Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 31


__ADS_3

“Apakah kamu belum memahami antara kebatilan dan kebenaran?” ucap sang ratu Diajeng.


“Maafkan aku ibu. Aku tau aku tau kesalahan ku ini mengakibatkan kehancuran sebuah negeri.”


“Bukan hanya hancur, pertumpahan darah yang semua tidak di inginkan tercipta oleh mu. Engkau bukanlah ibu mu. Sedikit saja engkau tidak mendengar nasehat ku. Memberikan senjata pusaka pada musuh”


“Selamanya engkau adalah ibu ku. Engkau selalu menyayangi, menjaga dan melindungi ku”


“Tidak Alundra. Aku adalah musuh ibu kandung mu yang mengutuk mu. Kembalilah bersama ayah mu si raja Tumenggung.”


Mendengar ucapan sang ratu maka dia menggelengkan kepala lalu berlari menaiki kuda di susul oleh dayang Kumetra dan Suga. Sangat mustahil baginya bisa menyebrangi lautan. Sang putri tanpa memperdulikan keselamatannya menaiki kapal bajak laut. Pengawal pendamping Suga berubah wujud menjadi siluman. Kehadiran sang putri tidak di ganggu karena takut dengan kerajaan Pemangku bumi.


“Aku mengenalinya, sosok pengawal istana sang ratu kegelapan. Kita jangan cari perkara dengan mereka jika ingin selamat” bisik salah satu bajak laut.


Sepanjang malam tanpa di sadari sang putri karena menahan hawa dingin di lautan lepas tidak merasakan Suga membungkus tubuhnya dengan sayap raksasa miliknya. Hingga di pagi hari di aberubah wujud menjadi manusia. Kapal berlabuh di tepi pesisir pantai selatan. Sang putri menggiring kudanya turun dari atas kapal ke daratan.

__ADS_1


“Kalian berdua jangan halangi jalan ku. Aku akan menyelesaikan urusan ku dengan sang raja.”


“Putri kembali lah sebelum terlambat. Jauh di dalam lubuh hati ratu Diajeng sangat menyayangi mu” ucap Kumetra.


Sang putri menunggangi kuda meninggalkan mereka. Suga menyuruh Kumetra naik punggungnya untuk mengejar sang putri. Di depan gerbang istana, Suga memberikan waktu satu jam untuk menemui raja jika tidak dia akan masuk ke dalam istana walau harus berperang dengan para pasukan.


Setiap jiwa yang ingin melawan kekuatan besi putih pemilik senjata murni harus ada yang di korbankan. Suga ingat dia memecahkan tubuhnya berkeping-keping demi menyelamatkan sang ratu dan tuan putri. Kini dia hidup kembali di dalam reinkarnasi yang tercipta di tanah leluhur Pemangku bumi.


Alundra masuk ke dalam mencari ayahnya. Sesampainya di sana tanpa rasa lalu atau mengingat insiden di masa lalu kehadirannya yang tidak di inginkan semua itu tidak di pedulikannya.


“Ayah! Ayah ku mohon maafkan ratu Diajeng dan berdamailah dengannya. Ayah, setiap malam aku bermimpi melihat makhluk perkasa, kepakannya membentang menutupi langit. Makhluk itu seperti terperangkap di wilayah Wanua Ubun.”


“Ternyata kau memang putri terkutuk itu. Kau tetap membela musuh beralih ingin menyelamat makhluk itu. Pengawal , cepat kurung dia di penjara bawah tanah. Biarkan dia di panggang hewan gila itu.”


Hati beku, sosok ayah yang tidak pernah menganggap sang putri Alundra adalah anak kandungnya. Untuk yang ketiga kalinya sang putri di perintahkan masuk ke dalam sel berapi. Dia memberontak namun para pengawal memukulnya dengan kasar. Sang putri di dorong masuk ke dalam hewan raksasa yang menyemburkan api panas dari mulutnya.

__ADS_1


Para pengawal itu cepat-cepat pergi meninggalkan ruang bawah tanah karena tidak tahan merasakan api yang sangat panas. Merasakan ada kehadiran sosok lain, Gadura membuka mata lebar memandang kekuatan sinar Pemangku bumi ada di belakangnya.


Garuda berhenti menyemburkan api, dia bergerak mendekat ke sang putri. Hentakan kakinya mengakibat kan gempa bumi. Perlahan tangan sang putri menyentuh paruhnya. Dia berusaha melepaskan rantai yang mengikat makhluk itu.


“Tenanglah, jangan bergerak atau kita kan terkubur di dalam sini” ucap sang putri.


Merasa ada yang tidak beres, Suga menyerang pasukan dan pasukan kerajaan. Dia di hujani seribu anak panah. Salah satu panah mengenai tubuhnya, kekuatan besi putih melemahkannya hingga Suga tidak bisa berkutik. Kumetra merampas perang seorang pasukan yang bersiap akan menebas lehernya. Kumetra menguasai ilmu bela diri melawan semua penyerangan. Besi putih kini menggores tangannya. Para pasukan berpikir dia ikut sekarat beralih di serah sang putri dari arah belakang.


Syat__syat__


Para masukan dan panglima perang gugur di benteng perbatasan. Kumetra mencabut anak panah yanh masih tertancap di tubuh Suga.


“Aku harus membawa mu pulang atau sebentar lagi engkau akan binasa” ucap sang dayang.


“Tidak! Aku harus menyelamatkan sang putri.”

__ADS_1


__ADS_2