Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 35


__ADS_3

Senopati Kuma terluka parah, karena terkena cabikan beracun dari tubuh yang terkutuk itu maka dia berubah menjadi setengah setan yang haus akan darah. Di sela pengobatan menggunakan akar lautan. Dia di ikat supaya tidak memberontak tanpa sadar menghisap darah siapapun yang ada di sekelilingnya. Di dalam lautan yang luas itu, hanya senopati Kuma dan penjaga dayang Ibri yang sang ratu Diajeng percaya.


Sekujur tubuhnya sedang mengalami perlawanan darah hitam iblis yang lebih menguasai. Teriakan kesakitan di dengar seluruh makhluk di lautan. Siksaan mengeluarkan bekas sosok yang di kutuk. Sementara di depan gerbang istana Mangkubuana, rakyat menunggu janji sang ratu.


Tulang belulang pada setiap orang tua yang kehilangan anaknya di letakkan di hadapan mereka. Tangisan, jeritan, rasa marah dan dendam. Mereka tidak terima kehilangan anak mereka akibat ulah jahat sang putri.


“Pada dasarnya dia adalah putri yang terkutuk. Selamanya menjadi bencana di tanah leluhur ini!” teriak para rakyat.


Ratu Diajeng tidak terima dengan perkataan mereka, sang ratu menghantam tubuh para rakyat itu hingga sekarat.


“Wahai yang mulia maafkan lah mereka, jika engkau bersikap seperti ini maka para rakyat akan memasang balik badan memusuhi hingga tanah terkuat ini lebih banyak lagi menumpahkan darah” bisik Suga.


“Mulai hari ini aku akan memastikan tidak ada korban jiwa akibat sang putri. Aku juga memberikan dua pilihan kepada para orang tua yang kehilangan anaknya. Pertama aku akan membangkitkan mereka menjadi siluman sebagai pekerja istana atau yang kedua mereka di semayamkan secara layak di halaman istana dan orang tua nya menjadi sosok-sosok prajurit yang siap melayani negeri yang di kuasai Mangku buana.”


Keseluruhan para orang tua itu memilih agar anaknya hidup kembali meskipun harus berpisah sebagai tentara negeri. Atas kesepakatan itu maka sang ratu menghidupkan seluruh tulang tengkorak anak-anak kecil menjadi wujud siluman pasukan tentara Mangkubuana. Sebelum berpisah, mereka memeluk erat anak-anak mereka walau para jiwa baru itu tidak mengenal atau mengetahui siapa yang ada di depannya.


“Maka pada hari ini berpisah lah kalian dengan anak-anak kalian.”


......................

__ADS_1


“Ahahah, hahah. Dasar ratu bodoh!” Nyi uban duduk di singgah sana dekat iblis bermata satu menertawakan sang ratu Diajeng.


Mereka sudah bersiap menyerangnya kembali, tepat ketika sang ratu Selatan melakukan pertapaan di salah satu keraton ghaib di dalam pusara laut terdalam. Keputusan sang ratu membangkitkan sang putri menggunakan kekuatan leluhur, dia menjelma bersatu di dalam tulangnya yang hampir di makan belatung dan hewab-hewan di tanah menjadi utuh kembali. Paras menyerkam di dalam menara istana, setengah kekuatan iblis masih menguasai dirinya. Tidak tahan di kurung di dalam menara menjulang, sang putri mencakar-cakar dinding melukai dirinya sendiri. Karena tidak tahan haus meneguk darah, dia menggigit urat nadinya sendiri mengisap darahnya hingga dia pingsan.


Dayang Kumetra yang mengamatinya dari luar menangis melihat keadaan yang begitu miris sosok putri yang sangat di sayangi sang ratu. Ingin sekali dia masuk ke dalam sana memberikan darahnya untuk menghilangkan dahaganya. Akan tetapi tidak ada satu pun kekuatan yang bisa menandingi kekuatan sang ratu Diajeng.


Berpikir sang putri akan mati setelah menghisap darahnya sendiri, Kumetra histeris meminta sang ratu menyelamatkannya. Begitu pun penjaga istana, Suga dan para siluman kelinci yang bersedia memberikan darah mereka demi sang putri. Melihat ketulusan mereka, sang ratu memutar tongkat mustika hitam mentransfer kekuatan ke dalam tubuh mereka sampai mereka terjatuh karena tidak sanggup menerima kekuatan terbesar.


Nyi Uban berhasil menerobos sekat menara istana masuk ke dalam tubuh sang putri. Dia menguasai jiwanya, keluar dari dalam menara leluasa bergentayangan di atas istana. Pukulan tabu sinyal darurat, sang ratu menahan serangan liar sang putri yang sudah merenggut banyak darah siluman.


“Hentikan Alundra!” teriak sang ratu.


“Ahihihih! Apakah aku tampak seperti anak mu yang terkutuk?”


“Ibu___”


Tipuan Nyi Uban berhasil meluluhkan hati sang ratu. Dia mendekatinya memeluk hingga membelai rambutnya yang panjang. Tusukan senjata iblis mata satu menembus jantung sang ratu, seketika tubuh sang ratu membeku di terjatuh ke dalam lautan di tangkap penjaga duyung Bridi. Keadaan yang sangat genting seperti ini biasanya sang ratu Selatan yang membantu. Tidak sampai pertapaan ghaib selesai, dia tidak mengetahui nyawa ratu Diajeng sedang berada di ujung tanduk.


Sosok pemimpin di ambang batas maut. Suga dan penjaga istana mengambil alih kepemerintahan menggunakan simbol penguasa milik sang ratu. Membuat sebuah benteng pertahanan berharap selamat dari kejahatan Nyi Uban dan iblis bermata satu. Mereka sekuat tenaga menyelamatkan negeri-negeri yang ingin di hancurkan musuh.

__ADS_1


“Ratu pemangku Bumi tidak boleh musnah begitu saja__”


Tangis sang ratu duyung utara. Dia mengeluarkan jiwa duyung keabadian untuk ratu Diajeng. Pengorbanannya itu di saksikan para penguasa duyung lain di bawah sinar bulan purnama yang sangat terang. Kepergiaan duyung Utara membuat air mata para duyung lain menetes menimbulkan lautan mutiara di atas permukaan laut.


Bukan hanya bola jiwa duyung keabadian saja yang di masukkan ke tubuh sang ratu. Bola jiwa duyung itu hanya masuk di sisi manusianya tidak pada sisi hitamnya. Dia memberi pesan sebelum mengeluarkan jantungnya sendiri agar di berikan pada sang ratu.


“Penjaga inti Anyelir tolong bantu aku memasukkan jantung ku ini ke mulut sang ratu pemangku bumi"


Dua sisi jiwanya yang bertolak belakang kini bangkit kembali. Detak jantung duyung yang di persembahkan menghidupkan kembali sang ratu hingga dapat melawan Nyi Uban dan pasukan siluman merah.


“Keluar lah kau dari dalam tubuh Alundra!” teriak sang ratu Diajeng.


“Selamanya engkau adalah ibu ku!” Kalimat yang selalu terngiang di pikirannya.


Kutukan itu hancur begitu pula tubuhnya berkeping-keping. Berpikir dapat menyembuhkan sang putri dengan mantra penghilang tapi sang putri bisana terbawa kutukannya. Kehilangan kedua kalinya, mengumpulkan pecahan darah dan daging adalah hal kesia-siaan.


Jangan mengulangi kesalahan kedua kalinya. Rasa kasih sayang berlebihan menenggelamkan dirinya semakin tidak berdaya.


Mencoba memahami segala ketentuan nasib dan takdir. Dunia bagai kiamat terguncang hingga dia jatuh lemas tidak berdaya. Kumetra dan dayang kedua membopong tubuhnya ke atas kasur permadani. Kekuatan pembungkus pelapis kekuatan dua alam kuat dari luar menampakkan kejayaan Mangku buana menguasai setengah negeri daratan, laut utara dan para duyung.

__ADS_1


Menyimpan sisa tulang sang putri dengan segenap kekuatannya. Dia menyinari bola kehidupan bercampur dua dimensi alam yang berbeda.


“Semoga yang Mulia tidak menyesali keputusan ini__” ucap Suga sambil menunduk.


__ADS_2