Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 23


__ADS_3

Air mata sang putri menetes tiada henti. Kebiasaan yang tidak pernah berubah, lebih dari satu jam menangis sampai hatinya benar-benar lega. Kumetra sangat sabar menunggu hingga dia mau membuka suara kembali. Biasanya yang bisa menenangkannya adalah siluman gagak. Alundra ingat bahwa siluman itu masih tertinggal di istana.


“Kumetra, ayo kita jemput siluman gagak. Dia masih disana kan?”


“Tuan putri, siluman gagak sedang menjalankan misi rahasia kerajaan. Dia akan pulang dalam kurun waktu yang sangat lama”


“Kenapa dia tidak meminta ijin pada ku? Atau mengucapkan kata perpisahan. Semuanya seolah menghindari dan membenciku! Hiks!”


Dayang kedua berusaha menghibur mengenakan kostum siluman gagak. Kelakuannya itu semakin membuatnya menangis. “Sudah lah putri, baju ku ini sudah bisa di peras”


“Kumetra, dayang kedua. Hanya kalian berdua yang mau berbicara dengan ku di dalam istana ini. Kenapa kalian tidak seperti mereka?”


“Putri, kami sangat menyayangi mu__”


Bermain bersama para siluman di luar istana mengubah wajah sang putri yang tadinya muram. Dia berlari mengejar para siluman kelinci hingga naik ke atas pohon sesepuh. Cahaya kilauan di dalam langit yang gelap menerangi langkahnya.


“Putri, ayo kita ke istana. Ratu berpesan agar jangan keluar istana di malam hari” ucap dayang Kumetra.


“Apa bedanya malam dan siang? Langit tetap terlihat gelap tertutup benteng raksasa”


“Putri tolong jangan buat kami kena hukuman sang ratu” kata dayang kedua.


Di dalam ruangan kebesaran kedua dayang hanya berani tidur di atas karpet permadani. Alundra ikut berada di antara mereka sambil menatap langit. Dia menanti kepulangan sang ratu, langkah perlahan duduk di tepi jendela. Teriakan suara merintih dari istana bagian barat. Sang putri berlari mencari sumber suara itu. Menuruni istana, berpindah melewati lorong panjang, membuka setiap ruangan. Salah satu pintu berwarna hitam terkunci dari dalam terdengar sangat jelas.


“Hello, apakah ada orang di dalam?” teriak sang putri.


Dia mengetuk pintu, ketukannya di balas lebih keras hingga sang putri menghentakkan tubuh ke belakang. Tidak ada para prajurit atau dayang yang berlalu lalang. Api obor seperti tertiup angin, tiba-tiba pintu terbuka lebar memperlihatkan lorong panjang yang berjejer lilin-lilin raksasa.


Suara teriakan berganti panggilan memanggil namanya. Sang putri masuk ke dalam, pintu terbanting tertutup dan seluruh lilin padam.

__ADS_1


“Argghh! Ibu!” teriaknya.


Sosok makhluk mengerikan berada di belakangnya. Dia mengeluarkan lendir menyentuh tubuh sang putri hingga menggigit pergelangan tangan tepat di urat nadinya. Makhluk jelmaan iblis yang bersekutu di dalam ilmu sang ratu. Kutukan yang di berikan membuat makhluk itu mengincarnya.


Brughh__ Kreekk_krekek__


Pintu yang terbuat dari besi dan baja itu hancur. Sang ratu mengangkat tubuh Alundra menggunakan sihir gulungan air laut pergi menuju ruangan kebesarannya.


“Berikan anak itu pada ku!” teriak suara makhluk tersebut.


Semua ini salah siapa? Bagaimana cara menghentikannya? Dia tidak mau ALundra terancam setiap waktu. Luka di pergelangan tangan masih terbalut mantra penyembuh.


Alundra tidur di pangkuannya, sesekali ujung mata mengalir air matanya. Jika tau begini dia harus lebih awal mengetahui siapa bayi yang akan dia kutuk itu. Ratu berstatus jahat berubah menjadi peri baik setiap hari mencari cara bagaimana menyelamatkan sang putri.


“Aku akan selalu melindungi mu” gumamnya.


......................


“Aku baru saja kembali dari masa perang. Informasi dari mu membuat ku tidak percaya, kalau kau mau mengad-ngada sebaiknya ganti lelucon ini sedikit lebih lucu” ucapnya sambil meneguk anggur merah.


Dia menunjukkan simbol pengenal kerajaan Wanua Ubun yang terjatuh dari kantung sang putri. Dia pun tersedak tidak tahan mengusap tenggorokannya.


“Cepat buang tanda pengenal kebesaran itu sebelum kau di tuduh sebagai penghianat! Aku semakin khawatir kerajaan ini jadi sorotan negeri lain jika mengetahui rahasia besar Mangkubuana”


Sang perdana menteri keamanan memikirkan cara mengusir sang putri dari istana. Sebagai menteri angkatan tertua di masa pemerintahan raja keenam, dia sangat takut negeri Mangkubuana menjadi hancur.


“Aku akan pergi mencari Garuda, setelah sekian lama hewan leluhur kita di curi si Tumenggung. Entah dimana dia menyembunyikannya. Aku yakin sekali dia di Wanua Ubun”


“Bagaimana jika pendapat mu salah?”

__ADS_1


“Aku sudah bertanya pada peramal yang tanpa sengaja aku temui di dalam hutan. Dia juga berpesan seorang wanita muda yang tidak lain adalah putri harus segera keluar dari wilayah ini agar tidak terkena kutukannya”


Suntikan pikiran jahat dari si wanita tua yang hampir di bunuh ratu Diajeng menimbulkan bencana baru di dalam kerajaan itu. Pagi-pagi sekali istana kacau bahkan dua dayang pendamping di beri hukuman penggal kepala karena sudah meracuni sang putri. Gelas pecah dari tangan, air yang tumpah berwarna hitam mengeluarkan aroma amis.


Akhir-akhir ini emosi sang ratu tidak bisa di kendalikan. Dia merasakan lagi aka nada bahaya yang akan mengintai Alundra.


“Ibu..” Alundra memeluknya.


“Tidurlah makhluk kecil”


“Ibu kenapa engkau tidak pernah memanggilku dengan sebutan anak?”


Keluh lidahnya untuk fasih memanggil Alundra dengan sebutan anak. Dia adalah darah daging dari pasangan raja tumenggung dan ratu Wanua Ubun, bagaimana dengan mudah dia memanggil anak musuhnya dengan sebutan anak pula?


“Ibu sangat mengantuk ALundra..”


Setelah pertempuran hebat waktu itu, Alundra masih sangat tidak mempercayai si raja jahat yang akan membunuhnya adalah ayah kandungnya. Terlebih lagi sikap sang ratu sangat menyayanginya, dia masih mempertanyakan jawaban keganjilan negeri Mangkubuana dan Wanua ubun.


Tidur di samping ratu ilmu hitam, seekor binatang melata merayap di badannya. Alundra terbangun menghentakkan tubuhnya. Hewan berbulu hitam yang mirip kaki seribu berukuran besar itu masuk ke mulutnya.


“Akkhh, arghh!”


Alundra melotot kesakitan merasa makhluk itu menjelajahi organ tubuhnya di saat berhenti mengisapnya dia tidak bisa menggerakkan rahang minta tolong. Ratu Diajeng terbangun merasakan ada yang tidak beres dengan sang putri.


“Ada apa dengan mu makhluk kecil? Kenapa kau melotot seperti itu? katakan pada ku, apa yang mengganggu mu?”


Dia memutar tongkat, kekuatan sihir kilatan hitam masuk ke tubuh sang putri. Makhluk di dalamnya tertarik keluar, seketika Alundra mengeluarkan muntahan darah belatung. Dia menangis kesakitan, tenggorokan sangat panas bagai di bakar api. Kutukan menjalar menyiksa tepat di bawah bulan purnama sang ratu menusuk ke lima jemarinya dengan jarum lalu meneteskan darah ke dalam sebuah mangkuk yang berisi air.


“Habiskan minuman ini!” desaknya dengan mengerutkan dahi.

__ADS_1


“Tidak bisa ibu, aku tidak bisa menelannya. Panas! Hiks!”


Sang ratu memaksa tetap meminumnya. Dia menggunakan sihir menahan tangannya saat akan menolak. Sang putri merintih kesakitan.


__ADS_2