
Suasana pemberontakan di sisi lain dua jasad terbengkalai, semua orang sibuk saling menyerang dan menyelamatkan diri mereka masing-masing. Melihat kekacauan, istana Wanua ubun hanya tersisa ratusan prajurit saja. Berhasil memberantas pengikut ibu suri, dia membangun benteng pertahanan. Di sepanjang pintu masuk istana di penuhi dengan jebakan yang mematikan.
“Raja, jasad sang ratu dan ibu suri baru saja di makamkan, semua orang di istana masih berduka. Hamba mohon urungkan niat untuk mengadakan ritual ini. Hamba takut arwah sang ratu dan ibu suri menjadi tidak tenang” pinta sang ketua kasim.
“Tau apa kau ? aku setiap malam mendengar jeritan si ratu Diajeng yang terus-menerus menghantui ku! Bukan kah jasad ratu dan ibu suri sudah di semayamkan?”
“Raja, tapi seharusnya melakukan acara setelah masa sepuluh hari__”
“Stthhh diam! Apa kau tidak mendengar suara teriakannya? Si ratu Mangkubuana setan itu sedamg berteriak memekik lalu menertawai ku! Prajurit! Cepat siapkan alat peperangan itu! Waktu kita tidak banyak!”
“Raja!” ucap sang kasim memelas.
Di benaknya kini tidak menyesal telah menyelamatkan sang putri pewaris Wanua ubun. Sang kasim tidka takut terkena dampak kutukan darinya. Agar tidak lupa dimana tempat terakhir kali bertemu dengan sang putri, ketua kasim menulis sebuah peta rahasia di hutan agar sewaktu-waktu kembali menjemputnya.
......................
Pagi cerah di atas rumah sang wanita tua yang mengalami badai hebat. Dia membuka pintu merasa aneh melihat fenomena alam memperlihatkan langit yang berbeda. Hujan semakin deras di sertai angin kencang. Sang bayi Alundra menangis kedinginan dan kelaparan.
“Hei monster kecil, kalau kau tidak mau diam maka aku akan menyantap mu menjadi potongan sup hangat! Lihatlah, setelah kehadiran mu, rumah seakan terkena kutukan!”
Sang wanita tua keluar rumah memakai payung. Seperti biasa, dia membanting pintu membiarkan sang bayi hingga tangisnya berhenti. Setiap hari pula sang siluman burung gagak memberikannya air madu manis sebagai pengganti rasa haus dan lapar.
__ADS_1
Terkadang diam-diam sang ratu Diajeng memeriksa keadaan sang bayi. Dia mengganti popoknya dengan selembar daun yang di ubah menjadi pintalan kain sutra yang lembut dan halus. Dial ah yang menurunkan badai setiap hari di rumah sang wanita tua. Tapi tidak tahan mendengar tangisan sang putri membuat dia rajin menghampiri melihat segala sesuatu yang di perlukan.
“Tidak ku sangka si ratu pemarah itu memiliki hati yang mulia” gumam siluman burung gagak melihat dari kejauhan.
Ibunya sudah tiada, sang bayi merasakan kepergian sang ibunda hingga dia menangis sepanjang hari. Ayunan yang terbuat dari bambu yang di buatkan oleh siluman gagak biasanya bisa menenangkannya di dalam buaian. Tapi tangis belum juga reda, sang siluman khawatir hingga dia berubah wujud menjadii manusia menggendong sang bayi.
Si wanita tua terkejut ketika melihat bayi Alrundra di gendong sosok pria yang memiliki sayap tipis berwarna hitam di punggungnya. Sang pria meletakkan sang bayi kembali ke ayunan bergegas pergi terbang.
“Sungguh engkau adalah seorang bayi terkutuk yang beruntung!” seru sang wanita tua.
Umurnya sudah dua abad akan tetapi hingga saat ini ramuan sihir yang setiap hari dia racik seakan tidak memiliki efek apapun selain hanya untuk memperpanjang usianya. Seolah ramuan yang di buatnya sendiri untuk di takdirkan mengurus sang putri. Menyadari selama ini ternyata si bayi di urus oleh makhluk lain, sang wanita tua mencoba membunuhnya dengan mencekik leher sang bayi.
Petir menggelegar menyambar pepohonan di sekitar rumahnya. Ramai burung gagak masuk berterbangan ke dalam, mereka menyerang si wanita tua hingga dia melepaskan cekikannya itu. Bayi Alundra menangis di dalam kesakitan. Karena si wanita tua sudah tidak lagi menyakitinya, para gerombolan burung gagak menghilang dalam sekejap mata.
......................
Di luar kandang raksasa terasa hawa yang sangat panas. Bagaimana sang kasim bisa mengambil beberapa helai bulu milik Garuda sedangkan mendekatinya saja akan terpanggang?
Kasim benar-benar mengorbankan diri membuka paksa penutup yang terbuat dari besi putih. Dia menekan tombol yang berada di sudut ruang dinding tanah. Jemarinya melempuh, setelah penutup terbuka, sang kasim sangat terkejut melihat sosok Garuda secara keseluruhan.
“Hewan di tanah leluhur yang terkuat sejagat raya!” ucap sang kasim terperangah.
__ADS_1
Kulit dan tubuh ketua kasim sudah melempuh, dia memasukkan tangannya di sela kurungan kandang. Menarik paksa sehelai bulu Garuda, ujung bulu yang baru tersentuh bergerak menghempas tangannya. Paruhnya mendekat, sang kasim mundur melihat nyala api yang di keluarkan oleh Garuda. Sangat panas dan terasa begitu membakar tubuh, di belakangnya berdiri pengawal menarik tubuh sang kasim untuk keluar.
“Waktu mu sudah habis, sebentar lagi raja akan datang memeriksa hewan ini. Cepat pergi!” usir sang pengawal.
Sang kasim sudah berputus asa, dia tidak sadarkan diri saat berjalan menuju gerbang istana.
“Itu ketua kasim, tubuhnya hangus terbakar!”
“”Ayo cepat kita tolong dia!”
Tabib istana mengobatinya tercium bau daging panggang pada tubuhnya. Sesekali aroma amis terasa terbawa angin. Tubuhnya di perban, setelah sadar dia tidak bisa bergerak sedikitpun. Dia tidak bisa melalukan apapun, meminta bantuan pada orang lain hanya akan membuka rahasia yang dia simpan dan pasti akan mengancam keselaman sang putri. Ketua kasim tidak tenang seharian dia tidak mau makan atau meminum obat yang di berikan oleh sang tabib.
“Ketua kasim, bagaimana engkau bisa sembuh jika tidak mau makan, minum ataupun minum ramuan herbal ku ini” ucap sang tabib.
Dia bagai orang yang sudah bosan hidup, memalingkan wajah tidak perduli semua perkataan sang tabib. Sang raja datang memasang pandangan bengis, dia tetaplah menjadi si raja Tumenggung yang berpihak pada rakyat dan pasukannya yang berpindah ke Wanua ubun. Peran seorang pemimpin tidak pernah memikirkan keselamatan seluruh penghuni Wanua Ubun.
“ketua kasim, apa yang sedang menimpa mu sehingga engkau tidak mau memulihkan kondisi mu itu? Apakah kau sudah bosan mendampingi ku sebagai kepala kasim yang mengurus segala kehendak raja?”
“Maafkan hamba wahai yang mulia, tapi sepertinya waktu hamba sudah sangat dekat”
“Apa yang sudah kau katakan? Tabib, cepat paksa dia untuk menelan semua itu dan segera sembuhkan lukanya. Setelah dia sehat nanti aku akan mengintrogasi mengapa dia sampai hangus terbakar. Sepertinya ketua kasim ini mulai menyembunyikan sesuatu dari ku” ucap sang raja yang mulai curiga.
__ADS_1
Melihat sang raja sudah pergi, si kepala kasim meminta pada sang tabib agar kematiannya segera di percepat.
“Ku mohon wahai tabib, beri aku ramuan beracun. Aku sudah tidak sanggup lagi hidup sebagai bidak catur untuk sang raja yang berhati iblis.”