Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 13


__ADS_3

“Kepala kasim, apakah kau sudah membunuh anak itu?” tanya sang raja.


“Ham_Hamba sudah menghabisi nyawanya yang mulia”


“Kenapa tubuh mu bergetar seperti itu? Apakah engkau sedang berdusta pada ku?”


“Tidak yang mulia, hanya saja hamba bergetar karena tidak pernah membunuh seorang bayi."


Sosok peran seorang ayah yang melebihi hewan sanggup melenyapkan anaknya. Dia merasa lega terbebas dari kutukan. Berpikir akan mempunyai anak lagi dari sang ratu, dia tertawa menatap langit. Siapa yang kan mengalahkan raja Wanua ubun? Hewan yang geger memiliki kekuatan tiada tara berapa di genggamannya.


Sesampainya di ruangan pribadi sang kasim, dia memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam terowongan raksasa yang terdapat di ruang bawah tanah. Sang kasim memberikan puluhan keping emas kepada sang penjaga pintu masuk. Puluhan keping emas yang menggiurkan sehingga sang penjaga membukakan pintu.


“Ingat waktu mu Cuma sepuluh menit” bisik sang pengawal.


Kedalamannya harus menuruni dua ribu anak tangga. Ada banyak sekali jebakan yang di pasang pada tiap dinding di dalam lorong yang gelap. Beberapa radius melompat di dalam ruangan berukuran kecil, sedikit lagi tubuhnya tertusuk pintu yang terbuat dari tanah yang bergerak terbuka dan tertutup. Sesampainya di sebuah tempat sangat besar. Nampak sebuah kandang yang di tutupi dengan kawat halus berduri. Sepasang bola mata besar menyorot memancarkan api yang sangat panas.


“Inikah hewan garuda itu?” gumamnya.


......................


“Bagaimana raja, dimana engkau menitipkan putri kecil kita? Tanya sang ratu Gendis.


“Tenang saja wahai ratu ku,dia sudah aku titipkan ke tempat yang aman.”


“Dimana itu? Bolehkah setiap hari bahkan setiap ada kesempatan melihatnya?”


“Tidak ratu ku, bayi Alundra sedang menjalani masa kutukan. Jika kita selalu menemuinya, maka kutukan akan semakin lama menghilang.”


Setiap sang ratu bertanya dimana sang bayi di titipkan, Raja selalu menghindar mencari kesibukan. Sang ratu Gendis mencoba mencari tau dimana sang bayi berada. Dia secara sembunyi-sembunyi mengutus beberapa orang kepercayaannya berpencar ke segala penjuru. Menurut kabar, seorang pengawal melihat sang bayi di bawa terakhir kali oleh sang kasim.

__ADS_1


“Dayang pendamping, cepat panggil ketua kasim untuk menemui ku di perbukitan bebatuan pada jam delapan tepat”


“Hamba akan segera menyampaikannya sang ratu.”


“Ingatlah jangan sampai ada satu orangpun yang mengetahuinya.”


Menuju ke tempat yang di tuju, sang kasim bersembunyi menunggu kehadiran sang ratu. Dia terkejut tepukan sang dayang mengagetkannya bersama wajah yang tepasang di hadapan menyorot cahaya lentera.


“Sang ratu dari tadi sudah menunggu di salah satu batu besar itu” ucap sang dayang.


Dia menemui sang ratu, di sisi lain pemikiran berpikir ulang apakah dia harus berkata jujur atau tidak dengannya. Dia tidak berani berkata jujur, semua pertanyaan yang di lontarkan sang ratu yang menanyakan sang bayi membuat dia tidak berkutik.


“Kasim cepat beritahu dimana anak ku? Aku tau engkau sedang berdusta”


“Ratu_ hamba hanya menjalankan tugas dari sang raja. Meninggalkannya di tengah hutan”


Dia tidak berani mengatakan apapun mengenai kenyataan yang sebenarnya. Mendengar hal yang mengejutkan, antara ingin bertanya langsung atau memendamnya sendiri. Dia berpikir ulang, sang raja yang sudah menipu hingga tega membuang anaknya sendiri.


“Arghh!”


Sampai sekarang pengawal itu tidak berani membuka mulutnya. Walau siksaan menyiksa mendekati kematiannya. Sang ratu tidak bisa berbuat apa-apa bahkan mengelak membuka suara kalau sang prajurit yang di siksa itu adalah utusan sang ratu Gendis. Hidup dan mati berpihak pada sang ratu meskipun sang ratu tidak menganggapnya.


“Para pasukan kaki tangan sang ratu satu persatu di lenyapkan oleh sang raja. Bahkan belum sempat dia terjun langsung ke dalam hutan, dayang pendamping sudah terbunuh di depan pintu gerbang istana.


“Mayat dayang Cang di temukan di depan gerbang istana.”


“ Para pengawal mengatakan bahwa dia di bunuh pasukan khusus sang raja.”


“Bukankan kah dia dayang yang paling dekat dengan sang ratu?”

__ADS_1


Pembicaraan para prajurit istana, rumit menerka mengenai kejanggalan yang terjadi di istana.


......................


Istana berkabung berita kematian sang putri mahkota, snang ratu tidak percaya akan apa yang dia dengar dari salah satu pasukan khusus sang raja yang sudah di suap dengan puluhan emas dan perak. Memastikan, mencari mayat anaknya walau di dalam hutan tidak bisa di pungkiri banyak hewan buas mengerikan.


“Sekalipun ada hewan yang menghabisinya pasti ada serpihan atau potongan jejak walau yang di temukan nanti hanya tulang anak ku saja” sang ratu membatin.


Dia pergi dengan panglima perang menggunakan kuda pribadi sang pengawal. Menuju ke area tengah hutan seperti informasinya. Tapi dia tidak menemukan jejak terakhir anaknya. Sang ratu menangis putus asa. Memikirkan, mencari cara agar anaknya di temukan, sang ratu Gendis menjadi sakit-sakitan. Keadaannya semakin memburuk hingga dia meninggal dunia tepat setelah sang raj sedang pergi berperang menyerang Mangkubuana.


“Yang mulia ratu, tolong kuatkan diri mu. Engkau harus bertahan demi kerajaan Wanua ubun” ucap sang ibu suri.


Setelah di mutasi jauh oleh sang raja, hal itu tidak akan merubah kedekatan antara ibu dan anak. Terlebih lagi mendengar putrinya sedang sakit keras. Di sampingnya, ibu suri menangis tidak henti melihat kedaan ratu Gendis sangat lemah. Bola mata sudah naik ke atas, jari tangan bergetar di genggam sang ratu.


“Gendis!” teriak ibu suri.


Sang ratu wafat tepat setelah sang raja kembali ke istana. Dia masih memakai baju zirah yang berlumur darah sambil membawa pedang berlari memasuki kamar kebesaran. Dia menekuk lutut seakan tidka percaya sang rati meninggalkannya selama-lamanya.


“Raja, apakah engkau puas dengan semua ini? kau yang menciptakan bencana pada dua negeri. Kau telah di butakan oleh kekuasaan dan ketamakan. Kau tidak akan pernah bisa hidup tenang atau Berjaya setelah banyak merampas kehidupan orang-orang yang tidak berdosa!” bentak sang ibu suri.


Srughhh__


Ibu suri menusuk perutnya sendiri meregang nyawa sambil memeluk jasad sang ratu. Raja Tumenggung tidak berhasil menghalangi pedang yang secara tiba-tiba menghunus ke perut sang ratu.


Dubragh (Suara dobrakan pintu)


“Ibu suri!” teriak dayang pendamping.


Mendengar kegaduhan dari dalam sang pengawal ibu suri masuk melihat sang raja memegang pedang yang tertusuk di perut ibu suri Wanua ubun itu.

__ADS_1


“Raja, engkau telah membunuhnya! Bersiaplah engkau menghadapi kematian mu!” bentak sang pengawal mengarahkan pedang ke hadapannya.


“Hiyyaaaa!”


__ADS_2