
Sedikit lagi tubuh bayi Alundra hancur berkeping-keping jika siluman burung gagak tidak segera menangkapnya. Sayap sang siluman patah akibat menyelamatkan anak itu. Dia kesakitan tidak bisa bergerak menahan tubuh sang bayi. Dua dayang yang di tugaskan menjaga sang bayi tidak datang ke dalam ruangan sang ratu.
“Kemana perginya Kumetra dan dayang kedua?” tanya sang ratu.
“Lapor yang mulia, hamba mendapat berita dari para pengawal bahwa sejak tadi pagi kedua dayang itu pergi ke tabib istana, sebagai penggantinya adalah dayang ketiga dan ursa” jawab sang Suga.
“Cepat panggil mereka!”
Kedua dayang itu berlari, di tengah perjalanan sebelum masuk ke dalam ruangan berhenti mengusap wajah mereka yang baru bangun tidur. Mereka juga merapikan pakaian yang kusut, mengatur nafas melangkah kaki memasuki ruangan.
“Hormat kami menghadap yang mulia” ucap kedua dayang itu serempak.
“Pengawal, cepat patahkan kedua kaki mereka!” bentak sang ratu.
Dayang ketiga dan Ursa ketakutan setengah mati sampai memberturkan kepala mereka ke kaki sang ratu. Dia menampar keduanya, tanpa meminta penjelasan sang ratu mengetahui kedua dayang itu membiarkan sang putri.
“Mohon ampuni kami wahai ratu! Hiks” teriak mereka sangat ketakutan.
Pengawal istana mematahkan kaki keduanya, dayang ketiga dan ursa menjerit kesakitan. Rasa sakit yang tidak tertahankan membuat dayang Ursa pingsan.
“Cepat pergi sebelum kehilangan kedua kaki kalian!” bentak sang ratu.
Siluman burung gagak disembuhkan oleh sang ratu menggunakan mantra dari batu mustika hitam. Pelahan dia mengepakkan sayap terbang kembali. Sementara kedua dayang yang terluka di buang oleh sang ratu. Mereka di usir dari istana Karena sudah mencelakakan putri Alundra.
“Sesayang itu kah sang ratu padanya?”
“Anak terkutuk itu memang benar membawa sial!”
__ADS_1
Ucapana kedua dayang di dalam kereta kuda. Kedua kaki mereka telah patah, dayang Kumentra merasa kasihan memberikan sebuah dayang pendamping untuk mengurus mereka. Permintaan maaf dayang kedua dan Kumetra pada sang ratu karena sudah meninggalkan sang putri.
“Mohon ampun dan maaf kami yang mulia” ucap dayang kedua.
“ Ratu, maaf kami meninggalkan tugas. Hamba siap menerima hukuman” kata Kumetra.
“Hukuman kalian tinggal bersama sang putri hingga dia tumbuh dewasa.”
Mendengar titah sang ratu, keduanya tersenyum lebar. Dengan senang hati keduanya membereskan barang-barang sampai lupa berpamitan pada sang ratu. Entah apa yang ada di benak mereka hingga sangat senang menjaga putri Alundra.
“Siapa kalian?” tanya siluman kelinci Kila.
“Kami di tugaskan ratu tinggal disini untuk menjaga putri” jawab dayang kedua.
“Apa? Sekarang beban kita semakin bertambah. Sangat sulit menjadi bahan pangan juga keperluan lainnya di tengah hutan” ucap siluman kelinci Priti.
Tidur beralas tikar tidak mengurangi semangat kedua dayang untuk bangun malam mengganti popok dan memberikan susu hangat pada sang bayi. Ayunan itu selalu di ayun secara bergantian. Hingga suatu hari si pemilik rumah datang merampas haknya. Semua siluman dan kedua dayang di usir. Hanya bayi Alundra yang sudah siap dia panggang di dalam perapian.
”Celakalah kita jika terjadi sesuatu pada sang ratu” kata siluman kelinci.
“Cepat kita laporkan ke istana!” ucap dayang Ursa.
Sang ratu tidak ada di singgahsana, sang siluman burung gagak memanggil para kawanan burung gagak menyerbu si wanita tua. Pisau tajam yang berada di tangannya terlepas. Tubuhnya di cakar para kawanan burung sehingga si wanita tua berlari keluar.
Tangis bayi Alundra merasakan sakit karena bagian telapak kakinya terkena api.
Siluman burung gagak meluapkan semua amarahnya pada si wanita tua. “Tolong jangan bunuh aku! Aku berjanji tidak akan datang kesini lagi” ucap si wanita tua.
__ADS_1
Dia belari dengan menyeret kakinya yang kesakitan. Siluman burung gagak terbang membawa sang bayi ke dalam istana. Dia mencari sang ratu namun tidak terlihat dimanapun. Sang bayi di letakkan di kasur sang ratu, dia memanggil tabib istana untuk mengobatinya.
“Lukanya sangat serius, kemungkinan di akan cacat dan tidak bisa berjalan lagi” ucap sang tabib.
“Tolong usahakan coba obati sekali lagi” ucap sang siluman.
Di dalam istana, selain sang ratu yang tidak ada juga penjaga istana dan Suga. Dia terkejut mendengar suara aneh di atas langit-langit kamar sang ratu. Sekujur bulu kuduknya merinding, sang tabib bergetar menunjuk sosok yang berdiri di belakang siluman gagak.
“Ha_ha_hantu!” teriaknya meninggalkan peralatannya berlari keluar ruangan.
Pintu, jendela terbuka tutup. Lantai berlumuran darah, teriakan mengerikan membuat sakit telinga sang siluman. Merasa di dalam ruangan tidak aman, dia menggengdong bayi Alundra yang masih menangis mengepak sayap keluar dari jendela. Namun seluruh jendela terkunci begitu pula pintu ruangan sang ratu.
“Apa yang terjadi?” gumamnya.
Sosok hitam besar melayang menembus dinding. Jari jemari panjang menarik tubuh sang bayi. Siluman gagak menahan tubuh sang bayi. Tarik menarik, memperbutkannya sampai sang ratu tiba semua keadaan kembali seperti semula. Ilmunya sendiri yang memerangi kutukan di dalam tubuh si bayi. Sang ratu mengayunkan tongkat. Dia sangat cemas melihat luka di kaki bayi Alundra tidak sembuh meski dia sudah menggunakan sihirnya.
“Ratu, bagaimana ini? lukanya tidak sembuh juga” ucap siluman gagak.
Tanpa menjawab sang ratu membawa sang bayi terbang ke lautan lepas. Siluman gagak mengikutinya , dia melihat sang ratu menggendong bayi Alundra di tengah laut. Dia berdiri di pusara laut menggulung ombak raksasa. Halilintar, petir, awan hitam seolah di bangkitkan dari kekuatannya. Tubuh sang bayi Alundra terbang ke atas, dia di hujani mantra yang di keluarkan oleh sang ratu. Semula sang siluman berpikir bayi itu akan di bunuh. Bayi Alundra terbungkus cahaya bulatan hitam. Dia di tenggelamkan di dasar lautan lalu naik kembali ke permukaan.
Mengeluarkan seluruh kekuatan, sang ratu berhasil menyembuhkan luka bakar di kaki sang bayi. Dia menggendong sang bayi memperhatikan bekas bakaran di telapak kaki kiri tidak hilang.
“Makhluk kecil, apakah kutukan untuk mu sudah mulai berjalan?” ucap sang ratu menatap mata sang bayi.
“Sungguh sampai sekarang aku masih berpikir kenapa tidak bisa melenyapkan mu malah semakin menyayangi mu” tambahnya.
Malam panjang ini di hadiahkan menjaga sang putri di kamar kebesaraannya. Hanya ada sang ratu dan putri Alundra memenggam lengan baju sang ratu erat. Dia tidak mau membangunkan sang bayi, menyihir tongkatnya berpindah sendiri di ujung ruangan. Sang ratu menyelimuti bayi mungil itu dengan selimutnya. Siluman gagak memperhatikan keduanya dari jendela. Dia bingung melihat perubahan sikap sang ratu pada sang putri.
__ADS_1
“Apakah sekarang sang putri menjadi anak angkatnya?” gumam siluman.