
Sang ratu membawa si bayi ke dalam istana. Dia menugaskan dayang pendamping kedua untuk menjaga sang bayi hingga ritual selesai. Bayi Alundra tampak tenang di dalam buaian sang ratu namun menggeliat di pindahkan ke sang dayang.
“Wahai makhluk kecil, kau harus menjadi anak yang penurut” ucap sang ratu.
Sang ratu Diajeng mempersiapkan ritual di halaman istana. Sang pengawal pendamping dan penjaga istana membawa kerbau yang di perintahkan. Pertengahan malam, tabu gendang, sihir di nyalakan bagai petir mengarah ke atas langit. Para penghuni makhluk halus bergentayangan, darah yang sudah tidak sabar mereka cicipi. Sang pengawal menebas kepala kerbau membanjiri tanah Mangkubuana. Jeritan makhluk halus, berbagai suara mencekam di selingi pekikan makhluk hitam melayang di udara.
Kaki sang penjaga bergetar, mereka ketakutan melihat penampakan itu.
“Jangan berlari atau kita akan di mangsa mereka” bisik sang pengawal.
......................
Seluruh tugas para kelinci baru selesai mereka lagi-lagi baru tersadar kehilangan sang bayi. Mencari di seluruh tempat sampai ke dalam hutan. Melihat penampakan makhluk halus bergentayangan di atas langit, para siluman berlari ketakutan masuk ke dalam rumah. Salah satu sosok makhluk yang melihat siluman itu mengincar, memukul pintu. Para siluman menahan pintu dari dalam.
“Cepat nyalakan perapian!” jerit siluman kelinci Priti.
Tiga kelinci lain menyalakan perapian, mereka memasukkan benda yang terbuat dari kayu maupun plastik agar nyala api semakin besar. Makhluk itu tetap mengganggu, jeritan ketakutan para siluman kelinci tidak kuat menahan energi makhluk yang mengganggu lebih besar.
“Dalam hitungan ketiga aku akan membuka jendela, kita langsung melarikan diri !” ucap Kila.
Mengikuti instruksi dari siluman Kila, setelah jendela terbuka semuanya berlari hingga bersembunyi berharap sosok mengerikan itu tidak menemukan mereka. Di tempat lain, kerajaan Mangkubuana memberikan pengorbanan darah kerbau membuat sosok yang mengejar siluman pergi ikut menikmati persembahan dari sang ratu.
“Apakah dia sudah pergi?” tanya Priti.
__ADS_1
“Ya, aku rasa sudah” jawab siluman lainnya.
Kenyang menikmati darah segar, seluruh penghuni tanah leluhur kembali setelah sinar purnama meredup. Selesai ritual, kekuatan sang ratu bertambah besar. Terutama batu mustika yang berada di tongkatnya. Dia merasakan dirinya lebih kuat. Sang ratu menyalakan sihir berlapis kekuatan lebih besar menyelimuti kerajaan Buana agar lebih aman. Tidak ada yang berani bahkan mendekat di kerajaan itu.
Para dayang yang terkena sihir menjadi siluman, mengelilingi sang bayi. Anak manusia yang di bicarakan terkena kutukan dari sang ratu itu membingungkan mereka mengapa malah mendapat perlindungan darinya.
“Dayang kedua, apakah engkau tidak salah kalau ini anak yang di kutuk itu? Kenapa aku malah merasa iba melihatnya? Tidak ada tanda-tanda kejahatan menyelubungi anak ini” ucap Ursa.
“Aku mengetahuinya dari para pengawal, lihatlah bentuk urat hitam di punggungnya. Ini adalah simbol tanda kutukan sinar yang keluar dari mustika hitam sang ratu” jawab dayang kedua.
Ada tiga dayang yang mengurus sang bayi namun baya itu menangis sampai wajahnya merah padam. Karena bingung bagaimana menenangkannya, sang dayang kedua memberikannya susu perasan keledai yang berada di dapur istana. Satu sendok dia suap ke sang bayi, tangisan sang bayi semakin keras hingga muntah di baju dayang Ursa.
“Uhuk, huekk! Menjijikkan sekali!” umpatnya segera meletakkan sang bayi ke atas kasur dengan kasar.
“Kumetra, coba kau saja yang menggendongnya."
“Tidak, luka ku belum sembuh. Aku tidak mau bayi ini terkena virus dari ku.”
Melihat sang ratu sudah berdiri semua para dayang menunduk berbaris menyambutnya. Ratu Diajeng mengangkat sang bayi, dia tersenyum membuai sampai tangisnya berhenti. Para dayang hanya saling menatap melihat perlakuan sang ratu yang biasanya bersikap kejam kini sangat lembut pada bayi milik Wanua Ubun.
Fajar telah tiba, sang bayi di kembalikan ke rumah gubuk tengah hutan. Beberapa kelinci siluman yang berhasil selamat dari cengkraman setan tadi malam satu persatu pulang ke rumah gubuk.
“Lihatlah, kami tadi malam seperti mahkluk gila mencari mu, di kejar setan dan tidur di sembarang tempat. Kau malah sudah ada di ayunan berselimut tebal dengan perapian yang masih menyala” ucap siluman kelinci Priti.
__ADS_1
“Hoaamm! selain mendapat kutukan, dia termaksud bayi yang beruntung. Aku mengantuk sekali, ijinkan aku berbagi selimut padamu wahai tuan putri” kata siluman kelinci Kila.
Siang terik, beberapa kelinci berhibernasi di dekat sang bayi. Diam-diam ratu Diajeng melihatnya. Dia menyulap gubuk menjadi sebuah rumah yang sangat mewah. Sepotong dahan kayu di ubah menjadi lemari, meja dan kursi. Siluman burung gagak di tugaskan mengisi lemari makan dan memenuhi makanan di atas meja. Penghuni hutan, sosok pohon penjaga perintahkan pindah di depan rumah. Sang ratu juga memutar kekuatan batu permata hitam mengeluarkan sinar lapisan hitam pelindung rumah.
Wajah sang bayi Alundra yang setiap hari dia rindukan. Tanpa terasa dia menjalani hari melihat pertumbuhan sang bayi tanpa melewatkan sedikitpun perkembangannya. Seluruh penghuni Mangkubuana tau kalau bayi kecil yang sering bermain berada di dalam kamar kebesaran sang ratu adalah anak dari raja Tumenggung.
“Mengapa hal ini bisa terjadi? Aku masih tidak percaya”
“Menurut kabar angin bahwa siapapun yang mendekatinya akan terkena kutukan”
Bisik-bisik para dayang yang mengetahui tentang jati dirinya membuat para dayang menjaga jarak pada sang bayi. Banyak yang menghindarinya sampai membiarkannya menangis di kamar sang ratu. Hari ini dayang Kumetra dan dayang kedua memindah tugaskan menjaga sang bayi pada dayang Ursa dan dayang ketiga.
Dua dayang yang di tugaskan itu mengetahui waktu tertentu kapan saja sang ratu kembali ke istana. Tangis rasa haus, lapar dan risih karena popoknya tidak di ganti sampai waktu tengah hari.
“Ursa, bayi terkutuk itu terus menangis. Aku takut terjadi sesuatu padanya” ucap dayang ketiga.
“Kau saja yang melihatnya, aku tidak mau hidup menanggung kutukan jika berada di dekatnya” kata dayang Ursa berjalan menuju kamarnya.
Dayang ketiga berpikir ulang mendekati sang bayi, dia ikut masuk ke kamar para dayang. Mereka terlelap sampai melupakan tugasnya. Karena sudah sangat harus, sang bayi merangkak menuruni kasur sang ratu. Dia terbanting ke lantai, kedua dengkulnya terluka. Tangisan menahan rasa sakit, sang bayi merangkak ke arah jendela. Bayi Alundra adalah bayi yang sangat pintar. Agar bisa mencapai jendela berukuran besar itu, dia membuka laci satu persatu, meraihnya tangan berpegang menggapai laci di atasnya. Sang bayi sudah berada di pinggir jendela, tangisannya berhenti memandang ke lautan lepas. Air laut yang menggulung, burung berterbangan di atas langit. Sang bayi ingin menuju kesana menangkap hewan yang terbang seperti kebiasaannya. Selangkah kaki tidak bertumpu di tepi, sang bayi terjatuh dari ketinggian 500 meter.
“Alundra!” teriak sang ratu merasa bayi itu dalam bahaya.
__ADS_1