
Bahagia itu sederhana, bisa berkumpul dengan orang terkasih. Walau kutukan tidak akan pernah hilang di hidupnya.
Malam yang dingin para siluman bergelombol berdekatan mencari kehangatan. Tidak terkecuali sang bayi belum terlelap. Dia masih aktif berlari di depan rumah menangkap kerlap-kerlip cahaya kunang-kunang. Rasa penasarannya melihat hal-hal bersifat baru, dia berlari sampai ke hutan. Mencium aroma manusia, siluman serigala berlari memangsanya. Satu meter dari sang bayi, siluman itu tewas di bunuh sang ratu. Dari balik pepohonan, sang ratu menampakkan diri melihat sang bayi.
‘Bla, bla..” lontaran kata yang tidak jelas sambil senyumnya melihat sang ratu.
Mereka melangkah saling berdekatan, tangan sang bayi terulur meminta gendong. Kakinya jinjit menempelkan tubuh ke sang ratu. “Gen, dong!”
Sang ratu melenancapkan tongkatnya ke tanah. Dia menggendong bayi Alundra, mengangkat tubuhnya terasa air mengalir hangat mengenai bajunya. Untuk pertama kalinya sang ratu terkena buang air kecil bayi Alundra, dia di terawakan siluman burung gagak yang memperhatikan dari atas pohon.
“Hahahah…”
Gubrak___
Sang siluman terhempas, tubuhnya terkena lumpur sehingga wajahnya berwana hitam. Sang ratu mengganti popok sang bayi. Menyihir selembar daun menjadi sebuah gaun kecil berwarna putih. Kepala di hiasi bando yang terbuat dari akar-akaran. Selipan akar terdapat bunga-bunga indah kecil yang menghiasinya. Bayi Alundra terlelap di gendongan sang ratu. Dia di letakkan di keranjang bambu tanpa sepengetahuan para siluman kelinci.
“Gawat! Bayi Alundra menghilang!”
Para siluman mencarinya, mereka tidak mengetahui bayi itu sudah tidur di keranjangnya. Selama berjam-jam mencari hingga salah satu kelinci melihat sang bayi tertidur.
“Huffhh, kami sudah mencari mu di mana-mana namun engkau tertidur pulas seakan tidak terjadi apapun!” omel siluman melihatnya.
__ADS_1
Mimpi raja Tumenggung.
Tubuhnya bermandikan keringat. Dia berlari menghindari makhluk aneh merangkak tanpa kulit mengejarnya. Tengkorak hidup mengeluarkan belatung dari sela-sela bola mata bolong dan rahang. Sang raja berlari sekencang-kencangnya. Tidak ada penerangan, dia berlari di dalam kegelapan. Tertabrak benda asing, sorot mata merah di kegelapan mencekiknya.
“Arghh! Lepas!” teriaknya ketakutan.
Kakinya di tarik, sang raja masuk ke dalam lubang di dalam tanah. Dia merontah menendang namun dia semakin terperosok. Di dalam sana di penuhi hantu berterbangan menyerot hawa murninya. Tarikan kuat, sang raja menjerit kesakitan. Pengawal membangunkannya, raja terbangun dengan jeritan.
“Ahhh!” nafas memburu tersengal-sengal.
“Pengawal! Cepat katakan pada para prajurit untuk segera menyelesaikan senjata perang! Dan sekarang periksa seluruh benteng! Langsung saja bunuh jika ada yang mencurigakan!”
Suara aneh tidak henti mengganggu, sang raja seperti orang gila menyerang makhluk yang tidak terlihat kdi dalam ruangan kebesarannya. Untuk melampiaskan amarah pada sang ratu, si raja Tumenggung menemui Garuda. Dia menyiksa hewan itu seperti memanggang seekor ayam hidup-hidup.
Di bawah kandangnya di penuhi tungku api. Dia menyalakan bara yang sangat besar. Walau api tidak bisa membakar tubuh Garuda akan tetapi membuat dirinya melemah karena api berlawan di dalam tubuhnya. Garuda memaksa keluar, suaranya memekik di dalam tanah dia menahan tetesan rasa sakit menusuk tubuh menatap tajam sang raja.
“Susah sekali membunuh mu! aku harus menyiapkan senjata yang ampun untuk menebas kepala mu lalu aku berikan sebagai hadiah untuk si Diajeng iblis itu!”
-l
......................
__ADS_1
Sinar hitam kemerahan menyala di langit Mangkubuana. SIhir berterbangan, makhluk halus mengganggu manusia di sekitar. Sang ratu masih merasa aneh mengapa sampai saat ini belum juga menemukan Garuda. Di ujung lautan yang tidak terbatas, dia sangat menyesal melepaskan hewan kesayangannya itu.
Besok adalah bulan purnama ketujuh bersinar di langit. Sang ratu menyiapkan ritual sebagai pengganti darah manusia yang selalu di incar para penghuni ilmu hitam leluhur. Sang penjaga istana dan pengawal pendamping di utus untuk mencari empat puluh ekor kerbau jantan. Masing-masing dari mereka dibelaki satu kotak keping emas.
Sang ratu memerintahkan seluruh rakyat untuk tidak keluar rumah sebelum matahari terbit. Merka juga di suruh menyalakan obor di sekeliling rumah. Tidak ada yang boleh keluar walau keadaan terdesak sekalipun.
“Priti, malam apa ini? kenapa aku tidak mendengar suasana ramai pasar di siang hari. Dari kejauhan tidak ada aktivitas jual beli bahkan tidak ada satupun rakyat yang keluar”
“Aku tidak tau Kila, kita cari bahan pangan di hutan saja.”
Di dalam hutan, para siluman berbagi tugas, hari ini mereka bergotong royong hingga mengabaikan sang bayi. Memperbaiki genteng yang bocor, mencuci pakaian di sungai, mencari kayu bakar, berburu dan berbagai kesibukan lainnya. Bayi Alundra terbangun, dia berjalan tertatih meninggalkan kasur. Berjalan menjauh dari rumah, tidak ada yang melihatnya. Sang bayi berjalan menuju arah perbatasan wilayah hutan Mangkubuana.
Aroma darah manusia tercium menghidupkan siluman di dalam hutan. Pohon yang bergerak, hewan-hewan mengintai, angin bertiup menjatuhkan sang bayi sampai dia menangis terkena pukulan dahan dan ranting. Tangisan bayi Alundra terdengar oleh sang ratu. Kehadiran bayi kecil itu di kerubungi para siluman di dalam hutan. Dia sangat ketakutan melihat berbagai bentuk mereka yang menyeramkan, tangisannya pun pecah sejadi-jadinya.
“Minggir, sang ratu datang!” ucap siluman pohon penguasa hutan.
Hari akan senja, dia memutar cahaya kekuatan sinar akar bumi menerangi hutan. Nanti malam aka nada ritual sementara sang bayi berada di luar.
“Kenapa makhluk kecil ini bisa sampai tersesat kesini?’ ucap sang ratu.
“Kami tidak tau yang mulia. Hampir saja kami jadikan dia santapan.”
__ADS_1