Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 9 Mantra penyambung kutukan


__ADS_3

Sang ratu melemparkan sebuah pot yang berisi bunga segar ke arah sang raja. Benda itu segera di tepis, tubuh bergerak mengelak ke sisi kanan. Luka jahitannya masih basah, dia mengernyitkan dahi melihat sikap kasar sang ratu. Setelah tersadar, dia mendengar laporan dari dayang pendampingnya mengenai kejadian yang menggemparkan seisi istana.


“Ada apa dengan mu wahai ratu ku?” tanya sang raja.


“Apakah aku ratu bagi mu? katakan dimana kau simpan kepala ibu suri Wanua ubun yang kau sembunyikan dari ku!” bentaknya.


“Maafkan aku wahai ratu ku__”


Pertengkaran panjang sambil berjalan ke pemakaman mendiang ibu suri. Tangisan ratu tersedu-sedu setelah melihat kepala yang terpisah dari tubuhnya. Sang ratu kembali pingsan saat peti ibu suri kembali di makamkan. Utusan sang ratu Diajeng setiap hari mengabarkan semua hal mengenai kerajaan tersebut.


“Hahah, wanita itu terlalu mendramatisir sekali, dia dahulu pasti sudah mendengar kabar raja Tumenggung akan menduduki kekuasan putri mahkota Diajeng. Dia dengan mudah menerima lamaran sang raja padahal Kumetra sudah memberikannya surat mengenai sang raja” gumam sang ratu Diajeng.


“Ratu, ada kabar mengenai rakyat Buana yang mendapat teror dari makhluk halus saat keluar rumah kemarin sore” kata sang penjaga istana.


“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa jangan keluar dari rumah di malam hari walau selangkah kaki sekalipun!”


“Ratu, pria tersebut mencari dukun beranak karena istrinya akan melahirkan. Tapi tidak di sangka ada sosok yang mengerikan muncul menyerap habis darahnya hingga jasadnya mengering”


“Bagaimana dengan istri dan bayinya?”


“Mereka berhasil di selamatkan oleh para warga sekitar yang berkerumun menjaga rumah itu hingga pagi hari.”


......................


Ratu diajeng berdiri di atas menara istana. Di atas kilatan langit yang mengeluarkan petir, dia meniup kekuatan sihir hitam menyebarkan wabah penyakit ke wilayah Wanua Ubun. Di malam yang mencekam, suara teriakan orang-orang menggaruk sekujur tubuh mereka yang mengeluarkan bercak merah.


“Gatal! Gatal sekali!”

__ADS_1


Beberapa orang yang tidak tahan berlari seperti orang gila mengusap tubuh mereka di atas tanah. Usapan hingga menyayat tubuhnya sendiri mengenai permukaan pasir kasar. Seolah rasa gatal itu melebihi rasa sakit yang mereka rasakan.


“Apa yang terjadi dengan rakyat ku?” tanya sang raja.


Kini tidurnya tidak nyenyak. Setelah berpaling dari sang ratu Diajeng dia mengalami banyak musibah. Melihat keadaan sang ratu Gendis sangat lemah membuat dia semakin risau.


“Raja, sepertinya wabah ini berasal dari ilmu hitam. Jika di perbolehkan, hamba akan mendatangkan seorang paranormal untuk membantu” ucap sang kasim pendamping.


“Ya, cepat segera datangkan dia.”


Keesokan pagi sang paranormal berdiri di hadapan sang raja. Dia menggelengkan kepala melihat asap hitam yang menyelubungi seluruh tanah Wanua Ubun.


“Kekuatan sebesar ini tidak bisa aku kalahkan!” gumamnya.


“Hormat saya menghadap penguasa Wanua Ubun, semoga raja panjang umur” ucapnya lalu bersujud.


“Maafkan saya wahai raja yang agung, hamba tidak bisa menghilangkan wabah sihir yang sangat kuat ini. Tapi hamba bisa menyembuhkan mereka”


“Katakan padaku kekuatan besar apa yang engkau maksud itu?”


“Kekuatan yang tidak tertandingi yang keluar dari dalam perut bumi. Ada seorang pewaris tahta keturunan ketujuh yang membangunkannya” jawab sang peramal.


Sang raja berpikir pasti semua ini adalah ulah ratu Diajeng. Di halaman istana bagian depan telah tersusun bangku dan meja untuk para rakyat yang terkena penyakit. Sang raja memerintahkan sang paranormal mengobati mereka satu-persatu. Semakin banyak orang-orang yang sembuh, semakin banyak pula penyakit menular pada yang lainnya hingga sang paranormal kewalahan.


“Kalakus eperti ini terus maka kekuatan ku akan habis” gumam sang paranormal.


“Hei paranormal, kenapa kau berhenti? Cepat lanjutkan pekerjaan mu!” bentak salah satu pengawal yang mulai mengusap tubuhnya yang terasa gatal.

__ADS_1


Dia sudah di beri hadiah sati peti emas setiap hari demi menyembuhkan para rakyat. Tapi kekuatannya sudah hampir habis, sang paranormal melihat kematiannya sendiri jika meneruskan pengobatan ini. Di balik penglihatannya beberapa jam lagi akan datang sosok si pembawa wabah. Ketika sang paranormal akan melarikan diri, dua pengawal menghadang dengan membawa senjata tombak yang tajam.


Air laut menggulung membawanya terbang ke istana Wanua Ubun. Dia mematahkan leher para rakyat, teriakan kesakitan mereka terdengar oleh raja. Jahitan kaki yang mulai kering kembali robek saat berlari menyerang sang ratu Buana. Dia di banting beberapa kali sampai setengah tubuhnya di bakar.


“Cukup! Hentikan!” teriak ratu Gendis.


Perutnya yang mulai tampak besar menyalakan amarah di mata sang ratu Buana. Dia mencekik mengangkat sang ratu sambil melihat perutnya.


“Aku sudah mengutuk anak mu, jika aku membunuh mu sekarang maka kau tidak bisa merasakan kutukan untuknya. Hahaha” tawa ratu Buana lalu menghilang.


Di sela wabah penyakit yang masih menyerang, wilayah Wanua Ubun di landa kemiskinan sehingga para prajurit ikut bercocok tanam dan menjadi nelayan. Beberapa bulan berlalu sang ratu melahirkan seorang bayi perempuan. Kabar itu terdengar oleh sang ratu Buana. Acara pemberian nama dan penyematan sebagai putri mahkota yang akan di langsungkan hari ini membuat sang ratu tidak sabar ikut hadir di dalamnya.


“Suga, Kumetra, bersiaplah menemaniku di acara kelahiran anak raja Tumenggung” ucap sang Ratu.


Hanya beberapa pejabat penting istana dan para bangsawan yang hadir di acara itu. Kelahiran pewaris kerajaan Wanua Ubun yang hampir runtuh itu seperti memberikan harapan untuk rakyatnya. Kedatangan ratu Diajeng dan kedua pengikutnya yang setia di iringi hujan badai. Air laut masuk ke dalam istana hingga setinggi mata kaki. Sang ratu terbang di atas air yang menggulung mendekati keranjang bayi sedangkan kedua pengawalnya mengarahkan pedang ke arah sang raja dan ratu Wanua Ubun.


“Wanita iblis aku tidak mengundang mu ke acara ini, pergi kau!” usir sang raja.


“Oh, aku lupa tidak di undang kekasih lama ku. Aku pikir adalah seorang tamu yang special” jawab sang ratu Diajeng dengan senyuman menyeringai.


“Seorang bayi mungil bermata indah, di sayangi setiap orang tapi sayang memiliki kutukan mematikan__”


“Dasar kau wanita iblis! Hentikan!” teriak sang raja.


Mendengar makian kedua kali, Suga menyayat pundak sang raja dan Kumetra meninju wajahnya sebanyak dua kali. Sang ratu Diajeng menoleh lalu melanjutkan mantra sihirnya.


“Menyambung kutukan yang aku lontarkan saat kau masih di kandungan. Sebuah penderitaan dan tangisan seumur hidupmu. Kutukan yang tidak bisa satu orang pun mencabutnya!”

__ADS_1


Sihir asap hitam menyelubungi tubuh bayi itu. Sang ratu Diajeng menghilang membawa kedua pengikutnya. Dia meninggalkan tawa yang menggelegar. Ketakutan para tamu yang hadir berlari meninggalkan istana.


__ADS_2