
Belum puas hatinya menerima kenyataan. Hancur hatinya berkeping-keping, sang putri membakar semua foto kenangan bersama sang raja. Diam-diam dia menyambung gorden, mengingat setiap simpul lalu perlahan ke luar jendela menuruni tembok istana. Gaun panjang putih, rambut acak-acakan tanpa alas kaki dia berlari menuju ke lautan.
Berpindah dari satu bebatuan besar ke bebatuan lainnya. Dia melompat masuk ke dalam lautan membenamkan diri sampai ke dasar air. Dia berpikir setelah pergi dari dunia ini maka bisa terlepas dari bayang-bayang pria yang kini sangat dia benci itu.
Kata-kata bualan manis manis terngiang di telinganya__
“Diajeng, lautan ini akan menjadi saksi air di cinta ku yang tidak pernah habis pada mu" ucapan sang raja sebelum pergi meninggalkan nya.
kenangan yang dia toreh bersama kehadirannya ternyata membuat derita di hidupnya.
“Diajeng, kenapa kau meninggalkan rakyat mu demi pria yang tidak memperdulikan mu itu?” ucap makhluk sejenis putri duyung yang memiliki gigi taring sangat panjang.
“Tuan putri, harum aroma bangsawan sangat di sayangkan menghilang begitu saja. Apakah engkau tidak berniat membalaskan dendam mu? raihlah tangan ku” kata salah satu makhluk yang pernah dia temui di dalam mimpi.
“Wahai pewaris kerajaan Mangkubuana, ijinkan aku masuk ke dalam tubuh mu. Kau akan menjadi penguasa yang memiliki kekuatan yang tidak tertandingi.”
“Putri, aku adalah arwah peramal Ming yang siap sedia tanpa pamrih. Cukup raih tangan ku__”
Semua pilihan yang menyulitkan dirinya, dia semula ingin menutup mata. Mengingat amarah, tangisan para rakyat dan amanat beban di pundak yang harus dia emban menjaga tanah pusaka. Mati sia-sia membayangkan sang raja bersama wanita lain. Pengorbanan yang tidak akan pernah bisa dia bayar bahkan sekalipun tetesan darah dari sang raja.
“Dia telah mengkhianati mu, kematian mu hanya akan membuatnya bahagia. Poh juga akan tertawa menduduki singgahsana, kursi milik sang raja yang seharusnya milikmu.”
Bisikan para jin, iblis dan siluman merubah hatinya menjadi hitam. Agar bisa naik ke permukaan, sang putri meraih dua tangan milik makhluk yang pernah di dalam mimpinya dan satu lagi tangan peramal Ming. Salah satu sosok itu masuk menduduki tubuhnya, sang putri berubah terlihat menyeramkan. Berdiri di atas gulungan ombak di lautan. Sang putri mengayunkan tangan membuat pusara ombak di lautan. Dia membanting air ke arah terumbu karang, kapal yang sedang berlayar di tengah lautan itu mengingatkan dia akan kepergian sang raja membawa Garuda.
__ADS_1
Mata merah menyala, tanpa hati dan perasaan dia membanting kapal menggunakan kekuatan hitam yang dia miliki. Semakin besar amarahnya maka semakin besar pula kekuatan yang dia keluarkan.
“Argghh! “
“Tolong!”
Suara teriakan orang-orang dari dalam kapal. Terlihat ada yang tenggelam hingga di makan hiu dan hewan buas di dalam lautan. Melihat para manusia menderita membuat dia merasa senang dan tertawa. Kini sang putri bukan lah putri diajeng yang di kenal baik, lembut dan bijaksana.
......................
“Kemana perginya sang putri?”
Pengawal pendamping melihat ikatan simpul gorden menjuntai keluar jendela. Saat sang pengawal akan keluar ruangan. Di belakang sudah berdiri sang putri, Suga sangat terkejut melihat perubahan padanya. Tubuhnya basah kuyup, tatapan yang sangat berbeda. Dia tersenyum menyeringai, gerakan tangan menggerakkan semua benda yang berantakan di dalam ruangan kembali seperti semula.
“Baik tuan putri__”
Sang pengawal pendamping berdiri di samping kuda menunggu sang putri. Dia kembali terkejut melihat penampilan sang putri yang sangat berbeda. Gaun hitam, hiasan permata hitam melingkar pada lehernya. Sang putri memegang sebuah tongkat terdapat lingkaran bola berwarna hitam yang melilit seperti akar-akaran.
Semula Suga menempuh jalur darat, mengingat cuaca ekstrim di lautan pasti sangat beresiko. Suga memikirkan keselamatan sang putri tapi kuda sang putri berlari ke arah lautan. Lajunya sangat kencang, sampai Suga tidak bisa melampuinya untuk menghentikan kuda itu.
“Putri, cepat lompat dari kuda!” teriak Suga.
Dia tidak memperdulikan teriakannya. Tongkat batu hitam dia ayunkan seolah membelah lautan diatasnya membentuk sebuah jalan yang lurus terbuat dari es Kristal salju. Membuka jalan sampai menuju daratan, kuda sang putri berlari seperti menginjak tanah tidak tergelincir sedikitpun.
__ADS_1
Dia mengayunkan kuda Suga menerbangkannya lebih dulu ke ujung daratan.
“Dari mana sang putri memiliki kekuatan sebesar itu?” gumamnya.
Matanya seolah menyalakan kobaran api, dia berdiri tepat di depan istana Wanua Ubun. Pintu, emas membentang terbuka, ramai para pembesar yang hadir menyaksikan pesta yang di selenggarakan secara besar-besaran. Di atas kursi kebesaran, telah duduk raja Tumenggung bersama putri Gendis. Dia sedang menggenggam erat tangan sang putri sambil mengusap lembut.
Air mata sang putri Buana di tahan dia mengayunkan tongkat mengumpulkan awan kolonimbus siap meluluh lantakkan tanah Wanua Ubun. Angin kencang menerbangkan beberapa tamu undangan, hujan deras, petir menggelegar hingga suara jeritan sang putri terbang menatap mereka penuh amarah.
“Putri Diajeng? Kau kah itu?” ucap sang raja.
“Tumenggung terkutuk lah kau! aku tidak akan pernah melepaskan tujuh turunan mu! hiya!” suara sang putri terdengar sangat berbeda.
Sinar hitam menyelubungi wilayah Wanua ubun. Kutukan ilmu hitam yang dia tancapkan tanpa memerangi pengindah pelepas kutukan. Kedatangannya membuat putri Gendis sangat ketakutan hingga tanpa sadar dia memeluk erat sang raja.
“Tenang lah putri Gendis, kini kau adalah ratu di istana kita. Aku akan melindungi mu” ucap sang raja.
Melihat amarah sang putri diajeng yang mengerikan, awan kolonimbus habis meratakan habis satu pulau jika di jatuhkan pada detik itu juga. Perlahan Suga mendekat sang putri.
“Wahai putri, urungkan lah niat mu untuk menghabisinya. Jika engkau membunuhnya maka dia tidak merasakan penderitaan seperti yang engkau rasakan di dunia. Hilangkan lah awas kematian itu, musuh utama mu bukanlah kematian para rakyat wanua ubun” ucap Suga.
Suga di cekik oleh sang putri, tubuhnya terangkat hampir saja di tewas jika sang putri tidak segera sadar siapa pria yang akan dia habisi. Dia menjatuhkan Suga, lemparan mata menatap sang raja.
“Aku akan mengutuk penderitaan di istana Wanua Ubun, anak yang akan lahir di tahun depan akan menderita dan menangis seumur hidupnya. Hahaha!” sang putri menghilang membawa Suga kembali ke istananya.
__ADS_1
Semenjak hari itu keindahan harum semerbak bunga dan rerumputan di tebing perbukitan hijau tidak lagi terlihat. Sang putri membangun benteng berduri menjulang tinggi ke atas langit berselimut ilmu sihir hitam yang di milikinya. Tidak ada satupun kerajaan lain yang berani mendekat ke wilayahnya. Pintu benteng istana tertutup di depan di jaga dua makhluk siluman yang berwujud manusia.