
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba saja berhenti di tempat ini?” tanya salah satu pejabat.
“Tuan, kami dari tadi tidak melihat gerbang istana” ucap kusir sambil melingak-linguk.
“Kenapa bisa begini? Cepat cari jalan lintas lain!”
“Perdana menteri Hakim, kita akan di penggal sang ratu jika dia mengetahui kehendak kita!” kata pejabat tinggi perairan.
“Jika gerbang istana tidak terlihat kemungkinan besar sang ratu menggunakan sihirnya. Kita tunda saja hingga semua kembali seperti semula”
Mereka bermusyawarah hingga kereta berbalik ke istana. Suga mengetahui kelakuan para pejabat itu, dia menghentikan kereta menodongkan pedang ke leher sang pejabat. Sementara pejabat lain berhamburan melarikan diri. Penjaga istana membantu Suga menangkap mereka semua, suga berubah wujud mengumpulkan semua para pejabat dengan satu tangannya.
“Rupanya kau siluman!”
“Ada apa penjabat perairan? Apakah semua kemewahan yang ada ada pada diri mu belum cukup?” kata Suga.
“Arghh!”
Kepala sang pejabat perairan terlepas. Semua pejabat ketakutan akan ikut terbunuh. Mereka menyalakan simbol meriam di udara. Para pengawal pengikut masing-masing dari mereka menyerang Suga dan penjaga istana. Kematian, tumpahan darah di tanah leluhur sendiri, semua berdampak akibat kekacauan menentang sang ratu Diajeng.
“Pengawal ratu kenapa kau membela wanita terkutuk itu? kau membunuh bangsa mu sendiri! Ini akan menjadi petaka di tanah Mangkubuana!” ucap perdana menteri hakim.
“Jangan banyak omong! Hiyakk!”
Darah setengah siluman si pengawal istana bersifat pembunuh. Dia hanya mengingat perintah sang ratu untuk menghabisi semua pembangkang. Sang putri menjatuhkan keranjang kosong, dia tidak percaya Suga membunuh para pejabat Buana.
“Suga, kenapa kau membunuh mereka tanpa menjatuhkan hukuman di ruangan peradilan? Aku tidak menyangka__”
“kau si wanita terkutuk! Argh!” ucap pejabat lalu menghembuskan nafas terakhir.
__ADS_1
Kata terkutuk sudah menjadi makanan sehari-hari sang putri. Dia berlari menangis di kejar Suga dan penjaga istana. Sang putri yang sudah hafal letak wilayah Buana, bersembunyi di salah satu terowongan gua di dinding bebatuan.
“Tuan putri!” teriak Suga.
“Kita berpencar saja” ucap penjaga istana.
Pangeran Julian menoleh mendengar suara yang memanggil putri Alundra. Namun dia tidak dapat berbalik ke istana. Ratu pemilik negeri terkuat itu pasti akan membunuhnya jika melanggar perjanjian berada di negeri Buana hanya satu hari saja. Berakhirnya persemedian sang ratu maka sihir penutup negeri pun terbuka. Di depan sana sudah terlihat batas wilayah negara itu. Pangeran Julian bergegas meninggalkan tanah Buana.
Di kerajaan Brahma
Punggawa istana membacakan dekrit dari para perdana menteri, mendengar permintaan itu maka sang raja begitu tertarik menguasai wilayah Buana. Dia mendengar negeri itu sangat sakti dengan kekuasaan ratu yang memiliki hewan warisan tanah leluhur.
“Kepala kasim, apa yang engkau ketahui mengenai Mangkubuana?”
“Menjawab sang raja, hamba mendengar sang ratu membangun tembok duri pelindung pencakar langit. Para penghuni makhluk siluman, hamba juga mendengar sang putri Wanua Ubun tinggal di Kerajaan Buana dan di nobatkan sebagai putri mahkota. Anak ratu Diajeng Mangkubumi”
“Bukankah dua kerajaan itu berperang sepanjang masa?”
“Penasehat istana, sampaikan pada para menteri itu bahwa aku menyetujuinya”
“Baik yang mulia__”
Raja Tirex tidak mengetahui bahwa para perdana menteri itu sudah tiada. Surat yang di layangkan secara rahasia sampai di tangan Suga. Dia mengerang menerbangkan surat itu kembali ke kerajaan Brahma. Balasan singkat yang berisi coretan membuat sang raja murka.
“Kurang ajar sekali,mereka mempermainkan kekuatan ku! Panglima! Cepat siapkan pasukan! Kita akan menyerang kerajaan terkutuk itu!”
“Ayah! Atas dasar apa ayah menyerang mereka? Aku tidak melihat tanda-tanda kejahatan di kerajaan Mangkubuana”
“Jangan halangi aku! Akan aku tunjukkan kalau kerajaan ku tidak kalah hebat dari mereka!”
__ADS_1
Ribuan pasukan mengepung tanah Mangkubuana. Suga sudah bersiap di depan perbatasan, dia berubah wujud menjadi siluman membantai para pasukan yang berada di garis depan. Mencabik leher mereka, tepat mengenai urat nadi sang penjaga melongo melihat Suga tidak biasanya bertingkah seperti monster liar.
“Tuan putri, istana kita di kepung kerajaan Brahma” ucap dayang Kumetra.
“Serangan mendadak ini pasti ulah si pangeran Julian yang berpura-pura baik terhadap kita” ucap siluman Kila.
Sang ratu sedang tidak ada di singgahsana. Benteng pencakar langit berusaha di terobos masuk pasukan Brahma. Mereka menggunakan tali sampai menopang tubuh satu prajurit ke prajurit lainnya. Pasukan yang menyerang itu bagai pasukan semut, para siluman bangkit melawan hingga beberapa dari mereka gugur di medan perang di serbu menggunakan senjata pedang besi putih.
“Ahahah! Aku mendengar kelemahan kerajaan ini. Ternyata benar kalau mereka lemah akan besi putih!” ucap sang raja dengan tawanya.
“Tolong hentikan ayah!”
“Julian! Suatu hari engkau akan menggantikan posisi ku. Bagaimana bisa engkau memimpin sebuah negeri jika hati mu sangat lemah!”
Serangan beruntun, para siluman melemah sehingga benteng berhasil di tembus oleh raja Tirex. Pohon sesepuh cahaya bangkit menebarkan sumber sihir leluhur Mangkubuana ke para siluman yang sekarat. Dia menarik semua akar-akar yang menjalar. Kekacauan, sinar kegelapan, teriakan arwah siluman yang melayang, sang ratu menyalakan sihir menghembus ke kerajaan Mangkubuana. Dia menggerakkan air ombak menjulang tinggi menarik ribuan prajurit Brahma keluar wilayahnya.
Suara teriakan minta tolong para pasukan tenggelam ke lautan. Karena terdesak sang raja menyandra putri Alundra. Pedang sudah menyayat sedikit lehernya. Sang ratu menghentikan sihir, dia melihat mayat pasukan siluman dan lautan mayat prajurit yang tewas.
“Tirex, aku memberikan mu kesempatan hidup jika kau melepaskan Alundra” ucap sang ratu.
“Hahaha, aku sangat kasihan melihat takdir mu wahai penguasa terakhir Mangkubuana. Kau mengasihani musuh yang sudah merusak tanah leluhur mu!”
“Hiya!”
Air ombak laut berbentuk pisau tajam menghunus tubuhnya. Sang putri terhempas di tangkap ratu hitam yang sangat mengkhawatirkan keselamatannya. Sisa pasukan Brahma bergerak mundur, komandu di ambil alih oleh pangeran Julian. Halilintar dari batu mustika hitam akan menyambar mereka, sang putri meminta pengampunan agar memaafkan mereka.
“Ibu, biarkan lah mereka pergi__”
Kedatangan pangeran Edward dari negeri seberang setelah memenangkan pertempuran di negeri gurun bersama panglima perang mengikuti pangeran Julian yang di kabar kan masih di negeri Mangkubuana. Di tengah perjalanan dia bertemu sang adik, kabar meninggalnya raja Tirex membuat dia hilang kendali ingin membunuh sang ratu.
__ADS_1
Di depan sana burung gagak berterbangan memakan bangkai, dia melewati jasad para prajurit sampai tapak langkah kudanya tiba di depan gerbang istana. Tembok raksasa terlihat angker, suara mengerikan menggema membuat bulu kuduknya merinding.
“Pangeran, ini adalah istana berhantu yang terkuat dari seluruh negeri. Kita berdua tidak mungkin bisa mengalahkannya” ucap sang panglima.