Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 28


__ADS_3

Memandang lepas pantai, aroma alam menembus bayang nanar cakrawala kesegaran indah dunia. Siapa yang menyangka di dalam nya ada beberapa lapisan kehidupan dunia lain. Sesekali menampakkan wujud pada manusia. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya. Para siluman dan makhluk tidak kasat mata suka mengganggu para manusia yang mereka kehendaki memilih darah yang harum semisal yang terdekat yaitu anak-anak kecil yang bermain di tepi pantai. Sering kali ombak membawa begitu pula orang dewasa yang melakukan perbuatan buruk. Melakukan hubungan yang terlarang. Melontarkan kata kotor atau darah harum para bangsawan.


Sang putri melarikan diri dari istana Mangkubana.


Berlari tidak tentu arah sampai dia tersesat di sebuah tempat asing. Jarak berlawanan dari pesisir pantai, dia melirik perbukitan hijau lepas membentang. Kupu-kupu berterbangan di setapak bunga warna –warni menarik mata. Di bawah balik pohon muncul pangeran Edward tersenyum menghampirinya. Ini adalah pertemuan yang kemungkinan di sengaja oleh sang pangeran. Dia memasang para prajurit pengintai di luar tembok istana Mangkubuana kemudian mengirimkan sinyal di udara padanya.


Sang pangeran membungkuk memberi salam. Mata nakalnya bersiap mengeluarkan jurus bujuk rayuan. Dia menggandeng tangan sang putri dengan lembut. Sang putri sekan terhipnotis mengikuti langkah beriringan. Wanita itu yang semula sangat meragukan perasaannya kini terpikat tertidur di pundak sang pangeran.


Tangan kanan sang pangeran mengambil pedang dari punggungnya. Dia bersiap membunuh anak sang musuh, tangannya di hentikan pangeran Julian. Takut topeng kepura-puraan sang pangeran Edward terbongkar di depan sang putri maka dia menyayat tangannya sendiri dengan pedangnya. Tuduhan kepalsuan ke pangeran Julian, sang putri mendorong pangeran Julian menjauh bersama Edward yang tersenyum menyeringai di belakangnya.


“Edward kau adalah kakak kandung ku tapi kenapa kau bisa memfitnah ku di depan sang putri?” gumamnya tidak menyangka saudaranya itu tega memperlakukan dirinya hanya untuk bersandiwara.


“Hentikan pangeran Julian!”


“Putri, aku tidak bermaksud melukai kakak ku sendiri. Ini sebuah kesalah pahaman.”


Mengetahui keduanya adalah kakak beradik maka sang putri menghentikan amarah pada pangeran Julian. Di dalam pikiran sang putri yaitu mereka berdua tidak mungkin saling menyakiti atau salah satunya mau menebas pedang hanya karena sebuah kesalahan saja.


“Karena kalian saudara maka akan aku maafkan. Pangeran, minta pada pangeran Julian unutk membalut luka mu itu” ucap sang putri acuh pergi berlalu.


“Ah! Aduh sakit sekali. Julian, kau sengaja kan menendang ku?” pekik pangeran Edwrad.

__ADS_1


Sang putri berbalik badan, pertengkaran antar saudara mendramatisir, sang putri melotot menatap pangera Julian. “Kalian sudah dewasa tapi tingkah seperti anak kecil saja!”


“Putri, aku tidak menyentuhnya sedikit pun!” ucap pangeran Julian membela diri.


“Jadi ini apa buktinya?” kata pangeran Edward mengangkat telapak tangannya yang mengalir darah.


Ketiganya duduk di atas hamparan bebatuan, tebing bebatuan tinggi di atas deru ombak laut yang mejadi saksi ketiganya bersama melemparkan niat yang terselubung.


“Di dalam benak ku kini mempertanyakan apakah mereka berdua benar-benar tulus ingin bersahabat atau berteman dengan ku. Ibu telah membunuh raja Tirex, sungguh mustahil tidak ada amarah di hati mereka” gumam sang putri.Selesai membalut luka dengan ujung gaun sang putri yang di robek, sang putri berpindah tempat mencari dataran rendah untuk mencuci tangannya.


Dia tergelincir di tarik pangeran Julian, Tidak ingin ada tatapan atau godaan lainnya sang putri mencari pandangan lain. Dia melepaskan genggaman melanjutkan langkah ke bebatuan bawah.


“Hati-hati putri” ucap Edward.


Edward hanya melengos, dia tidak menjawab mengabaikan semua amarah Julian. Para pengawal pendamping para pangeran hanya bisa mengamati, posisi saling berjaga memegang sejata bersiap jika salah satunya akan menyerang. Begitupula para siluman kelinci dan kedua dayang sang putri.


Ombak di lautan menggulung semakin tinggi saat sang putri mencelupkan tangannya di atas air. Pusara menggulung tepat di depannya. Sang pangeran Julian menariknya menjauh, air laut bergerak cepat seakan akan menggulungnya.


“Putri, genggam erat tangan ku!” teriak Julian.


Para pengikut mereka berbondong-bondong membantu menarik. Namun, sang putri hanyut masuk ke dalam bersama kedua pangeran itu. Gulungan ombak yang tadi nya membentuk tsunami tiba-tiba tenang. Setelah menelan tiga para penerus generasi mahkota kerajaan.

__ADS_1


“Putri!” teriak para pengikutnya.


Siluman kelinci Prili berlari menemui sang ratu Diajeng. Ratu terkuat itu berdiri di ujung atap istana menggelegarkan halilintar di atas langit. Mustika batu hitam di ujung tongkat mengeluarkan sihir memecah langit. Tanpa kenal lelah setiap hari berusaha melenyapkan kutukan yang sudah dia tancapkan pada sang putri. Tapi tetap saja kutukan itu bisa terlepas.


Kutukan itu menenggelam kan sang putri membawa orang di sekitarnya. Di dalam lautan dia menjadi tawanan para siluman duyung menyodorkan senjata tombak panjang tiga belahan ruas yang mematikan. Sang putri dan kedua pangeran di lilit akar laut hidup, di dalam air kedua pangeran itu sudah tidak sadarkan diri. Hanya sang putri yang masih terjaga, dia memperhatikan puluhan siluman duyung mengawasinya.


“Apa mau kalian? Cepat lepaskan kami atau ibu ku akan menghancurkan lautan ini!”


Ucapan batin sang putri yang terdengar salah satunya itu mengarahkan tombak ke wajahnya. Dia membuka rahang memperlihatkan lidah menjulur panjang melilit lehernya. “Engkau harus tau bahwa salah satu kekuatan ibu mu itu berasal dari lauatan. Ratu duyung akan memakan hati mu jika kau berani memberontak!”


“Apa maksud mu? ibu ku pasti akan datang menyelamatkan ku!”


“Ratu duyung tidak akan melepaskan mu sebelum dia memenuhi perjanjiannya!”


Lilitan lidah si siluman duyung terasa mencekik kuat. Dia pingsan di tengah nafasnya yang sudah sekarat. Kedatangan ratu duyung mendekati melihat cahaya hitam di balik tubuhnya. Mengamati tanda kutukan urat hitam di balik punggung sang putri, daia tersenyum melepaskan akar laut yang mengikatnya.


Pusaran air ombak menggugulung, para makhluk di dalamnya luntang lantung di hempas menggunakan sihir ratu Diajeng yang mengamuk di atas permukaan. Hamparan laut luat tidak terbatas, sangat sulit mencari keberadaan sang putri di dalam sana.Kekuatan halilintar tidak bisa menuju sasaran si pelaku, ibarat sepercik api saja yang masuk ke dalam maka satu lautan ikut merasakan panasnya. Gulungan, belahan dan gempa bumi berkelanjutan. Ikan-ikan di dalamnya naik ke permukaan begitu pula para bangsa siluman air.


“Tolong!”


“Selamat kan kami!”

__ADS_1


“Arghh! Wanita terkutuk itu membuat musibah di laut biru!”


Teriakan para siluman air terhempas ke daratan.


__ADS_2