Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 29


__ADS_3

Fenomena alam di lautan lepas, cuaca yang gelap di iringi kilatan halilintar tidak berhenti . Para siluman yang berusia ratusan tahun itu tidak mau wujudnya dilihat manusia. Sang ratu duyung membungkus lautan melapisi selimut hitam. Di menggulung air laut memberi tanda pusaran pada ratu Diajeng.


Masuk ke menggunakan sihirnya.


Amarah sang ratu melihat sang putri Laundra di ikat akar laut. Wajahnya semakin pucat, di samping tampak dua pangeran kerajaan Brahma. Ketika sang ratu Diajeng akan melepaskannya, ratu duyung menghalangi, tubuh sang putri di tarik menggunakan kekuata air laut.


“Ratu Mangku Buana. Engkau sudah melakukan perjanjian dengan penguasa jin leluhur mu. Kenapa kau malah berbalik menghancurkan sihir mematika? Tidak kah engkau tau akibatnya akan menggerogoti tubuh mu sendiri hingga engkau tiada?”


“Itu semua bukan urusan mu. Cepat serahkan anak ku! Aku akan menghancurkan laut ini meskipun aku ikut binasa!”


“Sungguh kasih sayang pada anak angkat yang mengaru biru. Sebelum kau melakukan nya maka hadapi aku terlebih dahulu!”


Perang besar di dalam lautan, sihir serangan sang ratu duyung tidak berdampak mengenai penghuni di dalam laut. Meski api menyala di dalamnya, semua makhluk yang ada di dalam tidak bereaksi apapun. Berbeda dengan sang ratu Buana yang hartus menimbang sihir-sihir mengerikan takut terkena sang putri. Air laut berefek tawar tidak bisa membunuh isinya, sang ratu memiliki kekuatan penetralisir penangkalnya. Karena sudah terdesak, dia memanggil para leluhur membangkitkan tulang kerangka yang sudah lama beristirahat.


Kekuatan mereka masuk ke dalam tubuh sang ratu Diajeng. Menyerap habis kekuatan leluhur, Wajahnya semakin menyeramkan, tanpa menggunakan sihir laut dia bisa menciptakan gumpalan api biru menghunus ekor duyung si penguasa lautan. Suara kesakitan sang ratu duyung di dengar semua penghuni lautan. Pasukan bala tentara bangkit menyerbu ratu Diajeng.


Suara aneh, air laut yang berubah masam. Sang ratu kembali pada tujuannya hanya ingin melepaskan Alundra. Mata anak angkatnya itu terbuka memperhatikan ratu Diajeng di serbu berbagai bentuk siluman di lautan.

__ADS_1


“Ibu!” panggilnya dalam hati.


Melihat Alunda merontah menggerakkan tubuh. Ratu Diajeng terpaksa membunuh para tentara laut yang menghalanginya. Membunuh kekuatan sendiri sama dengan menghancurkan sihir perlahan menggerogoti darah perlahan melemahkannya. Ratu Diajeng menarik tubuh sang putri, tangan kiri sang putri menarik tangan sang pangeran Julian lalu tangan kanannya menarik tangan sang pangeran Edward. Mereka berhasil keluar dari lautan. Di atas bebatuan raksasa, kedua pangeran tersadar melihat sang putri terbang di bawa sosok makhluk menuju istana.


“Siapa wanita yang membawa putri?” tanya pangeran Edward.


“Dia adalah ratu Diajeng Mangkubuana” jawab pangeran Julian.


Sang pangeran Julian menceritakan awal mula dia berkelana menuju istana itu. Dia berhasil melewati tembok raksasa berduri dan keluar hidup-hidup atas kebaikan sang ratu. Raja Edward merasa bingung mengapa ayah mereka terbunuh sedangkan sang adik selamat dari sana. Para pengawal pendamping pangeran berlari tergopoh-gopoh membantu mereka berdiri. Mereka kembali menuju istana Brahma, sepanjang perjalanan pikiran sang pangeran masih memiliki tanda tanya besar.


“Apapun yang sudah terjadi hari ini atau penyelamatan di waktu lalu, arwah ayah ku raja Brahma pasti tidak tenang. Dia tewas dengan kepala yang terlepas dari badannya!” gumam pangeran Edward.


................


Kumetra dan dayang kedua membantu sang putri Alundra membersihkan dirinya sedangkan sang ratu terbang menghilang menggunakan sihir di dalam batu mustika hitam.


Urusannya dengan ratu duyung belum selesai. Memahami amarah si penguasa lautan selatan itu karena perjanjian atas amarah tetsan darah di tanah leluhur setelah pemanggilan makhluk penjaga tujuh turunan. Kedua ratu itu akan mengangkat senjata kembali, bertempur untuk mempertahakan pendapat dan kekuasaan.

__ADS_1


Walau salah satunya memenangkan pertempuran. Keduanya tidak bisa menguasasi air lautan atau daratan. Masing-masing kedua penguasa itu memiliki batas titik batas kehidupan. Sang ratu Diajeng meminta agar anaknya angkatnya itu tidak di usik . Perundingan perdamaian untuk tidak saling mengganggu meskipun sang ratu Mangkubuana sudah tau konsekuensi yang akan terjadi pada dirinya.


Pelepasan makhluk-makhluk laut yang naik ke atas permuakaan air membawa senjata ghaib.Kedua negara itu kini merundingkan perdamaian. Ratu laut selatan melihat hati sang ratu pemangku bumi keturunan terakhir itu masih memiliki sisi kebaikan di sela menentang ilmu hitam para leluhur yang masuk ke tubuhnya.


Menurut adat kepercayaan masyarakat Mangkubuana. Sudah dari jaman nenek moyang sesajian itu di beritakan. Tapi setelah di bangun tembok raksasa menutupi wilayah serta hampir seluruh manusia berubah menjadi siluman menjadikan adat perlahan memudar. Akan ada masanya lautan juga minta di beri sesajian, selain untuk penangkal serta memberikan ijin pada manusia agar bisa berinteraksi dan berdamai dengan lautan.


Ratu duyung menyatakan para manusia melupakan laut yang sudah seharusnya mendapatkan ritual secara adat istiadat. Belum lagi tangan manusia yang tidak bertanggung jawab meminta pada lautan menggunakan ilmu hitam dari para dukun-dukun untuk meminta keinginan mereka.


Banyak manusia yang berpikir bahwa permintaan mereka terkabul dari penguasa ratu lautan selatan. Nyatanya sebagian besar di kabulkan dari para jin, siluman atau iblis yang tinggal di dalamnya. Mereka memakan sesajian berebutan, ilmu atau kekuatan yang bisa mengalahkan menuruti para manusia dengan meminta sesajian lagi bahkan tumbal darinya.


“Aku adalah ratu penguasa lautan. Pemilik kerajaan yang sudah tercipta sebagai bangsa jin terkuat. Aku harap perdamaian ini tidak penuh kepalsuan seperti engkau membela anak dari darah musuh mu sendiri” ucap sang ratu duyung yang menjelma menjadi wujud aslinya.


“Ya aku bukan lah manusia yang ingkar. Putri Alundra terkena kutukan sedangkan si Tumenggung ternyata berwujud lebih dari setan berniat membunuh anaknya. Jika dia memang ingin mempertahankan, melindungi darah dagingnya dari kutukan ku ini seharusnya dia mencari cara menyembuhkannya. Semuanya sudah menjadi takdir atau nasib ku menjadikan Alundra anak sekaligus putri mahkota Pemangku bumi.”


“Ratu Diajeng, engkau menyelamatkannya dengan mengorbankan diri mu sendiri. Kekuatan mu perlahan akan memakan darah daging mu. Aku dari awal menyatakan perang berharap engkau sadar akan hal itu.”


Lapisan pembatas lautan terbuka, Sihir kekuatan kembali ke sang pemilik, kedua ratu itu menghilang. Langit berubah normal seperti semula. Para sesepuh arwah yang pernah hidup di masa lalu memiliki kesaktian mandra guna. Kekuatannya masuk ke tubuh sang ratu Diajeng mengakibatkan dia kurang seimbang berjalan karena kekuatan itu sangat besar memberatkan dia menggerakkan badan.

__ADS_1


Setengah mati dia di dalam pertapaan. Salah satu bebatuan raksasa di tepi pantai di bungkus sihir hitam sehingga tidak satu orang pun yang mengetahuinya. Suga dan penjaga istana mondar-mandir mencari sang ratu di sepanjang pesisir pantai.


“Suga apa kau yakin terakhir kali melihat ratu sekitar sini?” tanya si penjaga istana.


__ADS_2