Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 7


__ADS_3

Mendengar sang putri pergi ke Wanua Ubun, hal itu merupakan kesempatan emas bagi pak Poh bergerak menjalankan rencana. Hal pertama adalah menyiksa dayang Kumetra untuk membuka suara mengenai segala rahasia dari sang putri.


Siksaan itu membuat pita suaranya hampir pecah karena selama sepanjang malam hingga pagi berteriak kesakitan. Cambukan cemeti panjang merobek tubuhnya. Darah mengalir, tubuhnya bergetar tidak sanggup lagi menerima hukuman.


"Cepat katakan apa rahasia anak itu?" tanya Pak Poh.


"Hamba tidak tau tuan muda. Hiks"


"Teruskan siksa dia sampai dia mau membuka suara! "


"Baik tuan. "


Seluruh pasukan sudah bersiap siaga menyerang para pengikut sang putri. Dia bersama sekte kepala tengkorak menunggu kedatangan putri diajeng. Di atas kursi kebesaran, Pak Poh merasa dirinya lah yang pantas menjadi seorang raja pemimpin negeri.


"Apa yang sedang di lakukan tuan muda Poh di kursi kebesaran mendiang sang raja? pemimpin negeri Mangkubuana belum di lantik, apakah dia ingin menggeser putri Mahkota? tanya penasehat istana.


"Kalau dia sudah duduk disana, sangat jelas sekali akan ada peperangan memperebutkan tahta" bisik perdana menteri hakim.


Menerima berita dari Trangga bahwa Pak Poh menunggu di aula istana. Dia juga mengatakan ada banyak prajurit yang memakai baju sekte lain dengan simbol kepala tengkorak. Amarah sang putri yang belum mereda semakin menggebu.


Di aula istana.


Pak Poh tersenyum tipis memerintahkan salah satu pengikutnya menyerahkan sebuah gulungan yang berisi surat perpindahan kekuasaan. Sang putri membakar gulungan surat itu dengan kekuatan yang keluar dari sepa jarinya. Pak Poh melotot mengeluarkan pedang mengarahkan ke tubuhnya.


Serangan itu di tepis oleh penjaga istana. Para pengikut Poh mulai menyerang, pengawal istana menebas leher para pemberontak dengan pedang tajam miliknya.


Sang putri menghentakkan tongkat. Dia mengangkat Pak Poh ke atas langit-langit ruangan lalu menjatuhkannya ke ubin.


"Paman, setengah jiwaku masih mengingat mu adalah kakak dari mendiang sang ratu. Apakah kau tetap berniat melawan ku?"


"Ahaha, kini kau mendapatkan kekuatan hitam dari tanah leluhur. Sesuai perkataan si peramal Ming. Cekala lah tanah leluhur ini. Ahahah! "

__ADS_1


Dia menusuk dirinya sendiri. Poh tidak mau mati di tangan keponakannya. Kematian Poh mengejutkan para pengikutnya. Mereka tidak ada pilihan lain selain menjadi pengikut sang putri.


"Penasehat istana, cepat adakan upacara pelantikan ku sekarang juga!" perintah sang putri.


Dia duduk di atas tahta, pada hari itu juga sang putri Mahkota diajeng di angkat menjadi ratu Mangkubuana. Dia memakai Mahkota hitam, burung-burung gagak berterbangan masuk ke aula istana bertengger di dekat tempat duduk sang ratu.


"Hidup ratu Mangkubuana!"


Ramai sorak para pejabat negara memberikannya selamat.


Di bawah langit berselimut hitam sang ratu mengubah setiap sudut istana berisi aura kegelapan. Para jin peliharaan sesekali memakan korban merampas jiwa lalu menghilangkan aura hawa murninya.


Pada malam panjang ini sang ratu memutar tongkat mustika permata bola hitam mencari dimana Garuda berada.


"Apakah ilmu ini sudah tidak lagi berguna? aku tidak menemukan jejak Garuda" gumam sang ratu.


......................



"Kumetra, ambil satu tangkai bunga itu. Aku akan mengubahnya menjadi minuman penangkal di dalam medan peperangan dan kelopaknya aku semai di dekat tebing bebatuan."


"Akan hamba laksanakan wahai ratu."


......................


Proses pemakaman


Pemakaman itu tidak di hadiri oleh sang ratu. Dia hanya menatap para rombongan pengantar jenazah dari kejauhan. Menyebarkan serbuk poppy, menggunakan kekuatannya menyuburkan tumbuhan itu dalam sekejab mata. Deru ombak di lautan memecah keheningan ingatan dendam yang belum usai. Dia masih mencari dimana Garuda berada.


“Ratu, kenapa kita tidak bertanya kepada raja mengenai Garuda?” tanya Suga menunduk.

__ADS_1


“Sedikit saja dia membuka suara di depan ku maka aku akan merobek mulutnya!”


Dia menangkap seekor burung gagak yang terbang, meniupkan sihir memerintahkan akan menjadi mata-mata di kerjaan Wanua Ubun.


“Jadikan mata ketiga ku agar mengetahui semua hal tentang kerajaan itu”


“Baik yang mulia ratu.”


Dia duduk di atas singgahsana sambil memperhatikan deru ombak di lautan. Pada hari yang terlewati itu, kapal-kapal kecil yang pernah dia letakkan bersama sang raja masih terbayang olehnya. Seharusnya dia sudah mematahkan kepala raja jahat itu. Tapi sisa perasaannya yang mengijinkan dia tetap hidup di dalam kutukan.


Dari kejauhan, terlihat banyak kapal berlabuh ke dermaga. Para pasukan memakai baju Zirah membawa pedang dan tombak menuju ke wilayah Buana. Di barisan paling depan tampak raja Tumenggung menyalakan sinyal. Ribuan anak panah menusuk jantung prajurit yang berada di benteng perbatasan istana.


“Ratu, serangan mendadak dari raja Tumenggung telah menewaskan pasukan perbatasan. Panglima perang juga sedang sekarat. Mereka seperti memiliki ilmu di balik pedangnya” ucap penjaga istana.


“Trangga, lemparkan biji hitam ini ke hutan. Sebelum melempar pastikan kau menyiapkan tempat persembunyian yang paling aman” perintah sang ratu.


Dia berlari ke dalam hutan, menoleh ke kanan dan kiri hingga dia melihat sebuah gua di balik bebatuan besar. Trangga melemparkan biji hitam lalu berlari ke dalam gua. Alangkah terkejutnya dia melihat akar, pohon, bebatuan dan tumbuhan lainnya hidup bergerak berjalan menyerang pasukan raja Tumenggung. Sang penjaga istana ketakutan, dia tidak tau harus bersembunyi dimana karena semua yang ada di dalam hutan menjadi hidup.


“Argghh! Tolong!”


Pengawal Suga menariknya berlari menjauh, mereka hampir tertimpa pohon yang berlari. Di atas perbukitan melihat para pasukan Wanua ubun membakar pohon besar dan tumbuhan lainnya menggunakan bom bubuk mesiu menggunakan alat raksasa yang mereka bawa. Melihat banyak pasukan Buana yang gugur, sang ratu terbang menggulung ombak menenggelamkan sang raja beserta prajuritnya.


Seolah sang raja Tumenggung memiliki seribu nyawa, dia tersangkut pada batang pohon di bantu oleh sisa para prajurit menaiki kapal kecil kembali ke Wanua Ubun.


Sang putri berpikir jika saja dia meninggal pada hari itu pasti seluruh pasukannya akan binasa, rakyatnya menderita dan tahta di rampas pamannya Pak Poh.


Darah para musuh di wilayah Buana, daging bangkai mayat yang di makan burung gagak dan suara jeritan para arwah yang bergentayangan menggema di malam hari.


“Apa yang sedang terjadi pada tanah ini? setiap malam tidak ada satupun warga yang keluar” ucap Suga.


“Penjaga istana, apa kau belum mendengar ilmu hitam yang di miliki sang ratu memakan korban jiwa? Orang-orang tertentu saja yang meninggal di jumpai makhluk mengerikan” bisik salah satu prajurit.

__ADS_1


“Konon kabarnya, darah tidak bisa menghilang sekalipun menetes di atas tanah. Tidak tau pasti kebenarannya tapi kesunyian setiap malam menjadi bukti nyata kabar yang beredar” ucap prajurit lain yang berada di sampingnya.


__ADS_2