
Tangan sang ratu terasa berat untuk menerima sang bayi. Jauh di lubuk hatinya menyimpan dendam pada raja Tumenggung. Dia di letakkan kembali ke keranjang, sang bayi menyihir sekitar rumah terlihat senuah tirai tipis berwarna hitam menutupi dari bagian atas sampai bawah. Melihat sang bayi Alundra lebih dekat, wajahnya membuat dia tidak tega menyakiti sampai tidak membiarkan seekor lalat menggigitnya. Tanpa berbicara apapun sang ratu pergi, sang pengawal dan penjaga mengikutinya yang tertinggal hanya si siluman kelinci.
Pagi hari yang mendung.
Wajah cantik nan rupawan, tangisan tidak terdengar hari ini. Sang ratu menatapnya dari jendela, dia merapikan selimut sang bayi. Dia menyediakan beberapa serbuk kelopak sari bunga manis di atas meja. Kayu perapian yang hampir padam menyala kembali. Kayu-kayu tersusun rapi di depan rumah. Sang ratu juga meyihir beberapa helai daun menjadi selimut halus. Melihat siluman kelinci terbangun, sang ratu menghilang meninggalkannya.
“Siapa yang menyediakan semua ini?” ucap si kelinci.
Dia sangat cekatan memberikan serbuk sari madu ke si bayi. Pintu yang terbuka terlihat ada seekor siluman kelinci lain masuk ke dalam rumah. Dia memeriksa popok bayi Alundra, menggantinya dengan yang baru.
“Siapa kau? berani sekali menyentuh bayi ini tanpa seijin ku!”
“Aku di tugaskan sang ratu untuk bergantian merawat bayi ini__”
......................
Di atas singgahsana dia memikirkan si bayi, dia melukis wajahnya menggunakan cahaya kilatan hitam di balik cermin raksasa yang dia terbangkan menggunakan sihirnya. Langit Mangkubuana tidak seindah dulu, rerumputan hijau di penuhi siluman kupu-kupu begitu pula pepohonan yang berbuah harum terdapat siluman yang di ubah oleh sang ratu.
Dia beranjak dari tahtanya berjalan menerbangkan sihir berjatuhan di tanah untuk menjaga keselamatan wilayah Mangkubuana. Malam telah larut, setelah menguasai sihir bersekutu dengan dengan makhluk lain dia tampak lebih mengerikan sering berlaku kejam pada para pengikutnya. Manusia yang sudah di ubah wujud menjadi siluman harus tetap terjaga waktu Pagi, siang dan malam.
Mereka mencuri waktu agar bisa memejamkan mata walau hanya beberapa menit atau saling terjaga memberitahu kapan ratu akan berkeliling ke tanah Mangkubuana. Setiap siluman membungkuk memberi hormat ketika dia melewati tempat mereka.
“Lapor pada sang ratu, raja Wanua Ubun sedang membangun benteng terbuat dari besi putih. Kini beliau mempekerjakan sisa para pasukannya agar segera menyelesaikan misi rahasia perang melawan Mangkubuana.”
__ADS_1
“Cuma segitu saja sisa kekuatan si Tumenggung? Apakah dia tau anaknya masih hidup?”
“Mengenai hal itu hamba tidak tau yang mulia.”
Sang ratu memutar tongkat sihir mengirim badai ke kerajaan Wanua Ubun. Para pasukan luluh lantak terkena bencana itu. Raja Tumenggung mengetahui musibah yang terjadi di kerajaannya berasal dari serangan sihir ratu Diajeng. Pada malam yang larut dia berjalan tanpa membawa senjata menuju kerajaan Mangkubuana. Pepohonan hidup bergerak hampir menginjaknya.
“Tolong jangan bunuh aku! Aku tidak membawa senjata atau berniat buruk. Ijinkan aku bertemu sang ratu!” ucap sang raja.
Melihat kedatangan sang raja Tumenggung, sontak saja pengawal pendamping ratu menyerangnya. Dia tau pria jahat itu pasti mempunyai niat buruk. Sedikit lagi lehernya tertebas pedang tajamnya. Sang raja meraih sinyal serpihan bubuk mesiu di udara.
“Arrghh!”
Ratu Diajeng datang memperlihatkan amarah menghajar sang raja tanpa henti. Tubuhnya babak belur, kakinya pincang karena jahitan pada kulit kembali di terbuka. Dia menyatukan kedua jari di depan dada memohon agar sang ratu berhenti menyerangnya.
“Aku mohon maafkan aku, ratu Diajeng masih ingatkan kamu segala kenagan manis kita?”
Serangan beruntun, sang raja sudah berkali-kali memuntahkan darah. Dia bersujud membenturkan kepala di atas tanah. “Maafkan aku ratu, ingatlah semua hal manis yang pernah kita lakukan, apakah tidak ada lagi sedikit rasa di cinta di hati mu?”
Rayuan maut si raja buaya, dia meminta sang ratu berbicara empat mata. Semua sudah jauh berbeda, tapi hati manusia yang tidak pernah ingkar dengan dirinya sendiri menyentuh titik sepercik sisa luluh pada sang raja. Tangis tertutup rasa amarah. Semakin di mencoba menerima pria itu maka semkain dalam kekuatan memakan jiwanya sendiri.
Beridri menhdap lautan leoas, kakinya tidka menginjak tanah menggulung air tanpa menoleh melihatnya. Kesalahan terbesar sang ratu adalah mengenai pria itu. Agar meyakinkan sang ratu, si raja Tumenggung menunjukkan sebuah gelas pasangan berwarna merah, ada bandul putih di tengah tengahnya.
“Apakah engkau masih menyimpannya juga?” tanya sang raja.
__ADS_1
“Tidak ada hal manis yang bisa aku lihat dari penantian ini, buang semua kepura-puraan mu dan pergi dari sini!”
“Diajeng, dahulu aku melakukan semua itu karena unsur terpaksa. Jauh di lubuk hati ku selalu ada nama mu!”
Di atas langit sang ratu mengumpulkan cahaya petir, sebuah kilatan yang tercipta dari setengah sisa kekuatannya Dia bersiap menghabisi sang raja Saat kekuatan itu akan tertuju padanya, raja Tumenggung memeluknya erat sehingga kekuatan sang ratu mengenai dirinya sendiri. Penjaga istana menyerang sang raja sementara pengawal pendamping membawa ratu masuk ke dalam istana.
Sihir-sihir hitam membekuan dirinya setelah terbakar api halilintarnya sendiri. Sang penjaga mengusir raja Tumenggung. Sang raja memberontak, pedangnya menyayat tubuh sang penjaga. Siluman pohon membantu mengusirnya. Cara licik sang raja berupaya menipu ratu Gendis nyatanya tidak berhasil. Walau tangis hati kecil sang ratu mengalami trauma yang mendalam.
“Ratu, apa yang engkau butuhkan sekarang?” tanya sang pengawal pendamping.
“Tinggalkan saja aku sendirian.”
......................
Di gubuk terpencil pertengahan hutan. Para siluman kelinci asik bermain dengan sang putri. Bayi kecil itu terbiasa dengan kesederhaan hidup. Hari demi hari dia tumbuh di urus para siluman dengan baik. Sang ratu terkadang melihatnya dari kejauhan. Pada suatu hari yang terik, para siluman kelelahan bermain. Mereka tertidur pulas di bawah pohon. Sang bayi mulai berjalan tertatih-tatih, dia mengejar kupu-kupu kecil yang terbang.
Langkah kaki kecilnya menuju jurang, dia terperosok ke dalam di bantu sang ratu menggunakan kekuatan sihirnya. Akar pohon menaikkan tubuhnya kembali ke atas permukaan tanah. Bayi Alundra tertawa riang mengejar kupu-kupu. Sang ratu menggelengkan kepala melihat tingkah lucunya. Dia menjatuhkan beberapa buah apel di dekat para siluman kelinci tertidur.
Buukk__
“Aduh!”
“Sakit sekali!”
__ADS_1
“Siapa yang sudah melempar ku?”
Umpat para siluman membelalak melihat buah apel yang bertebaran. Salah satu siluman kelinci memasukkan buah apel ke dalam keranjang sedangkan para siluman lain melingak-linguk mencari keberadaan si bayi. Mereka tertawa melihat sang bayi berlari tertatih sesekali mengajar kupu-kupu. Para siluman ikut mengejar, mereka bermain bersama hingga petang.