Darah Di Tanah Leluhur

Darah Di Tanah Leluhur
Bab 27


__ADS_3

Pangeran Edward memaksa menerobos masuk ke dalam gerbang. Siluman kelinci menjelma menjadi manusia berwujud prajurit menyerang mereka dengan brutal. Sang pangeran dan para prajuritnya terkulai parah. Siluman kelinci mengeluarkan giginya yang beracun. Dia tidak berkutik, teriakannya terdengar oleh sang putri yang sedang berkeliling istana mencari sang ratu.


“Lepaskan dia siluman kelinci! “ ucap putri Alundra.


“Putri! Dia berusaha masuk ke dalam gerbang istana.”


“Maafkan saja sang putri. Arrgh!” ucap sang pangeran kesakitan.


“Jatuhkan pedang kalian!”


Di dalam pertarungan jika menjatuhkan perdang merupakan tanda dari kekalahan atau menyerah mengibarkan bendera putih. Siluman kelinci memberikan obat penawar racun dari ramuan pohon sesepuh cahaya hutan. Obat mujarab itu menyembuhkan lukanya. Pangeran Edward berencana akan mengelabui sang putri dengan menarik ulur hatinya. Menahan amarah pada kerajaan Mangkubuana yang membunuh raja Tirex beserta pasukannya. Terlebih lagi kematian sang raja sangat tragis, kepala putung sang raja menjadi titik awal kebencian dendam kesumat penghuni Brahma menginginkan Mangkubuana segera hancur.


Di pikiran raja Edward, seorang gadis yang di buang kedua orang tuanya terkesan licik karena bisa menduduki posisi sebagai putri mahkota.


“Wahai tuan putri. Jika aku kembali kesini lagi, apakah engkau mau bertemu kembali dengan ku?” tanya sang pangeran.


“Tidak, ibu ku pasti tidak akan mengijinkannya. Sebaiknya engkau jangan pernah kesini lagi”


“Kenapa? Putri awas!”


Brugh ( Dahan pohon terjatuh).


Sang pangeran mendorong sang putri hingga keduanya terjatuh saling bertatapan. Sejak saat itu perasaan sang putri tidak menentu, berdebar kencang, tersenyu sendiri menatap langit. Pertemuan dengan sang pangeran terasa berbeda. Pangeran Edward mengirimkan surat, menerbangkan merpati putih ke kerajaan Mangkubuana.


...⛈️⛈️⛈️...


Petikan teruntuk sang putri Alundra.

__ADS_1


Sedang rindu ini berlebihan membawa angin menerbangkan patahan sayap rindu ku tertinggal di genggaman. Buaian ku dalam jejak hamparan lautan membentang lepas menunggu sambutan tangan mu.


^^^#Ku merindu.^^^


^^^#Pangeran Edward^^^


...⛈️⛈️⛈️...


Serpihan sajak itu di tulis di atas daun lontar raksasa yang berwarna kuning keemasan.


Dayang Kumetra melirik isi dari surat ikut tersenyum sendiri. Hari terlewati, sang putri menunggu surat-surat racun cinta itu dari sang pangeran. Seperti biasa dayang Kumetra tergopoh-gopoh berlari membawanya. Surat yang belum mendapat balasan dari sang putri membuat sang pangeran semakin penasaran.


“Apa yang kau rencanakan? Aku tau engkau membencinya. Kiriman surat itu pasti hanya jebakan dari mu saja kan?” tanya raja Julian.


“Ya benar, jadi jangan campuri urusan ku”


“Tutup mulut mu, kerajaan kita di porak-porandakan. Ayah meninggal di tangan ratu Buana, setengah prajurit binasa dan rakyat menderita. Kenapa kau masih saja membelanya?”


“Kakak, sedikit saja engkau meneteskan air matanya maka aku akan menghabisi mu”


......................


Kecurigaan Suga melihat gerak-gerik Kumetra mondar-mandir di depan pintu sang putri. Di tangannya ada sebuah surat dari merpati yang dia intai saat merpati itu terbang ke asalnya. Hewan itu bertengger di kerajaan Brahma. Sang dayang ditarik paksa untuk di introgasi di ruang peradilan.Surat terakhir dari sang pangeran Edward. Kata rayuan yang hampir sama darinya ketika sang raja Tumenggung menaruh cinta palsu di hatinya. Sang putri bukanlah anak kandungnya tapi dia melihat takdir yang sama sepertinya.


Mencintai itu ibarat meneguk air perasan buah pare berbotol-botol. Menelan pil racun pahit membunuh organ di dalam urat-urat halus sampai ke nadi. Ternyata jika di ibaratkan kehidupan para pelaut yang berlabuh di banyak dermaga. Seyogyanya bertemu dengan kuncup bunga indah bermekaran menyilaukan mata. Orang-orang yang tidak tahan godaan menyalurkan permainan cinta dan harapan palsu seolah dirinya adalah sang raja.


“Dayang Kumetra cepat beritahu semuanya pada sang ratu”ucap Suga.

__ADS_1


Sang dayang Ketakutan berpikir jawaban apa yang harus di katakan pada sang ratu. Nyawanya pasti akan melayang kalau berbohong juga akan tetap di hukum sangat berat karena sudah andil di dalamnya. Sekarang yang terlintas di benak bagaimana caranya sang putri tidak terkena amukan ratu Diajeng.


“Maafkan hamba yang mulia. Ini semua salah hamba karerna tidak mengingatkan sang putri. Hamba sanggyp menerima hukuman”


Sang dayang membenturkan kepala di hadapannya. Darah membasahi seluruh wajahnya. Putri Akundra masuk mendekati sang dayang menarik tangannya untuk berdiri. Tanpa sepatah kata sang putri membawa sang dayang pergi di tahan oleh Suga dan penjaga istana.


“Tuan putri, tolong jangan menentang sang ratu.Kumtera akan menerima hukuman lebih berat lagi” ucap Suga.


“Jangan halangi aku Suga. Aku bukan lah tuan putri Mangkubuana. Ibu sudah tidak menyayangiku lagi, bahkan dia tidak pernah memanggil ku dengan sebutan anak.”


Sang putri memawa Kumetra kembali ke kamarnya. Dia meminta dayang kedua mengurusnya. Sang putri yang meninggalkan ruang peradilan begitu saja semula akan di tahan namun sang ratu meminta Suga dan penjaga istana melepaskan mereka.


Pada sore hari berselimut hawa dingin, gerimis di tengah senja memperlihatkan langkah kepergian sang putri keluar dari istana. Dia tidak menembus jalur hutan. Gerakan larinya sangat cepat, tidak ingin ada satu siluman melihatnya. Sang putri tidak membawa barang-barang apapun, dia sangat kecewa dengan sang ratu di dalam tangis menghalangi pandangan kepergiaannya.


“Kemana aku harus pergi? Semua orang tidak menerimaku. Aku si Alundra yang terkutuk. Siapa yang mengutuk ku sehingga aku sangat menderita seperti ini?”


Di dalam ruang peradilan sang ratu tidak menghalangi apapun yang di kerjakan para punggawanya. Pikirannya bercabang mengetahui sang perdana menteri perairan, hakim dan lainnya menulis dekrit penurunan tahta sang putri serta sekte baru sepeninggal Pak poh.


“Ratu, apakah sang putri tidak segera kita kejar?” tanya sang pangeran.


“Aku sendiri yang akan membawanya pulang.”


Siapun yang berkhianat akan di habisi. Suga memberi pernyaan bahwa para penghianat sudah tidak bernafas di perbatasan kerajaan. Jasad mereka di biarkan begitu saja tanpa penghargaan dan tidak di kubur secara layak atau terhormat. Arwah bergentayang mengeluarkan suara aneh di kerjaan Brahma. Kematian yang tidak di inginkan menuntut ingin di hidup kembali. Merasuki jiwa yang masih hidup, kekacauan di kerajaan Brahma memperlihatkan prajurit kesurupan bertingkah tidak wajar.


“Kedudukan singgahsana masih sepi. Kedua pangeran memperebutkan hati sang putri Alundra. Bagaimana kerajaan ini bisa tegak mendapatkan perlindungan dari sang raja pilihan?” tanya penasehat kerajaan.


“Aku kenal sekali sang raja Edward mengangkat pedang yang di sayap di telapak tangannya . Konon darah yang menyatu dengan si pemilik akan membentuk kekuatan baru di ikuti para makhluk tidak kasat mata.”

__ADS_1


“Maksud mu, apakah dia bersekutu dengan maklukh halus atau sebangsa jin lainnya? Kerajaan ini akan mengalami kutukan kalau ada simbol hitam. Sesepuh Brahma tidak akan menyetujui hal ini” ucap para punggawa di Aula kerajaan.


__ADS_2