Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 8 Lembar Kedua


__ADS_3

Tentang kekuatan yang sudah bercampur dengan darah daging sang ratu Diajeng.


Ada sebuah ilmu yang baru saja naik ke permukaan bumi. Sihir dan kekuatan yang terpendam selama ribuan tahun menyala setelah di bangkitkan dengan air mata dan darah dari keturunan terakhir. Setelah menerima sosok makhluk yang berada di dalam lautan, sang ratu bisa mengendalikan air laut dan memiliki kekuatan yang tidak tertandingi.


...💀💀💀...


Lembar kedua


Buku rahasia para leluhur.


Darah bercampur air mata para pewaris ilmu leluhur akan menerima kekuatan ilmu hitam yang bisa dia pakai untuk kebaikan dan kejahatan. Setelah mendapatkan kekuatan itu, sosok makhluk akan menguasai hingga meminta tetesan darah di tanah Mangkubuana sebagai persembahan.


Catatan sejarah kerajaan secara turun temurun tidak bisa di hilangkan.


...💀💀💀...


Tanpa di sadari di setiap pintu bahkan di depan gerbang garis pembatas istana telah berdiri makhluk tidak kasat mata menjaga istana Mangkubuana yakni makhluk mistis pemangku atau memangku dunia.


Para raja terdahulu melakukan perjanjian ghaib demi memerdekakan tanah kekuasaannya dan melepaskan rakyatnya dari para colonial bangsa luar. Raja pertama sudah memberi darah dagingnya. Semua hal yang menyangkut ilmu sihir hitam tertutup dengan tumbal terakhir dari sang raja ke enam yang sengaja menyerahkan dirinya agar ikatan terhenti. Tapi kekuatan hitam itu bangkit setelah sang putri meneteskan air mata yang berkepanjangan.


Air matanya membasahi tanah dan darahnya yang menetes ketika dia melakukan percobaan bunuh diri di ruangan kebesarannya.


......................


Semula sang putri Pritigendis sangat membenci sang raja, tapi seiring berjalannya waktu dan melihat segala pengorbanannya membuat luluh di hatinya. Dia adalah si raja buaya dengan mudah menanamkan rasa cinta mendalam pada wanita. Setelah di angkat menjadi ratu, ibu suri di pindahkan ke wilayah barat letak lokasi menempuh jarak satu hari satu malam dari Wanua Ubun.


“Ibu, jika terjadi sesuatu segera kabari aku” ucap ratu Pritigendis.


“Ibu akan baik-baik saja.”

__ADS_1


Iring-iringan kepergiannya di antar sampai depan perbatasan wilayah. Panglima perang memimpin garis depan bersama para prajurit lainnya. Tempat kota Herdania barat yang sengaja di pilih sang raja, disana sang ibu suri sudah di sediakan sebuah kediaman yang sangat mewah dengan puluhan para pekerja dan pengawal yang.


Saat perjalanan mereka mencapai waktu tengah malam, suara aneh menggema di langit. Rombongan kereta kuda penggiring ibu suri berhenti. Kuda-kuda yang mulai gelisah meracau menghentakkan kakinya. Panik kereta kuda itu akan terbalik, dia membantu ibu suri keluar dari dalam menuntun naik ke kudanya.


“Ada apa ini?” gumam sang panglima.


“Aku paham ini pasti serangan ratu Buana, dia pasti tidak terima sang raja mengkhianatinya. Kekuatan sihir ini menjadi perbincangan hangat ketika usia ku muda dulu. Banyak orang ketakutan melarikan diri saat mendengat suara mengerikan ini” ucap sang ibu suri.


“Kekuatan apa itu yang mulia ibu suri?” tanya sang panglima.


“Kekuatan yang terpendam dari dasar tanah. Para leluhur bangkit mewariskan pada tujuh turunan pewaris tahta pemangku bumi.”


“Sungguh hal itu di luar nalar pemikiran manusia, bukankah sang ratu Diajeng terkenal dengan kebaikan dan kelembutannya?”


Pada pertanyaan terakhir sang panglima, raja yang sudah berkhianat pada ratu Buana itu tidak bisa menjawab pertanyaannya.


Tanah bergerak, burung berterbangan, air laut terbang menggulung seluruh rombongan. Angin bertiup kencang, kilatan petir menggelegar memecah langit. Teriakan suara minta tolong, kesakitan merasakan air laut yang menggulung tubuh mereka seperti menghantam benda keras. Para prajurit tewas di dalam gulungan air, begitupula sang ibu suri.


Potongan Jasad para prajurit bertebaran, udara amis, kebanyakan mayat mereka memperlihatkan mata terbuka. Hanya sang panglima yang selamat, dia tegopoh-gopoh menuju kerajaan Wanua Ubun mengabarkan kejadian itu kepada sang raja dan ratu.


Sang ratu Gendis jatuh pingsan, dia tidak menyangka hari ini mengantar kepergian ibunya untuk terakhir kalinya. Amarah sang raja mengetahui kabar buruk itu, dia mengerahkan pasukan pergi ke istana Buana.


“Aku akan membawa setengah pasukan menyerang kerajaan Buana. Untuk para penjaga inti istana betugas mencari jasad rombongan ibu suri untuk di semayamkan di belakang halaman istana.”


“Perintah ini akan kami laksanakan yang mulia” jawab mereka serempak.


Amarah sang raja seperti ranting tersulut api yang membakar dirinya sendiri. Dia kembali menanggung kekalahan, hanya dia sang pengawal yang selamat ketika melewati pembatas akar istana beracun yang menjulang tinggi itu.


“Ahahah, hahahah” tawa ratu Diajeng menggema hingga di langit Wanua Ubun.

__ADS_1


Kaki sang raja pincang terkena sayatan duri beracun, tubuhnya panas dingin merasakan sakit. Sang tabib merobek kulitnya mengeluarkan darah yang bercampur dengan racun. Suara kesakitannya mengerang, hampir saja kepala sang tabib terkena tebasan pedang yang sudah dia ayunkan.


“Tolong ampuni nyawa hamba wahai yang mulia” ucapnya ketakutan.


“Awas kau Diajeng, aku akan memberikan perhitungan pada mu!” gumamnya.


Dengan penuh rasa takut sang tabib meneruskan pengobatan yang tertunda. Dia menjahit kakinya, suara sang raja mengerang kesakitan.


“Dayang utama, bagaimana keadaan sang ratu?”


“Yang mulia, setelah sadar. Sang ratu sedang bersiap mencari jasad ibu suri yang sampai saat ini belum di temukan para penjaga istana”


“Raja, sang ratu menaiki kuda pergi ke darah hutan Mangkubuana!” ucap salah satu prajurit.


“Cepat kejar ratu atau kepala kalian semua aku penggal!”


Kaki sang raja yang belum bisa di gerakkan membuat dia tidak bisa mengejar ratu Gendis. Dia memanggil seluruh pasukan khusus penjaga istana untuk membawa pulang sang ratu. Sementara itu, panglima perang berdiri memberikan sebuah bungkusan yang meneteskan darah. Bau busuk sampai sang raja mengarahkan pedang ke arah sang panglima.


“Raja, mohon raja jangan marah. Hamba hanya ingin menunjukkan ini”


Kasim pendamping menerima bungkusan dari sang pengawal. Dia terkejut sampai mencampakkan isi bungkusan itu. Kepala ibu suri Wanua Ubun sontak membuat gempar seisi istana.


“Jika sang ratu mengetahui hal ini pasti dia akan histeris bahkan___” ucap sang kasim menghentikan perkataannya.


Di perjalanan ketika mengejar sang ratu, para pasukan khusus menemukan dia berbaring di atas tanah. Ketua pasukan membawanya kembali ke istana, sang ratu di baringkan di samping sang raja.


“Ratu bangunlah, tabib cepat periksa keadaannya” ucap sang raja.


“Mohon yang mulia jangan panik, Sang ratu sedang sedang mengandung, selamat atas kehamilan sang ratu” ucap tabib istana.

__ADS_1


Kabar kehamilan ratu Gendis di dengar oleh sang ratu Diajeng. Dia memutar mustika hitam miliknya, di dalam kebencian mempersiapkan sebuah kekuatan untuk membunuh bayi itu.


“Raja Tumenggung, sebentar lagi kau akan membayar rasa sakit seluruh penderitaan di hidup ku!” gumamnya.


__ADS_2