
“Apa maksud mu wahai kepala kasim? Raja akan membunuh ku jika tau aku engkau mati karena minum racun dari ku” ucap sang tabib.
“Kalau begitu biarkan saja aku menderita di dalam kesakitan hingga ajal menjemput ku”
......................
Keadaan istana Mangkubuana sering menampakkan bayangan hitam terbang dari sela benteng. Para mata-mata sang raja mengabarkan dengan nada bergetar. Beberapa dari mereka yang tidak tahan, berlari terbirit-birit hingga melarikan diri.
“Ayo, kita ini adalah umpan yang sengaja raja perintahkan mengawasi istana Mangkubuana.”
“Kau benar, selangkah saja kepala kita sudah terlepas di makan sosok mengerikan itu.”
Setengah pasukan berpaling dari sang raja Tumenggung. Tidak semua dari mereka dengan mudah dapat melarikan diri, sang raja mengirim algojo untuk membunuh para pemberontak hingga sebagian pasukan yang lain ketakutan menurut ke istana.
Setiap hari darah musuh maupun darah rakyat Buana tumpah di tanah Mangkubuana. Pintu ghaib terbuka mengeluarkan sosok penjaga leluhur merasuki sang ratu di sisi lain makhluk halus bergentayang merasa bebas karena bergentayangan di wilayah itu.
“Ratu, kenapa tidak kau habisi saja bayi terkutuk itu? Kau manusia lemah, menjadi budak mahluk kecil dari titisan pria yang menghancurkan mu!” bisik sosok makhluk yang menyatu dengan sang ratu Diajeng.
“Ya, engkau benar. Aku harus membunuhnya untuk membalaskan dendam ku"
Sang ratu Diajeng terbang menuju bayi Alundra, si siluman burung gagak melihat gelagak sang ratu memegang tongkat batu mustika hitam mengeluarkan kilatan petir membuat dia mengikutinya dari belakang.
“Apa yang akan di lakukan ratu pada bayi itu?” gumam siluman.
Sekujur tubuh meemperlihatkan urat berwarna hitam. Pupil mata merah, dia menciptakan halilintar membawa angin dan badai. Sang wanita tua duduk di salah satu gubuk buatannya melihat ke atas langit akan perubahan cuaca di daerah rumahnya.
“Bayi terkutuk itu membawa bencana yang besar, aku sudah tidak mau berurusan lagi dengannya!” sang wanita tua memutuskan pergi sejauh mungkin keluar dari hutan.
Menahan udara dingin dan rasa haus, bayi Alundra menangis merasakan sosok iblis mendekatinya. Ratu Diajeng mengangkat tongkat berniat menusuk perut sang bayi. Melihat hal itu, siluman burung gagak terbang menutupi tubuh sang bayi hingga dirinya yang tertusuk tongkat tajam itu.
__ADS_1
“Arghh!”
“Hei siluman bodoh, enyah lah kau!” sang ratu membanting tubuhnya menjauhkan dari sang bayi.
“Ratu, tolong kasihani lah dia. Ijinkan aku yang merawat hingga dia menjalani masa kutukan dari mu” ucap sang siluman.
Mata belas kasih si bayi Alundra meluluhkan iblis di hatinya. Ratu Diajeng memutar tubuh pergi dari tempat itu. Sementara sambil menahan luka, sang siluman terbang mencari serbuk sari madu untuk menenangkan tangisan sang bayi. Dia tersenyum sedikit meringis kesakitan sambil menggerakkan ayunan.
“Aku akan kembali lagi setelah mengobati luka ku” ucapnya lalu terbang dari jendela.
Sendirian di intai gangguan berbagai makhluk yang menginginkan tubuh kecilnya. Seekor serigala sudah menunggu bayi itu sendirian. Air liurnya sudah menetes, perlahan dia mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Lengkingan tangis bayi Alundra terdengar di telinga sang ratu.
“Keanehan ini membuat aku tidak tenang! Mengapa bayi terkutuk itu sekarang mengganggu ku?”
Di atas tahta, dia menyihir salah satu pengawal berubah menjadi seekor kelinci. Memerintahkannya untuk menemui bayi Alundra yang berada di tengah hutan. Dalam beberapa detik dia memindahkan sang pengawal yang sudah menjadi wujud siluman kelinci berada di depan sang bayi.
Dia adalah pengawal ajudan bertubuh besar kini menjadi seekor kelinci putih kecil yang menggemaskan. Semula serigala akan memakan sang bayi kini dia menoleh memangsa si kelinci.
“Wahai ratu tolong selamatkan lah aku!” teriaknya.
Ketika serigala akan melompat menerkamnya, siluman kelinci kembali ke wujud asalnya. Dia mengambil pedangnya lalu membunuh sang serigala.
Krakkk, brugghh___
Bangkai serigala itu di buang ke luar. Dia membersihkan ruangan sang bayi, menghidupkan perapian kemudian mengayun tempat tidur sang bayi sampai dia ikut terlelap berubah wujud menjadi kelinci tidur di bawah kakinya.
Malam bertabur bintang, sang ratu mengurungkan niat pergi menemui bayi Alundra ketika mendengar langkah sepatu Pak Poh mendekati ruangannya. Dia menabur serbuk tidur ke sekitar para penjaga dan pengawal yang berdiri di depan ruangan sang ratu. Sang ratu pun berpura-pura tertidur di atas ranjang, perlahan pak Poh membuka pintu. Ada belati di tangan kanannya, pak Pok bersiap menancapkan pisau di perut sang ratu. Tangannya di hentikan oleh gumpalan asap hitam yang terasa membakarnya.
Ratu Diajeng bangkit menerbangkan pisau mencongkel salah satu bola mata pak Poh. Bola matanya terjatuh di lantai, sang ratu menginjaknya hingga pecah.
__ADS_1
“Arghhh! Kurang ajar! Berani sekali kau!” bentaknya.
“Ahahah, paman bagaimana rasanya memiliki satu mata? Atau aku akan melengkapi diri mu agar di juluki menjadi si buta dari gua hantu? Hahahah”
“Tunggu pembalasan ku!”
Sekte yang sudah di bangun Pak Poh melebihi bala tentara pengikut sang ratu.
Pada malam itu juga, kerjaan di Mangkubuana di kepung hingga perang badar tumpah di tanah yang seolah mencari tumbal rakyatnya sendiri. Ratu Diajeng menyihir para pasukannya menjadi berbagai bentuk wujud siluman hewan. Seluruh para pengikut pak Poh tewas di mangsa para manusia berwujud siluman tersebut. Tinggalah pak Poh seorang berada di tengah para prajurit siluman. Dia di serbu, kulit dan dagingnya di cabik hingga habis.
“Pengawal pendamping kenapa engkau tidak bersama sang ratu?” tanya siluman gagak.
“Di istana baru saja bertempur melawan sekte pak Poh. Seluruh pengukit ratu berubah menjadi siluman. Aku tidak mengira ratu akan menyihir semua orang “
“Apakah Cuma engkau yang belum berubah wujud? Aku jadi penasaran seperti apa sekarang wujud penjaga istana”
“Aku tidak melihatnya karena terburu-buru menghindari asap hitam yang masuk ke seluruh penghuni istana. Oh ya siluman gagak, apa yang terjadi dengan punggung mu. Aku lihat luka mu cukup serius.”
“Tidak apa-apa ini hanya luka ringan saja.”
Di dalam ruangan mereka berbincang-bincang hingga suara tangisan bayi Alundra menarik pandangan sanga pengawal ratu ingin melihatnya.
“Hei lihat, ada kelinci di bawah kakinya.”
Menyadari ada yang datang, siluman kelinci berubah wujud posisi berjaga. Dia menggendong sang bayi, mengeluarkan taring yang panjang bersiap menyerang.
“Hei! Mau kau bawa kemana bayi itu? Kami adalah penjaganya. Cepat serahkan bayi Alundra kepada ku!” ucap siluman gagak.
Siluman kelinci tidak mempercayai perkataan mereka. Dia membawa lari sang bayi di kejar oleh sang pengawal dan siluman gagak. Saling menyerang sampai sang bayi hampir terlempar ke dalam jurang. Kedatangan ratu Diajeng menghentikan mereka. Siluman kelinci mendekatinya memberikan sang bayi padanya.
__ADS_1