpecah menjadi kunang-kunang yang berterbangan. Kunang-kunang itu seolah menggiringnya membuka jalan menuju ke sebuah gubuk kecil ada sumur yang berada di depannya.


“Aku harap penghuni rumah ini mau menerima tuan putri Alundra”


Di luar rumah tampak cahaya lampu remang-remang, ada burung gagak berterbangan. Saat dia akan mengetuk pintu, seorang wanita tua menampakkan diri dari balik pintu melotot menatapnya. Dia memperhatikan bayi yang di gendong. Sang kasim itu risih bergerak satu langkah mundur ke belakang.


“Ada keperluan apa sampai seorang petinggi istana datang kesini?” ucapnya bersuara serak.


“Nek, aku mau minta tolong menitipkan anak ini sampai dia dewasa” jawabnya sedikit ketakutan.


“Hahaha, aku mendengar beritanya. Dia adalah bayi yang terkena kutukan dari ratu berilmu hitam”


“Ya, engkau benar sekali. Apakah kau bersedia merawat dan membesarkannya?”


“Memangnya apa imbalan yang aku dapatkan?”


“Aku akan memberikan seluruh harta ku pada mu. Asal bayi ini selamat.”


“Ahahah, harta saja tidak cukup. Bawakan aku tiga lembar bulu Garuda. Si hewan warisan tanah leluhur MangkuBuana yang sakti itu! Aku tau sang raja menyembunyikannya di suatu tempat”


“Tapi, tidak mudah mendapatkannya. Raja tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam sana”


“Kalau begitu kau cepat pergi dan bawa bayi ini! sebelum aku berubah pikiran untuk memakannya!”


Melihat gelagat wanita itu sang kasim berpikir dua kali untuk menitipkan sang putri. Dia juga tidak punya pilihan lain selain pasrah agar si wanita tua menepati janji sekalipun setelah mendapatkan yang dia minta pasti nyawanya berada di ujung tanduk.


“Satu minggu lagi aku akan membawakannya untuk mu asalkan kau menepati janji” ucap sang kasim penuh harapan.

__ADS_1


“Aku akan menunggu mu. Jika engkau tidak kembali maka anak ini tinggal menjadi tengkorak. Ahahah.”


Dia menyelipkan tanda pengenal kerajaan Wanua Ubun di samping sang bayi. Sang kasim meninggalkannya dengan harap cemas.


__ADS_2