
Nyatanya dia tetaplah bayi yang terkutuk. Meskipun pedang sudah tercabut dari tubuh sang pengawal dan penjaga. Mereka menutup mata selama-lamanya. Kematian dua perangkat terpenting di istana merupakan momok ketakutan para prajurit. Pedang bersimbah darah , senjata yang di buat oleh si raja Tumenggung. Kedua jasad di semayamkan di makam pahlawan yang berada di sisi tebing dekat tepi pantai. Kain putih melambai, bunga bertebaran, jasad terkubur masih menetes darah.
“Seharusnya pedang itu tidak udah di cabut si putri terkutuk” bisik salah satu dayang yang biasanya bekerja di latar sang pengawal.
Dia membenci sang bayi karena berpikir sang pengawal meninggal akibat ulahnya. Suntikan pikiran pedas, mempengaruhi para dayang lain untuk membencinya. Para dayang yang tidak menyukai sang putri, memalingkan wajah berpura-pura mencari kesibukan. Dia kesusahan menuruni anak tangga tapi ti
Tidak ada satupun yang membantu. Siluman gagak terbang menjelma menjadi manusia. Dia menggendong sang putri turun, jari telunjuk kecil sang putri mengarahkan hingga keluar istana.
“Anak kecil, engkau mau kemana?” tanyanya sambil tersenyum.
“Bang_ter, bang!”
Ocehan keinginan terbang, siluman gagak menggenggam erat tubuh sang bayi, dia menjelma menjadi siluman kembali. Di atas awan, sang putri tersenyum ceria menikmati pemandangan. Dia merentangkan tangan Tanpa sengaja salahnya satu sandal terlepas. Dia menggeliat, sang siluman yang semula akan menangkap sandal yang jatuh tanpa terasa sudah melepas sang putri.
“Putri Alundra!” teriak sang siluman.
Di tengah lautan lepas anak kecil itu tidak terlihat lagi. Sang siluman ketakutan, dia pasti akan di bunuh sang ratu. Melihat ombak di lautan, lautan lepas mengecilkan keberaniannya untuk terjun. Menjelma menjadi siluman atau menjadi manusia, dia tetap tidak bisa berenang.
“Bagaimana ini? sang putri pasti sudah tenggelam di dasar laut” gumamnya.
Dia belum di takdirkan untuk meninggal, nasib buruk dari kutukan yang di dapat harus dia lalui bersama penderitaannya. Sesuai dengan nasibnya, setiap hari nyawa sang putri terancam walau di kelilingi para penjaga terkuat sekalipun.
“Aku mendapatkan mu! mari kita menunggu ibu angkat mu untuk bertransaksi dengan ku!”
Sang wanita tua menyeret Alundra ke tepi pantai. Mereka sudah sampai di tanah Wanua Ubun. Saat dia terjatuh, wanita itu bergerak cepat mencurinya, menutup mulut sang putri bersembunyi menggunakan sisa sihirnya.
Pemanggilan sang siluman gagak, ratu Diajeng duduk di kursi kebesaran memutar tongkatnya. Dia menyadari kesalahannya, berjalan tidak seimbang memasuki ruangan kebesaran. Dia menekuk lutut bersujud meminta ampunan.
“Ratu, maafkan aku. Sang putri__”
__ADS_1
Cambukan halilintar menghanguskan setengah tubuhnya. Sang ratu memutar batu mustika hitam di ujung tongkatnya. Api halilintar biru akan membunuh tubuh sang siluman gagak. Semua siluman yang berada di dalam ruangan hanya terdiam tanpa berani menentang.
Braakk__
Dayang Kumetra berlari menunjukkan salah satu sandal milik sang putri. Sendal yang di temukan prajurit penjaga perbatasan di laut. Pakaian sang dayang tampak kotor karena terburu-buru berlari ke istana.
“Hamba menghadap ratu, selain sandal milik sang putri yang terpisah di darat dan perairan, salah satu prajurit melihat seroang wanita tua membawa lari sang putri ke wilayah Wanua Ubun.”
Mendengar ucapan sang dayang. Sinar kematian yang akan membunuh sang siluman gagak di urungkan. Gumpalan halilintar meredup, sang siluman di banting sang ratu hingga serpihan bulunya berterbangan di dalam ruangan.
“Siluman gagak! Jangan kembali sebelum putri Alundra di temukan!” ucap sang ratu.
......................
Si wanita tua licik itu membawa sang putri ke istana Wanua Ubun. Dia mencari keuntungan demi mendapatkan kekuatan sebagai penyihir terhebat. Mengincar batu mustika milik sang ratu, sang putri di seret dengan tali menangis sepanjang jalan.
Para prajurit menghentikannya, mereka mendorong si wanita tua yang memaksa untuk masuk. Dia sangat keras kepala melotot menendang sang prajurit membuat keributan besar.
“Ada apa ini?”
“Yang mulia, wanita ini terus memaksa minta masuk ke dalam istana” ucap sang pengawal.
Sang raja melirik anak kecil yang dia bawa, wajah yang sangat familiar. Sepasang mata yang mengingatkan dia pada seorang bayi perempuan. “Siapa anak kecil itu?” batinnya.
“Hormat raja, saya ingin melakukan transaksi.”
Di dalam ruangan rapat istana, sang raja melotot tidak percaya kalau anak kecil yang di hadapannya itu adalah Alundra. Darah daging yang dia buang untuk di bunuh. Semula dia tidak percaya, melihat simbol tanda pengenal putri mahkota wanua ubun membuat dia refleks mencekik anak itu.
“Uhuk! Hiks!” tangisan Alundra kesakitan.
__ADS_1
Ayahnya yang gila tidak menginginkan kehadirannya. Dia sangat tercekik, nafasnya sedikit lagi terhenti jika sang wanita tua tidak menahannya.
“Lepaskan raja! Bukankah engkau ingin jiwa sang ratu Diajeng beserta kerajaannya?”
“Ya! Aku mau dia mati!"
“Kalau begitu pancing dia kesini untuk menyelamatkan anak ini. Kau bunuh dia dan aku akan mengambil kekuatannya! Ahahahh!”
“Rencana mu bagus juga! Tapi atas dasar apa dia mau menyelamatkan anak terkutuk ini?”
“Raja, aku tau semua hal yang tidak engkau ketahui. Ahahah!”
Kecurangan si raja Tumenggung tidak pernah berhenti menyiksa sang ratu. Dia sudah mencuri hewan leluhur dan kini berniat mengambil tanah kebesaran. Selain menyakiti, menipu dan melukai, selama nafasnya masih berhembus Nampak hasrat melenyapkan dirinya sampai menjadi abu.
Rencana sang raja dan wanita tua berjalan dengan lancar. Sang ratu terpanggil ke Wanua Ubun seorang diri demi menyelamatkan sang putri. Di sepanjang benteng terpasang jebakan yang terbuat dari besi putih.
Kurangan jaring raksasa sudah di persiapkan untuk menangkap sang ratu. Para pasukan Mangkubuana sudah siap berjaga jika terjadi sesuatu dengan sang ratu. Persiapan perang melawan negeri musuh. Para pasukan siluman pada hari itu saling bergotong royong menunggu aba-aba dari sang ratu.
Penjaga sesepuh siluman pohon diam-diam mengikuti sang ratu ke Wanua Ubun. Dia menyeberangi lautan dengan menenggelamkan diri menancapkan kakinya di dasar laut agar tetap bisa berjalan berkaitan lalu naik ke permukaan. Sang ratu menaikkan air laut membanjiri wilayah Wanua Ubun. Dia mengetahui setiap jengkal di tanah itu terpasang banyak jebakan.
“Ratu, aku di belakang mu!” gumam sesepuh siluman pohon.
Satu-persatu para ketua siluman terkuat mengikuti dari bekalang, tanpa sepengetahuannya sudah membunuh setengah pasukan Wanua Ubun dan menghancurkan senjata besi putih walau harus mengorbankan diri ikut hancur melebur.
Para sebangsa siluman sesepuh saling tarik menarik melenyapkan senjata mengerikan itu, mereka tidak mau ketua sesepuh masing-masing dari binasa. Kehadiran sesepuh memiliki kekuatan para sebangsanya memberikan energi bangsa mereka agar tetap hidup.
“Hahaha, akhirnya kau datang juga! Terimalah kematian mu!” pekik sang wanita tua.
“Cepat lepaskan Alundra atau aku akan mengeluarkan seluruh isi organ tubuh mu!” bentak sang ratu.
__ADS_1