Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 24


__ADS_3

Minuman berisi darah sudah di teguk habis. Perubahan pada sang putri terlihat lebih mengerikan bahkan wajahnya berubah seperti monster. Kukunya memanjang persis ketika dia berubah menjadi setan.


“Kenapa Alundra sama seperti ku? Aku bisa mengendalikan ilmu ini sehingga seperti semula. Tubuhnya semakin dingin, nafasnya juga berhenti. Apakah makhluk kecil ini__” gumamnya berkecamuk.


“Alundra bangun!” sang ratu mengarahkan arwah para siluman untuk mencari arwahnya.


Sihir hitam menyala menembus langit. Suasana malam mencekam, suara teriakan sang ratu terdengar raja Tumenggung yang setiap malam berdiri di depan tembok istana memerintahkan para pasukan dan pandai besi membuat senjata perang.


“Wanita iblis itu pasti sedang menggunakan kekuatannya untuk menyerang ku!” ucapnya sambil berdecih.


Perubahan alam yang mengerikan pada malam itu di saksikan si beberapa negara. Salah satunya pada kerajaan Brahma yang terletak di daerah tenggara. Hujan abu, hawa udara panas suara aneh dari kilatan yang menyambar di atas langit. Pangeran Julian berjalan di tengah malam menggunakan kompas menentukan arah sumber suara terkuat itu.


Dua pengawal pendamping mengikuti sambil menarik kuda, perjalan tanpa persiapan pada malam itu cukup jauh hingga mencapai perbatasan wilayah Mangkubuana. Selangkah lebih maju, tanah bergetar membanting dirinya kedua pengawal mengeluarkan senjata berpikir bahwa ada yang menyerang.


“Siapa kalian? Keluar sekarang juga!” bentak salah satu pengawal.


“Pangeran, sepertinya tempat ini berbahaya, kita harus segera kembali ke istana” ucap pengawal lainnya.


“Aku masih penasaran dari mana asal sinar dan teriakan itu”


Pangeran Julian berdiri tetap meneruskan langkah. Namun menapak kaki ke tanah itu di sambut aungan suara serigala. Suara akar-akar pohon saling bertarikan, bergerak sendiri hingga salah satu pohon terangkat. Akar yang menancap di tanah naik ke permukaan berbentuk kaki raksasa berlari mengejar sang pangeran dan kedua pengawalnya.


Srak, dughh__


Kedua tubuh pengawal di lilit akar pepohonan. Mereka berteriak kesakitan, pangeran mengayunkan pedang mematahkan ranting sampai keduanya terlepas. Keributan di malam itu mengundang para siluman yang berada di hutan berkerumun melihat tiga manusia yang berusaha menerobos masuk.


“Pangeran, semua tumbuhan yang ada di tempat ini hidup”


“Mereka pasti jelmaan siluman!”


Kedua pengawal memasang posisi kuda-kuda siap menyerang. Sesepuh pohon cahaya akan menyerangnya tapi di hentikan kedatangan pengawal Suga. Sosok manusia yang hidup kembali itu mengeluarkan senjata raksasanya.

__ADS_1


“Cepat letakkan senjata kalian atau aku akan menebas leher kalian semua dengan pedang ku ini!” ucapnya.


Ketiganya menjatuhkan pedang, tangan mereka terangkat ke atas. Dia di giring berjalan memasukii wilayah hutan. Merinding sekujur bulu kuduk merasaka banyak makhluk tidak kasat mata mengintai. Pengawal di sisi kiri berhenti merasa ada tangan yang menarik kakinya.


“Cepat jalan!” bentak Suga.


Sosok pengawal itu meneruskan langkah, kakinya terasa sangat berat. Kaki seperti di rantai besi, tubuhnya juga mengeluarkan keringat. Hawa panas di wilayah itu membakar kulit mereka.


“Sebetulnnya tempat apa ini? ayah pernah mengatakan ada sebuah kerajaan terkuat yang memiliki hewan penjaga leluhur pemangku bumi. Apakah ini yang ayah maksud?” gumam sang pangeran.


Melewati hutan selama berjam-jam, mereka terperanga melihat tembok raksasa yang menjulang tinggi sampai ke atas langit. Setiap akar runcing menetes seperti darah berwarna hitam. Mereka menyipitkan mata melihat wujud para siluman yang semakin aneh. Tepat di depan depan gerbang, sang penjaga istana mengatakan bahwa sang ratu tidak bisa menemui siapapun sekalipun tamu penting.


“Kepada pangeran Brahma, sang ratu hanya membebaskan berkeliling wilayah Mangkubuana dalam waktu satu hari dan menunda pertemuan karena keperluan yang sangat mendesak” ucap sang penjaga.


“Kami sudah menuruti semua perintah kalian! Kenapa sang pangeran malah mendapat perlakuan seperti ini!”


Sang pengawal menentang pada sang penjaga. Dia mengambil pedang tangan Suga ke arah nya.


Atas amanat dari sang ratu maka ketiganya di lepas. Satu hari di ijinkan berkeliaran di wilayah Mangkubuana tanpa penyambutan tidak mengurungkan niat sang pangeran untuk mengetahui lebih dalam mengenai kerajaan itu.


“Anda adalah pangeran yang terhormat, tidak sepantasnya di perlakukan seperti ini”


“Tidak penting siapa aku sekarang, kita harus cepat menyelidiki dan menggali sisi lain di wilayah ini. Cepat, hidupkan bakaran api”


“Baik pangeran”


Dalam satu malam, pengawal sang pangeran mendekati salah satu prajurit yang berjaga di perbatasan pintu. Dia di pukul hingga babak belur sampai prajuri lain melerainya.


“Kau pikir tanah ini penuh dengan kepalsuan sehingga mau menerima sebatas emas itu?” bentak si prajurit.


“Jangan marah dulu, aku hanya menyuruh pengawal ku menguji sampai dimana batas kesetiaan mu pada negeri ini” ucap sang pangeran menutupi kedoknya.

__ADS_1


......................


Sihir terbuang menembus tubuh sang putri. Tubuhnya kaku, permintaan terakhir mengatakan ingin di panggil anak belum terwujud. Rintik gerimis di pelupuk mata ratu hitam itu menetes semakin deras. Ombak di lautan menggulung tinggi, ketinggiannya melebihi tembok pembatas pencakar langit. Seluruh negeri dapat melihat ombak laut raksasa itu. Orang-orang yang menyaksikannya berpikir hari itu adalah hari kiamat. Ketakutan, tangis, menyelamatkan diri, mencari perlindungan.


“Air ombak naik!”


“Cepat kita naik ke tempat yang lebih tinggi”


“Bagaimana ini? dimana kita akan berlindung?”


Ratu iblis mengeluarkan semua kekuatan terdashyat. Negeri terkuat di pimpim ratu yang sudah bersekutu dengan kegelapan. “Ratu, pasti ada cara menghidupkannya seperti aku yang bisa engkau bangkitkan” ucap Suga.


Stunami dalam lima detik akan membinasakan sebagian bumi. Perlahan air itu surut, jantung sang putri bereaksi menerima darah dari sang ratu. Sosok yang mengutuknya ternyata memberi penawar melalui darahnya sendiri.


“i_i_ibu__”


“Makhluk kecil! Akhirnya kau kembali!” sang ratu memeluknya erat.


Alundra mengusap air matanya yang belum berhenti, di dalam benak berjanji tidak memikirkan apapun mengenai rahasia Wanua Ubun atau Mangkubuana juga siapa orang tuanya sesungguhnya. Dia hanya butuh sang ratu di sampingnya, peran seorang ibu yang sangat menyayanginya lebih dari apapun di dunia ini. Bencana besar menghilang, pada hari itu ketakutan semua orang berganti senyum dan tawa.


“Aku pikir kita akan tewas dalam musibah gulungan ombak” bisik salah satu siluman prajurit istana.


“Terbukti adanya bahwa putri Alundra si manusia terkutuk pembawa musibah. Kemungkinan hal ini juga yang membuat pak Poh membentuk sekte"


“Tidak kau salah, dia memang ingin memanfaatkan orang-orang yang dia percaya untuk mendapatkan tahta”


“Lihat gadis kecil itu semakin dewasa menciptakan keonaran”


Umpatan para perangkat istana di aula kebesaran. Kesepakatan mengirim dekrit rahasia ke kerajaan Brahma setelah mengetahui kedatangan sang pangeran Julian ke wilayah Buana.


“Semoga raja Brahma bisa membantu kita terlepas dari kutukan ini dan segera mengusir sang putri!” ucap salah satu punggawa istana.

__ADS_1


__ADS_2