Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 30


__ADS_3

“Aku belum sempat mengucapkan sepatah kata apapun pada ibu, akan tetapi dia malah langsung pergi. Apakah dia sedang marah pada ku karena menarik kedua tangan pangeran Brahma?” gumam sang putri di dalam kolam pemandian bunga setaman.


Dia menceburkan diri memasukkan wajah ke dalam air. Rasa sesak bercampur perih bekas jeratan akar laut terlihat merah menyala. Dia mengeluarkan wajah, menarik nafas panjang. Semua yang ingin menginginkan kematiannya berbalik takdir menjadikannya terlindungi.


Bahkan hari ini dia menjadi sang putri mahkota penerus tahta yang terhormat di lindungi para pengikut terpercaya sang ratu.


Selesai membersihkan diri, pakaian kebesarannya di bantu di pakaikan oleh para dayang. Rambut di tata di depan kaca rias sang putri memilih berbagai perhiasan dan aksesoris yang di berikan oleh sang ratu. Semua kebutuhannya terpenuhi seolah dia sedang menembus rasa bersalah di masa kesalahannya pada tahun-tahun yang terlewati.


Setiap hari sang ratu memikirkan keselamatan sang putri, Di dalam pertapaan juga sesekali memutar batu mustika hitam mengirim sihir pelindung. Sosok ratu iblis itu menjelma menjadi peri penjaga. Dua sisi yang bertolak belakang membuat ketakutan para penghuni Wanua Ubun dan Mangkubuana berpikir berulang kali mengganggunya.


Beberapa para siluman mencoba mengganggunya berakhir tragis, ada tubuhnya hancur berkeping-keping dihujani sihir si ratu batu mustika hitam.


Pangeran Edward mengirim surat rahasia pada sang putri. Perjanjian pertemuan di tepi pantai tepat di sore hari senja pada hari ini. Sang ratu beserta para kaki tangannya sedang sibuk dengan tugas dan urusan masing-masing. Sang putri pun memanfaatkan kesempatan untuk memenuhi panggilan sang pangeran.


Dia memakai gaun yang sangat indah. Dayang Kumetra dan dayang kedua mendandani selama satu jam lalu meminta kedua dayang itu agar tidak mengikutinya.


“Tuan putri, tolong secepatnya segera pulang atau sang ratu akan memenggal kepala kami berdua” ucap dayang Kumetra.


‘Aku akan pulang sebelum malam. Kalau ada hal mendesak maka seperti biasa aku akan menghidupkan sinyal di udara” jawab putri Alundra.


Pesisir pantai itu menjadi saksi pertemuan sang putri dan raja Edward berdua bersama saling memadu kasih. Sang pangeran yang berpura-pura mencintainya itu mulai mengorek segala rahasia negeri Mangkubuana.


“Wahai tuan putri yang cantik jelita, hari ini kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Aku ingin hubungan kita ke jenjang yang lebih serius lagi. Apakah engkau bersedia menjadi kan ku suami mu?”tanya sang pangeran.

__ADS_1


“Ya, tentu saja pangeran. Aku bersedia bersabar menunggu hari itu tiba.”


“Apakah engkau mempercayai ku?”


“Hal apa yang bisa aku ungkapkan bahwa aku mempercayai mu?”


“Wahai tuan putri, suatu saat engkau akan menjadi ratu Mangkubuana. Apakah engkau sudah mengetahui cara menggunakan kekuatan yang ada pada batu mustika sang ratu?”


“Aku belum memikirkannya, mengapa pangeran menanyakan kekuatan ibu ku?”


“Sebagai orang terdekat mu, Aku ingin mengetahuinya__”


Sang pangeran Edward menunjukkan sebuah keris milik raja Brahma. Keris yang disebut mempunyai kesaktian dengan mudah membuat sang putri percaya. Sang pangeran Edward mendesak agar putri Alundra menunjukkan tongkat sakti milik sang ratu.


Pada malam yang larut, sang ratu Diajeng menggulung ombak menuju ke ruangan kebesaran. Putri Alundra sengaja tidur di kasurnya, berpikir anaknya sudah tidur maka sang ratu menarik selimut lalu mengusap kening sang putri. Di dalam cahaya yang meredup sang ratu cepat sekali terlelap. Dia meletakkan tongkat batu permata hitam di sampingnya.


Putri Alundra perlahan beranjak mengambil tongkat itu. Dia berlari menuruni anak tangga, tanpa penerangan mengendap-ngendap menghindari para pengawal. Pintu rahasia keluar istana itu hanya di ketahui dan kedua para dayangnya.


Sinyal meriam di tepi lautan. Para siluman mengintip dari dalam lautan melihat tongkat sakti batu mustika permata hitam milik ratu pemangku bumi. Demikian juga makhluk sebangsa jin dan lainnya, pada malam itu mereka menyaksikan pengkhianatan sang putri pada sosok ratu yang sudah berkorban segenap jiwa melindunginya.


“Akhirnya engkau datang memenuhi janji mu. Bolehkah aku memegang tongkat itu seperti engkau memegang keris milik negeri Brahma?” tanya pangeran Edward.


Sang putri memberikan tongkat itu. Benda pusaka ghaib berpindah ke tangan sang musuh. Sang pangeran terlihat kesusahan memegangnya. Benda itu sangat berat namun saat di pegang sang putri tampak biasa saja.

__ADS_1


“Putri, tongkat ini berat sekali.”


“Aku mengangkatnya sangat ringan seperti kapas. Apakah pangeran sudah cukup mengamatinya? Aku takut ibu akan terbangun dan dia akan marah melihat tongkatnya hilang.”


Sang pangeran menghentakkan tongkat sebanyak tiga kali. Bebatuan terpecah belah, air ombak menggulung ke atas. Kilatan sinar petir halilintar tidak tentu arah di langit. Putri hampir terjatuh membentur karang jika pangeran Julian tidak datang menangkapnya.


“Kakak, kembalikan senjata Mangkubuana pada putri Alundra!” ucap pangeran Julian.


“Dia bukan putri Pemangku bumi. Dia adalah anak kutukan Wanua Ubun! Ahahah. Putri, terimalah kematian mu!”


“Kenapa engkau berubah pangeran Edward! Hiks!”


Alundra tidak percaya pangeran Edward berkhianat bahkan mengeluarkan kata kasar. Tongkat sakti itu di atur membunuh sang putri yang sudah terdesak tidak bisa mencari tempat persembunyian. Cahaya halilintar menggulung raksasa pemakan manusia. Ratu Diajeng terbangun melihat dari jendela bahwa kekuatannya di gunakan orang lain.


“Tidak mungkin Alundra melakukan semua itu” gumamnya menggunakan sihir terbang menuju lautan.


Kematian pangeran Julian di saksikan ratu Diajeng ketika akan melindungi Aludra dari halilintar api biru. Sumber kekuatan dari energi iblis itu langsung mengangkat jiwa melebur hingga tidak tersisa. Serang selanjutnya, sang putri di hantam sinar hitam sampai dia tenggelam ke dasar lautan.


Sang ratu penguasa lautan menaikkan tubuh Alunda ke atas permukaan. Sang ratu Diajeng membawanya ke istana namun pangeran Edward menghalangi hingga menyerang sang ratu. Tongkat yang sudah beraroma darah sang pemangku bumi kembali ke pemiliknya. Tongkat mustika menuju ke tangan sang ratu.


“Kenapa tongkat ini tidak bisa aku tahan! Arghh!” pangeran Edward tersambar petir api biru. Dia meninggal, tubuh terhempas masuk ke lautan.


Pemimpin negeri sudah binasa begitu juga kedua putra mahkota yang belum sempat di angkat menjadi raja. Pasukan Brahma dan semua penghuninya sebagian melakukan serangan mendadak dan ada yang melarikan diri dari negeri Brahma. Serangan yang tidak ada apa-apanya, para siluman negeri Mangkubuana memakan habis darah daging mereka.

__ADS_1


Bulan purnama merah merubah setengah wujud manusia siluman itu sangat haus akan darah. Kini negeri Mangkubuana menjadi setengah siluman vampire yang bangkit di bulan darah. Sang ratu menundukkan ratusan pasukan yang tersisa. Negeri Brahma di kuasai sang ratu beserta semua isinya.


__ADS_2