Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 37


__ADS_3

Rangkuman Duyung Utara


Batu mustika hijau adalah kekuatan terbesarnya dalam mengendalikan jantung lautan para duyung. Di berbagai wilayah lautan belahan bumi, beredar sinyal-sinyal saling menyambung interaksi, komunikasi hingga daya kekuatan energi terbesar berkumpul di dalamnya.


Pemilik jantung kekuatan inti duyung mendapatkan umur keabadian, anugerah sinar dari langit yang masuk ke dalam air memancarkan energi tiap-tiap makhluk duyung di dasar laut. Di dalam mustika itu juga terdapat kekuatan lautan yang bisa membuka sejarah baru saat mustika hancur lebur.


Rahasia inti kekuatan di dalamnya hanya para duyung lautan yang mengetahuinya. Setelah kematian duyung terkuat pemimpin para duyung dan siluman duyung binasa, lautan utara sering di landa kekacauan. Banyak duyung yang memberontak, di jerumuskan sekte lain untuk berkhianat sampai memutuskan tali ikatan dengan penguasa utara karena tidak terima atas meninggalnya duyung Bridi.


Perkumpulan sekelompok duyung membicarakan menarikan duyung mustika yang di genggam ratu Mangkubuana. Mereka bertekad mengembalikan perdamaian para duyung dari segala penjuru dan menstabilkan alam pusara lautan.


Ratu itu di anggap musuh bebuyutan para makhluk pengingat abadi. Sesekali ketika cahaya rembulan bersinar terang, mereka menyalakan nyanyian kesedihan mengingat kepergiaan sosok ratu pemimpin mereka.


Banyak para duyung naik ke daratan untuk mencoba menerobos benteng raksasa pencakar langit walau pada akhirnya tewas di bunuh para siluman penjaga gerbang.


Kali ini salah satu sosok makhluk bersisik itu telah di tawan di sebuah gua dekat pohon sesepuh cahaya. Kedua tangannya di rantai. Dia adalah sosok siluman yang bisa bernafas di daratan. Suga terpaksa menahannya karena sang ratu Alundra tidak percaya bahwa makhluk duyung berkhianat atau melawannya.


“Akhirnya aku bisa menangkap salah satu dari mereka. Kali ini ratu tidak bisa menyangkal perkataan ku” gumam Suga.


“Hei, hei pengawal pendamping, aku pernah mendengar hidup para makhluk duyung yang memiliki anugrah kekuatan yang abadi. Tapi kenapa banyak bangkai duyung di depan gerbang istana? Apakah mereka siluman lain?” tanya dayang Kumetra memborong pertanyaan.


“Sebaiknya kau simpan saja semua pertanyaan mu itu Kumetra, kau harus tetap waspasa karena aku baru saja mendapat kabar dari prajurit kalau ada penyusup masuk ke istana”


“Gawat! Kita harus tetap menjaga tahanan. Para penghuni pura mengatakan bahwa ada sihir hitam yang ingin masuk ke tubuh duyung itu”


Ekor duyung raksasa terkena panah si penjaga istana ketika akan berniat melarikan diri. Panah si penjaga menancap ekor duyung di pohon sesepuh bumi.

__ADS_1


“Kalau seperti itu cara kasar mu sama saja kau menyakiti pohon penjaga bumi!” ucap Kumetra.


“Kau jangan mendekatinya! Dia sangat berbahaya!” teriak sang penjaga istana.


Dayang Kumetra mengacuhkan perkataannya, dia percaya pada pendiriannya. Pernah menjadi sahabat sosok duyung penguasa lautan membuat dia mengerti seluk beluk tentang jenis makhluk yang di hadapannya.


“Kumetra engkau harus ingat, Hati dan ingatan para duyung tidak akan pernah bisa mendustai kenyataan jiwa di hadapannya. Hati hitam atau putih, kami bisa merasakan segalanya.”


Terus menerus langkah mendekati, Tatapan tajam si duyung, sang dayang menarik anak panah besar yang tertancap di ekornya itu. Bepikir kalau dia akan terkena kibasan ekor, sang pengawal menarik Kumetra.


Menahan rasa sakit, dia merontah mencoba memutuskan rantai. Suga memperketat ikatan, sang duyung kehilangan energi karena banyak menguras tenaga dalam.


Mereka meninggalkan duyung itu setelah mendengar kepulangan sang ratu. Dayang Kumetra mengendap-endap membawakan sepiring makanan dan minuman. Setelah terbukti dalam keyakinannya, Kumetra merasa familiar dengan makhluk duyung yang dia anggap sahabatnya sendiri. Duyung yang Nampak angkuh itu membuang wajah , tidak ingin menerima apapun pemberian darinya.


Mendapat firasat kedatangan sang ratu berjalan mendekati tawanan duyung dia segera bersembunyi di balik sela pohon mengamati sang ratu yang mulai mengayunkan tongkatnya. Sinar kilau kekuatan itu lebih besar terkena gemercik sinarnya saja terasa sangat panas.


Sorot mata kebencian, dia melihat kekuatan abadi mustika hijau milik duyung Bridi ada di dalam tubuhnya.


“Kau telah membunuh penguasa duyung, semula dia sudah mengorbankan tahta menjaga lautan utara. Kau malah memanfaatkannya!” ucap si duyung tawanan.


“Omong kosong apa yang engkau ciptakan? Bridi menyiapkan semua ini atas dasar keinginannya sendiri! Engkau bisa melihatnya. Sentuh telapak tangan ku”


Walau kenyataannya sang ratu tidak berbohong, tetap saja dia enggan bersentuhan dengan tangan musuhnya. Telapak tangan sang ratu mengarah ke telapak tangannya, dia segera merubah telapak tangannya mirip seekor ikar.


“Kau benar-benar duyung angkuh! Biar aku saja yang menanganinya ratu” ucap si penjaga istana.

__ADS_1


“Tidak usah, tampaknya dia belum terbiasa di daratan. Kita tinggalkan saja dia”


“Baik yang mulia ratu__”


Nyi Uban menggunakan kekuatan iblis bermata satu terbang menembus dinding pencakar langit. Dia berdiri di depan sang duyung, pohon sesepuh tidak bisa bergerak karena bertugas merantai tubuh sang duyung. Nyi Uban menarik hawa murni duyung itu hingga dia berteriak kesakitan. Dia sekarat hingga insangnya hampir berhenti. Sang ratu menarik sosok Nyi Uban menggunakan sihirnya, dia menghajar wanita iblis tua itu menggunakan kekuatan dua dimensinya.


“Awas kalian! Aku akan menuntut balas!” Nyi uban menghilang meninggalkan asap hitam.


......................


Rencana wanita iblis itu tetap berjalan walau sudah di kalahkan. Dia mencoba membangunkan jasad Raja Tumenggung. Di bawah sinar bulan merah menyala, raja berhati iblis bangkit menjadi pengikut Nyi Uban dan iblis bermata satu.


“Aku adalah tuan mu, semua perkataan ku wajib kau laksanakan” ucap Nyi uban.


Rencana iblis selanjutnya membangkitkan tulang ekor Alundra menggunakan manusia yang milik dengannya. Penempatan jiwa iblis berwujud Alundra, tulang itu sebagai tanda di balik punggung sang putri terdapat simbol kutukan.


“Aku Nyi Uban sebagai tuan mu, kau harus mematuhi perkataan ku. ihihihhh”


Menampakkan diri di depan gerbang istana, para prajurit terkecoh melihat putri Alundra menggunakan gaun selayar putih. Rambut kering, mata membolang pupil memutih. Aura hitam menyelimutinya, dia terbang di depan tembok pencakar langit.


Penjaga istana terkejut akan kedatangan sang putri. Hatinya gentar membukakan pintu gerbang istana, tatapan berbeda. Kukunya panjang mencakar tanah, kelakuannya melebihi sosok siluman. Dia mendobrak gerbang menggunakan kekuatan dari iblis mata satu.


Kebangkitan putri Alundra


Telur iblis terbungkus di dalamnya ada tulang ekor milik sang putri. Semasa hari pembentukan sosoknya kembali, Nyi Uban mentransfer kekuatan dari segitiga Bermuda. Seluruh kekuatan yang terhebat menandingi kekuatan sang ratu pemangku bumi. Siapa yang akan menghalanginya? Bahkan sosok sang ratu yang kini berhadapan dengannya di serang tanpa jeda. Sang ratu mencoba menyadarkan sang putri, dia menepis setiap pukulan dan hantaman darinya.

__ADS_1


__ADS_2