
Ini bukan kesialan tapi darah turun temurun alamiah yang di wariskan. Bertemu dengan ayah kandungnya malah membawa petaka baru di kehidupan Alundra. Hari ini dia di banting ke dalam sangkar raksasa. Mata Alundra tidak berkedip melihat hewan raksasa yang pernah di ceritakan oleh dayang Kumetra.
Pada hari ini, tepat di usianya yang ke tujuh belas tahun dia dapat melihat secara langsung sosok hewan penguasa terhebat warisan tanah leluhur pemangku bumi. Sedari dulu dia membayangkan seperti apa hewan yang di perbincangkan itu.
Alundra berhasil melepaskan rantai yang mengikat di kaki Garuda. Dia mendorong tubuh sang putri memberi isyarat agar dia naik ke tubuhnya. Mengepakkan sayap membentang keluar dari dalam tanah, suara Garuda menggelegar di tangkap sinyal sang ratu yang menoleh ke atas langit.
Harum aroma kemenangan, sang ratu menggulung ombak mencari Garuda. Hewan yang sudah lama dia nantikan. Kesalahan terbesarnya di masa lalu memberikan kepercayaan pada Tumenggung yang ternyata berkhianat padanya.
Garuda menyambut kedatangannya di udara. Di atas punggungnya ada Alundra, dia meminta maaf pada sang ratu lalu mengatakan ingin kembali ke Wanua ubun untuk menyelamatkan Suga dan Kumetra. Kedua pendamping terpercaya itu di tangkap hingga di siksa habis-habisan.
Raja Tumenggung mengeluarkan senjata besi putih raksasa menyerang sang ratu. Dia melempar perangkap raksasa di halaman istana. Untuk yang kedua kalinya Garuda terjerat. Amarah sang ratu menggulung ombak menenggelamkan para pasukan Wanua Ubun. Peperangan dua kerajaan itu di saksikan langit yang sangat mendung.
Setengah pasukan siluman gugur di hunus senjata besi putih. Sang raja Tumenggung bermain licik, dia memanah ratu Diajeng dari berbagai arah hingga membuat jebakan secara beruntun.
“Ibu! Awas!” teriak sang putri.
Alundra berlari merentangkan tangan. Menutupi tubuh sang ratu, tiga anak panah besar menembus tubuhnya. Sang ratu membungkus dirinya dan alundra di dalam kekuatan mustika batu hitam. Dia tidak menyangka sang putri akan menyelamatkannya dari maut.
“Ibu, apakah sekarang engkau mau memanggil mu dengan sebutan anak?” ucap sang putri terbata-bata.
Untuk yang pertama kali setelah beberapa dekade terlewati, dia kembali menitihkan air mata. Sang ratu menganggukkan kepala. Dia memeluk tubuh sang putri membawanya salah satu terumbu karang raksasa. Dia menitipkan sang putri pada kedua dayang dan kedua pengawalnya. Sang satu menaikkan air tsunami menenggelamkan seluruh pasukan Wanua Ubun. Dia memecahkan tubuh raja Tumenggung dengan satu tangan. Darah musuh telah terbayar lunas tapi tidak dengan kutukannya.
Garuda mengepak sayap, dia seperti merasakan kegelisahan dan kesedihan di hati sang ratu. Ratu Diajeng mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menghidupkan sang putri kembali. Perjuangannya itu di saksikan seluruh para siluman di muka bumi.
__ADS_1
Dia sudah tiga kali mencoba namun tubuh sang putri semakin dingin dan kaku. Tiba-tiba terdengar suara tawa dari wanita tua yang menawarkan sebuah pilihan padanya.
“Ratu, jika aku berhasil menghidupkan sang putri, apakah engkau bersedia menyerahkan seluruh kekuasaan mu kepada ku?” tanya si wanita tua sambil tertawa terbahak-bahak.
“Apapun itu asal anak ku kembali hidup. Cepat tunggu apa lagi, bangunkan anak ku putri Alundra!” bentak sang ratu.
“Ratu! Tanah Mangkubuana dan Garuda akan binasa jika bukan engkau yang mengendalikannya. Penguasa keturunan terakhir” ucap Suga.
“Untuk apa aku hidup menjadi penguasa terhebat di seluruh negeri jika anak ku tiada.”
Wanita tua itu adalah jelmaan iblis berwujud manusia. Dia beserta para setan mengumpulkan tenaga menghidupkan orang mati dengan menanamkan arwah lain masuk ke jasad manusia itu.
“Bangkitlah! Aku memanggil mu! hiyaaa!”
Syuhh__
“Bangkilah! Aku memanggil mu! hiyaa! Bangkit lah dengar kan panggilan ku!”
Sang putri tidak bergerak sedikit pun. Jiwa-jiwa yang mati masuk ke dalam tubuhnya sia-sia belaka. Penguasa iblis terhebat sekalipun tidak bisa membangunkan jasad manusia itu. Menyadari dia adalah sang putri yang di kutuk. Maka si wanita tua menghentikan mentransfer kekuatannya. Dia takut kekuatannya tersedot habis ke tubuh yang sudah membeku itu.
“Cepat lah wanita tua, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!” bentak sang ratu berlinangan air mata.
“Maafkan hamba wahai ratu yang agung. Saya sudah mencobanya tapi__” kata si wanita tua menunduk.
__ADS_1
“Enyah lah kau dari hadapan ku atau aku akan membunuh mu menjadi abu yang berterbangan! Pergi!”
Suasana pemakaman yang menyayat hati. Dia tidak bisa di selamatkan dengan cara apapun. Jasad manusia itu harus di kubur secara layak. Tempat peristirahatan terakhir sang putri berada di belakang halaman istana kerajaan Mangkubuana.
“Segera pindahkan jasad itu atau akan terjadi kekacauan berkepanjangan di Mangkubuana!” ucap para peramal yang menyaksikan pemakaman sang putri.
Tidak ada yang bisa menghentikan kehendak sang ratu, dia tidak bisa berpisah jauh dengan sang putri sekalipun hanya bisa melihat kuburannya. Para peramal bersemedi ke dalam pura berdoa agar langit pemangku bumi terhindar dari petaka.
Tanah ini di bagi menjadi sisi gelap dan terang. Kegelapan lebih dominan berhembus setelah para leluhur hitam bangkit ke muka bumi. Kutukan dari tubuh sang putri masih tertancap di jasadnya. Simbol yang di balik punggungnya setiap malam memakan korban menghantui penghuni wilayah Mangkubuana.
Bermula dari pasar yang ramai di siang hari, seorang anak kecil menjerit kesakitan di tarik sosok mengerikan terbang ke arah istana.
“Setan! Dia ke arah istana. Kejar dia!” teriak para rakyat.
Anak itu menghilang setelah menuju halaman belakang istana. Para siluman penjaga heran dengan kejadian yang membuat gempar negeri itu. Suga mengamati kuburan sang putri Alundra. Banyak bekas darah pada bagian batu nisannya. Di samping kuburannya terdapat bekas tulang tengkorak. Ada robekan baju anak kecil yang letaknya tidak jauh dari situ.
“Apa yang terjadi pada makam sang putri?” gumam Suga.
Sementara di sang ratu Diajeng menceburkan diri di dalam lautan. Dia membentuk pusara raksasa menenggelamkan diri. Garuda ingin masuk namun terhempas di halangi sihirnya. Hewan raksasa itu hanya bisa berputar di atas langit mencari celah pusara itu bisa dia masuki.
Tongkat batu mustika hitam bersinar di dalam lautan. Merah menyala mendatangkan ratu penguasa selatan melihat dirinya. Dia ingin kematiannya lebih cepat dan jasadnya di kebumikan di samping makam Alundra.
“Engkau adalah penguasa terakhir para leluhur pemangku bumi. Bagaimana bisa aku membunuh mu? bahkan engkau akan hidup abadi sebagai pemangku dunia” ucap sang ratu.
__ADS_1
“Kehidupan ku telah kacau balau. Aku telah gagal menjadi pemimpin negeri maupun seorang ibu yang tidak bisa menjaga anaknya.”
“Semua sebab akibat dan takdir sudah tertulis. Engkau tidak bisa menentangnya. Kembalilah ke negeri mu.”