Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 12


__ADS_3

Kutukan yang merampas kebahagiaan. Kesedihan akan terus berlanjut di alami tanpa pengampunan. Sihir-sihir mencoba menghilangkan tapi tidak ada yang berhasil.


Putri Alundra di bawa oleh kasim pendamping raja ke tengah hutan yang sangat jauh dari Istana. Sang raja memerintahkan untuk membunuhnya dan berpura-pura membawa putri palsu mengganti dengan anak perempuan lain yang tinggal di desa.


Sang kasim mengendarai kuda milik sang raja menggunakan jubah hitam besar menutupi sang bayi yang di gendong dengan kain di bagian depan. Ada pedang yang sudah dia persiapkan di balik punggungnya. Sesampainya di hutan, sang kasim bersiap mengayunkan pedang. Melihat tatapannya yang penuh rasa belas kasihan membuat dia tidak tega untuk membunuhnya. Matanya yang berbinar, tangis meluluhkan semakin memberatkan sang kasim. Tangannya lemas, pedang terlepas dari tangannya.


“Bagaimana bisa aku membunuh anak yang malang ini?” gumam sang kasim.


Dia meninggalkan bayi itu begitu saja. Sepanjang perjalanan hati sang kasim tidak tenang alih-alih sang bayi jadi santapan hewan buas. Dia berbalik arah menuju hutan menuju ke tempat bayi yang dia tinggalkan tadi. Melihat sang bayi terisak tangis, sang kasim membungkus tubuhnya yang dingin dengan jubah miliknya.


“Dimana aku harus menitipkan bayi ini dengan tenang?”


Sinar bola api menyala di hadapannya, ketika dia mendekat. Bola api itu terpecah menjadi kunang-kunang yang berterbangan. Kunang-kunang itu seolah menggiringnya membuka jalan menuju ke sebuah gubuk kecil ada sumur yang berada di depannya.


“Aku harap penghuni rumah ini mau menerima tuan putri Alundra”


Di luar rumah tampak cahaya lampu remang-remang, ada burung gagak berterbangan. Saat dia akan mengetuk pintu, seorang wanita tua menampakkan diri dari balik pintu melotot menatapnya. Dia memperhatikan bayi yang di gendong. Sang kasim itu risih bergerak satu langkah mundur ke belakang.


“Ada keperluan apa sampai seorang petinggi istana datang kesini?” ucapnya bersuara serak.


“Nek, aku mau minta tolong menitipkan anak ini sampai dia dewasa” jawabnya sedikit ketakutan.


“Hahaha, aku mendengar beritanya. Dia adalah bayi yang terkena kutukan dari ratu berilmu hitam”

__ADS_1


“Ya, engkau benar sekali. Apakah kau bersedia merawat dan membesarkannya?”


“Memangnya apa imbalan yang aku dapatkan?”


“Aku akan memberikan seluruh harta ku pada mu. Asal bayi ini selamat."


“Ahahah, harta saja tidak cukup. Bawakan aku tiga lembar bulu Garuda. Si hewan warisan tanah leluhur MangkuBuana yang sakti itu! Aku tau sang raja menyembunyikannya di suatu tempat”


“Tapi, tidak mudah mendapatkannya. Raja tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam sana”


“Kalau begitu kau cepat pergi dan bawa bayi ini! sebelum aku berubah pikiran untuk memakannya!”


Melihat gelagat wanita itu sang kasim berpikir dua kali untuk menitipkan sang putri. Dia juga tidak punya pilihan lain selain pasrah agar si wanita tua menepati janji sekalipun setelah mendapatkan yang dia minta pasti nyawanya berada di ujung tanduk.


“Aku akan menunggu mu. Jika engkau tidak kembali maka anak ini tinggal menjadi tengkorak. Ahahah.”


Dia menyelipkan tanda pengenal kerajaan Wanua Ubun di samping sang bayi. Sang kasim meninggalkannya dengan harap cemas. Sementara sang wanita tua sudah berniat memasak hati bayi Alundra demi ramuan ilmu sihir . Akan tetapi ketika dia bersiap menusuk hatinya, tiba-tiba dia merasa iba dengan sang bayi. Dia melemparkan pisau ke tanah lalu memukul kepalanya sendiri.


“Kenapa aku tidak bisa menghabisinya?”


Bayi Alundra terisak tangis, dia sangat kehausan dan kedinginan.


“Hei diam lah monster kecil!” sang wanita tua membanting pintu.

__ADS_1


Dia keluar rumah menunggu tangis sang bayi reda dengan sendirinya. Utusan sang ratu Diajeng, salah satu mata-mata siluman jelmaan burung gagak melihat sang bayi. Wajah sang bayi yang cantik penuh belas kasih. Tangisan sang bayi tidak berhenti, wajahnya penuh berlinangan air mata. Dia mengurungkan niat mengatakan pada sang ratu. Sang siluman terbang ke salah satu pohon yang di penuhi tumbuhan berbunga. Dia menarik setangkai bunga yang di penuhi dengan putik sari beraroma segar. Dari jendela, dia memberikan bunga menetes di mulutnya. Sang bayi yang sudah sangat kehausan, menghabiskan sari putik manis nan segar.


Bayi Alundra baru berumur sepuluh hari, tapi perjuangannya agar bertahan hidup berusaha meneguk sendiri sari putik itu untuk melepaskan dahaga meski Cuma beberapa teguk dari bunga yang diberikan. Setelah bayi Alundra berhenti menangis, sang siluman burung gagak terbang menuju istana Mangkubuana mengabarkan pada sang ratu. Mendengar berita itu, sang ratu tersenyum menyeringai. Dia sangat bahagia karena kutukan pada sang bayi si raja Tumenggung berjalan dengan lancar.


“Aku jadi penasaran dengan bayi itu” ucap sang ratu.


“Wahai ratu Buana, dia hanya seorang anak bayi kecil yang tidak berdaya. Aku mohon jangan sakiti anak yang malang itu” ucap sang siluman.


“Hahah, kenapa engkau begitu membelanya? Aku jadi penasaran ingin melihatnya, mengapa engkau begitu melindunginya.”


Sang ratu Diajeng terbang menggulung kekuatan ombak lautan menuju ke sang putri. Di balik awan yang gelap , malam hari sepi hening tidak ada cahaya rembulan yang bersinar menerangi langit. Bayi Alundra di letakkan di sebuah keranjang yang terbuat dari bambu di pinggir jendela. Bayi itu tampak terlelap, sambil menahan hawa dingin. Sementara di dekat perapian, si wanita tua tidur sangat nyenyak dengan selimutnya yang tebal. Sang bayi Alundra menggeliat, tanpa sadar ratu Diajeng memperhatikannya penuh iba dengan mengeluarkan suara seperti menenangkannya. Dia memindahkan selimut sang wanita tua ke tubuh sang bayi, memadamkan api yang menyala di perapian lalu pergi kembali ke istana.


Di pagi hari yang cerah, si wanita tua terbangun menahan hawa dingin. Dia melirik ke arah jendela, matanya melotot kebingungan seakan tidak percaya selimutnya berada di keranjang sang bayi.


“Bagaimana bisa selimutku berpindah dengan sendirinya?”


......................


Di dalam ruang kebesaran, sang ratu memutar tongkatnya. Dia berpikir ulang mengapa merasa sangat kasihan dengan sang bayi sampai menolong memberikannya selimut. “Apa yang sebenarnya terjadi?” gumamnya.


Di dalam kutukan mengerikan itu, ada sihir yang mengatakan bahwa sang putri mendapat belas kasih sayang. Seolah sang ratu Diajeng terkena kutukannya sendiri karena menemui bayi itu. Orang-orang yang sudah mendekati bahkan mengenal nya akan terkena rantai sihir yang salin menyambung bertautan.


Dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menemui bayi yang sudah dia kutuk itu. Namun, bayangan wajah sang bayi membuatnya merasa ingin menemuinya dalam rasa kerinduannya.

__ADS_1


“Ini adalah kesalahanku, mantra yang di tuju pada sang bayi Alundra seperti memakan diriku” ucap sang ratu.


__ADS_2