
Sang ratu Diajeng melakukan persemedian setelah banyak kehilangan kekuatannya. Dia mencapai kerajaan iblis hitam demi memulihkan diri. Di salah satu tempat tersenyum berhembus angin panas, dia meletakkan tongkat mustika hitam menutup diri menggumpal kekuatan hitam.
Seluruh kekuatan terdahsyat habis. Sebelum bersemedi, dia menyihir rapat seluruh wilayah Mangkubuana agar tidak terlihat dari luar. Begitu pun semua makhluk yang tinggal di dalam tidak bisa melihat dimana jalan keluar dari tempat itu.
Genap satu hari, sang pangeran Julian berkemas kembali bersama dua prajuritnya. Mereka sudah melewati jalan lintas setapak yang sama namun tidak terlihat arah jalan keluar. Sang pangeran memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Sreekk, srek
Pyur___
Ramai suara terdengar dari samping pepohonan dan semakin belukar. Sang pangeran menepis, dia mengintip dari balik dedaunan. Pandangan tidak berhenti melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang bermain bersama beberapa makhluk aneh di sekelilingnya.
"Siapa disitu? cepat keluar!" bentak sang putri. Salah satu siluman yang melihat gerakan dari baik dedaunan itu ada seorang manusia yang membawa pedang di pinggangnya.
Para siluman mengikatnya di barang pohon.
Dua pengawal bergidik melihat wujud manusia berubah menjadi kelinci. Hanya seorang wanita yang bertingkah normal melihat mereka sangat serius. Pakaiannya seperti putri kerajaan, wajah tidak menunjukkan sikap kejahatan sama sekali.
“Apakah engkau putri di kerajaan ini?” tanya sang pangeran.
“Memangnya kau siapa? Jangan bertanya siapa aku, kalian harus di hukum karena mengintip para penghuni istana!” ucap sang putri sedikit membentak.
Mempertimbangkan kesalahan, berdamai mengatas dasarkan dua kerajaan yang tidak ingin berperang. Akhirnya pangeran dan kedua pengawalnya di lepaskan. Pangeran dan sang putri berjabat tangan, mereka berkenalan, menanyakan hal-hal kecil mengenai kerjaan yang baru saja menjalin hubungan persahabatan itu.
Pangeran Julian tampak sangat betah berlama-lama berada di istana yang mengerikan itu. Meski di harus tidur di dalam hutan yang angker di ganggu makhluk halus hingga minum air mentah di sungai yang memperlihatkan wujud siluman ikan. Dia menahan rasa mual karena sudah sangat kehausan.
Kru kuk, krukk__
Nyanyian suara cacing di perut si pangeran terdengar jelas di telinga sang putri. Tawa kecil cekikikan, baru kali ini dia mendengar suara perut manusia yang kelaparan setelah sekian lama tinggal di istana.
“Apakah engkau lapar? Aku akan menyuruh para siluman membawakan mu makanan” ucap sang putri.
__ADS_1
Pangeran berpikir bahwa para siluman itu akan memberikan makanan yang aneh seperti wujud mereka, dia pun menolah secara halus dengan mengatakan bahwa perutnya memang suka mengeluarkan suara yang aneh. Mendengar ucapannya, sang putri tertawa terbahak-bahak. Sang pangeran terperangah tidak ada habisnya melihat kecantikannya.
“Putri, aku harus segera pulang ke kerajaan Brahma, tapi aku tidak menemukan jalan keluar hingga aku menemukan mu disini”
“Kita tanyakan saja hal ini pada sesepuh pohon cahaya. Dia pasti tau jawabannya.”
Mereka menemui pohon siluman keabadian yang hidup selama ratusan tahun lamanya. Kilauan cahaya terik menyilaukan mata sang pangeran. Tidak ada satupun pengamatan sang pangeran melihat sosok itu. Semua hal baru dia temukan di kerjaan Mangkubuana. Seolah tempat itu adalah sebuah petualangan yang paling menegangkan di sepanjang hidupnya.
“Putri, apakah engkau yakin kalau dia bisa menjawab semua pertanyaan kita?”
“Ya pangeran, ibu ku sudah menyematkan sesepuh cahaya ini sebagai sumber kekuatan cenayang Ming. Opss, tidak seharusnya aku menceritakan ini pada mu.”
“Tidak apa-apa, aku senang mendengar kejujuran mu. Wahai tuan putri,bagaimana cara kita bertanya padanya?”
“Letakkan kedua tangan mu di tangan cahayanya yang paling terang” ucap sang putri.
Semua sinar sama terang di penglihatan sang pangeran. Dia kebingungan melihat cahaya yang di maksud sang putri, di bagian tengah justru cahaya bergumpal hitam. Langkah mundur melihat sosok bayangan mengerikan muncul dari balik pohon. Sang pangeran berlari sambil menarik sang putri. Dia berhenti di tepi sungai. Tangan sang putri terasa kasar, dia melepaskan tarikannya menyadari sosok makhluk lain di hadapan. Dia berlari kembali mencari sang putri.
“Aku disini!”
Penampakan mengerikan memanggilnya, di tidak melihat sang putri sampai sosok makhluk mengagetkannya. Dia pingsan tepat di bawah pohon sesepuh cahaya Buana. Gangguan itu tetap menghantui sampai di alam mimpinya. Dia berlari di dalam hutan kerajaan Mangkubuana menghindari kejaran berbagai makhluk berwujud mengerikan.
“Serahkan diri mu!”
“Hei pangeran Julian, kau akan mati! Ihihihh!”
Teriakan para makhluk mengejarnya. Tubuhnya terbanting akar pepohonan hidup. Dia berteriak histeris, Tubuhnya terhentak bangun merasa air yang memercik di wajahnya. Membuka mata melihat wajah cantik sang putri, sang pangeran tersenyum membalas tatapannya yang sangat panik.
“Dia mungkin pangeran gila. Setelah berteriak histeris malah tersenyum lebar begitu” ucap salah satu siluman kelinci.
“Pangeran, apakah kau baik-baik saja?” tanya sang putri.
“Aku baik-baik saja putri__”
__ADS_1
Pangeran Julian sudah sangat tidak bertenaga. Dia sudah tidak sanggup lagi berjalan menahan rasa lapar. Dua dayang yang berwujud manusia membawa keranjang yang di tutupi kain di atasnya. Sang putri berhenti menerima keranjang tersebut. Dia meminta dua dayang itu untuk menggelar tikar di salah satu pohon yang paling rimbun.
Seakan sedang berwisata di bawah langit yang mengerikan. Satu keranjang berisi makanan dan satunya lagi berisi minuman. Sang pangeran sangat lahap menyantapnya begitu pun dua pengawalnya. Seolah sang putri mengetahui isi pikirannya. Mereka meneruskan langkah menuju pohon sesepuh cahaya kali ini sang pangeran memberanikan diri tetap bertumpu di depannya walau di ganggu makhluk menyeramkan.
“Putri, sungguh aku tidak melihat cahaya yang paling terang di bagian tengah pohon itu"
“Kalau begitu biar aku saja yang bertanya__”
Bahasa aneh tidak terdengar jelas. Sang putri juga menjawab perkataan dari siluman pohon dengan jawaban yang tidak di mengerti oleh sang pangeran. Sang putri bahkan memeluk pohon itu hingga akar raksasa yang tertanam di tanah terlihat terangkat memeluk tubuh sang putri.
“Putri! Awas! Pohon itu pasti akan melilit mu lalu__”
Brughh__
Siluman kelinci memukul kepalanya hingga pingsan.
“Serang!” teriak dua pengawal.
“Arghh!” dayang Kumetra dan dayang kedua berjongkok di bawah pohon menutup wajah mereka dengan tangan.
“Hentikan!” teriak sang putri.
Berpikir sang putri akan di lukai oleh dua pengawal yang menyerang menggunakan pedang maka kedua pengawal itu di lenyapkan ke dalam lumpur hidup oleh siluman pohon lainnya. Begitu pun sang pangeran, tubuhnya sudah di ambang batas kematian. Sang putri menghentikan mereka, perlahan sang pangeran yang mulai sadar memegang kepalanya sambil berteriak minta tolong. Tubuhnya tepat di tengah lumpur hidup.
“Dia itu sosok pangeran yang cengeng dan sangat berisik!” ucap siluman kelinci Priti.
“Priti, Kila, cepat bantu pangeran Julian keluar dari sana”
“Baik lah tuan putri__”
Nafas sang pangeran memburu, dia menepuk dadanya kemudian menunjuk ke para siluman.
Berpikir jika bukan karena peliharaan sang putri maka dia akan membunuh mereka semua. Harapan para perdana menteri agar dekrit mereka terlaksana belum berbuah hasil. Karena tidak sabar ingin melengserkan sang putri, maka mereka melakukan perjalanan ke negeri Brahma. Rombongan kereta kuda para pejabat itu berhenti.
__ADS_1